Ada Apa di Kilometer Nol Indonesia Saat Hari Kemerdekaan?

21

Salah satu travel bucket list saya adalah menjelajah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Hampir semua provinsi sudah saya jelajahi, termasuk letak Merauke berada, Papua. Namun, masih ada satu tempat yang belum saya jelajahi: Titik nol kilometer Indonesia di Sabang!

Dari dulu, saya ingin sekali ke provinsi ini. Beberapa kali ada kesempatan, selalu saja ada urusan lain yang menghalangi. Bukan jodoh kali, ya? *eh

Namun jodoh memang tak ke mana (lagi-lagi jodoh), tepat menjelang momen kemerdekaan Indonesia ini, saya punya “surprise” dan kesempatan untuk menyambangi provinsi yang dijuluki Serambi Mekah ini!

Tiket pesawat ke Aceh memang cukup mahal. Untuk mensiasatinya, ada beberapa cara. Yang pertama adalah beli tiket pesawat ke Medan, kemudian lanjutkan perjalanan melewati jalur darat dengan bus menuju Aceh.

Cara kedua sedikit tidak nasionalis. Kamu bisa tiket ke Kuala Lumpur, kemudian lanjutkan penerbangan ke Aceh. Bisa lebih murah, apalagi kalau sedang promo. Meskipun begitu, waktu transitnya terkadang terlalu lama.

Oke, saya pakai cara yang paling mudah. Yaitu membeli tiket airline full-service yang punya penerbangan langsung Jakarta – Banda Aceh. Ya dong, kalau ada uangnya untuk apa bikin repot diri sendiri?

Nanti saya kasih tahu deh, cerita saya rajin “menabung” dan kesampaian beli tiket ke Aceh!

Sabar, jangan langsung di-scroll ke bawah…

Saya mau cerita dulu tentang kunjungan singkat ke Aceh ini!

masjid baiturahman

Banda Aceh adalah kota yang terus berbenah, apalagi setelah bencana alam Tsunami tahun 2004 silam yang membuat kota ini hampir tak berbekas.

Sekarang, Aceh sudah punya bus terintegrasi seperti TransJakarta, namanya Trans Koetaradja. Bahkan dari Bandara sampai ke tengah kota, bus ini sudah tersedia. Sayangnya, kita harus keluar bandara dan berjalan kaki beberapa ratus meter dulu untuk menuju halte. Kayaknya sih, supaya tak terlalu menggeser pasar para taksi dan rental mobil.

Untungnya, ongkosnya masih gratis! Lumayan saya bisa menghemat ongkos taksi bandara seharga 100 ribu rupiah untuk sampai di tengah kota. Karena masih masa percobaan dan promo, jadinya warga bisa merasakan langsung nyamannya Trans Koetaradja ini.  

Perhentian pertama saya adalah Masjid Baiturrahman. Kebetulan sekali halte Trans Koetaradja tepat berada di depan pintu gerbang masjid megah ini.

Masjid Baiturahman di siang hari.

Aceh adalah kota yang mayoritas warganya adalah Muslim. Hukum syariat Islam pun ditegakkan dengan kuat di wilayah ini.

Beberapa kali, ada turis “bandel” yang masih memakai pakaian yang tidak sesuai dengan tata krama di tempat peribadatan. Namun, pasti akan langsung ditegur oleh warga Aceh yang sedang sholat di sana. Seharusnya, kita sebagai turis harus bisa menghargai budaya setempat, bukan?

Saya berdecak kagum dengan keindahan arsitektur Baiturrahman yang dibangun pada abad ke-16 ini. Masjid ini adalah saksi sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan para penjajah. Beberapa kali, masjid ini dicoba dihancurkan dan dibangun kembali. Namun saat ini, ia tetap berdiri tegap sebagai salah satu masjid kebanggaan Indonesia.  

Masjid ini sedang direnovasi saat saya bertandang ke sana. Saya lihat, bentuknya dipercantik menjadi mirip seperti Masjid Nabawi di Madinah. Namun, saya agak menyayangkan konstruksi marmer di lantai halaman masjid. Memang secara visual sangat mengagumkan, tapi sangat membahayakan untuk keselamatan para pengunjung. Saya hampir terpeleset di lantai ini karena adanya genangan air. Hati-hati jika kamu sedang berjalan di sana.

Nama-nama korban yang diukir di dalam ruangan berbentuk sumur

Tak jauh dari Masjid Baiturrahman, saya beranjak ke Museum Tsunami. Tak begitu jauh, hanya sekitar 10 menit saja berjalan kaki. Arsitektur museum yang diancang oleh Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung saat ini (2017) ini memang mengundang decak kagum.  

Saat memasuki museum, bulu kuduk saya merinding! Saya melewati lorong yang gelap dan sempit di antara dinding air yang tinggi. Percikan air sedikit membasahi wajah saya. Suara menggema yang muncul samar lama-kelamaan menjadi lantunan kalimat tauhid. Desain ruang ini memang dirancang untuk mengingatkan kembali suasana saat Tsunami lalu.

Dan. saya harus kasih tahu kamu satu hal penting! Setiap sudut di museum ini sangat Instagram-able!

Interior Museum Tsunami

Sebelum menyeberang ke Sabang di Pulau Weh, saya menyempatkan untuk mampir ke kedai kopi. Selain Belitung, Aceh juga terkenal dengan julukan “kota seribu satu warung kopi”. Sepanjang jalan, saya menemukan banyak warung kopi, mulai dari yang tradisional hingga yang buka 24 jam plus Wi-Fi.

Pilihan saya jatuh kepada Warung Kopi Kubra. Kubra ada singkatan dari Kupi Beurawe. Kupi adalah kopi dalam bahasa Aceh, sedangkan Beurawe adalah nama daerah tempat warung kopi ini. Kubra adalah satu warung kopi legendaris di Banda Aceh. Uniknya, warung kopi ini sudah buka dari sejak subuh lho!

Warung kopi kubra di pagi hari, penuh hingga keluar kedai.

Pelanggannya kebanyakan bapak-bapak yang habis sholat subuh di masjid. Mereka menyerup kopi sebentar sambil menunggu untuk bersiap kembali ke rumah dan berangkat kerja. Warung kopi ini sudah tutup pada sore hari sebelum waktu shalat Magrib

Kopi yang disajikan adalah Kopi Robusta, jenis kopi kesukaan saya yang rasanya tak terlalu asam. Kopi ini cocok dinikmati saat pagi hari. Selain kopi, ada juga camilan yang bisa jadi sarapan untuk memulai hari.

Saya pun beranjak ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyeberang ke Sabang. Terdapat pilihan akomodasi berupa kapal cepat dan kapal lambat. Untuk kapal cepat, hanya memakan waktu 45 menit dengan ongkos 100 ribu rupiah (kelas VIP), sedangkan untuk kapal lambat atau feri, biasa harganya sekitar 25 ribu rupiah per penumpang.

Saya memilih melaju dengan kapal cepat karena keterbatasan waktu. Lagipula, saya tak membawa kendaraan yang mengharuskan saya naik kapal feri. Hari itu angin sangat kencang, saya sudah diberi tahu oleh kawan bahwa kapal seringkali tak jadi berangkat karena cuaca buruk. Aceh ini memang terletak di wilayah yang terkena angin barat maupun angin timur, jadi wajar sering mengalami “angin ribut”.

Jangan lewatkan Mie Aceh kalau lagi di Aceh!

Tips: Kalau tak mau ambil risiko, kamu juga bisa ambil pesawat dari Medan untuk langsung mendarat di Sabang, ya.

Oh ya, bicara tentang tiket pesawat ke Aceh yang relatif mahal sebelumnya, saya dapat tiket gratis ini dengan cara menukarkan poin di program Loyalty Points yang ada di Traveloka App. Kok bisa?

Ya, bisa. Tapi, poin-poin yang saya tukar dengan tiket pesawat mahal itu bukan tiba-tiba muncul! Jadi, setiap saya membeli tiket pesawat atau pesan hotel di Traveloka App, saya mendapatkan semacam rewards berupa poin. Poin ini sengaja saya kumpulkan untuk nantinya ditukar dengan tiket pesawat ke destinasi impian: Aceh!

“Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Itulah pribahasa yang menggambarkan usaha saya mendapatkan tiket gratis dengan hanya mengandalkan poin (Alhamdulillah!)

Hal lain yang membuat saya keep going untuk mengumpulkan Loyalty Points ini karena cara redeem tiket maupun pesan hotel yang gampang banget. Coba sendiri deh langkah-langkahnya di bawah ini:

  • Gunakan aplikasi Traveloka dan pesan tiket pesawat, hotel, maupun paket pesawat + hotel  seperti biasa
  • Pastikan kamu terdaftar sebagai member di Traveloka App ya, karena kamu tak akan dapat poin juga belum memiliki akun
  • Sampai di bagian pembayaran, pilih salah satu metode pembayaran (saya pilih CIMB Clicks saat itu), lalu tinggal aktifkan pilihan untuk membayar dengan poin
  • Jika poin kamu kurang untuk redeem, kamu bisa membayar kekurangannya dengan metode pembayaran lain yang kamu pilih
  • Untuk informasi lengkap tentang penggunaan Loyalty Points bisa kamu lihat di sini.
Menukar poin traveloka dengan tiket Jakarta – Aceh

Mudah, bukan? Menurut saya, program ini benar-benar menguntungkan. Sering traveling dengan beli tiket dan hotel di aplikasi ini, sama sekali tak bikin saya rugi. Sebaliknya, saya jadi bisa #TravelTerus dan merealisasikan satu mimpi saya ke Sabang.

Eh, kelupaan belum lanjut bahas Sabang. Oke, lanjut!

Sesampainya di Pulau Weh, banyak sepeda motor yang bisa kamu sewa. Tarifnya sekitar 100 ribu untuk digunakan selama 24 jam. Menurut saya, ini adalah cara paling efektif untuk menjelajah pulau. Dari Pelabuhan Balohan ke penginapan saya di Pantai Iboih sekitar 27 km atau sekitar 40 menit berkendara. Sementara itu, dari Iboih, hanya sekitar delapan kilometer saja dari destinasi utama saya kali ini: Titik nol kilometer Indonesia.

Penginapan saya di Iboih

Di Pulau Weh, suasananya santai sekali. Bukan cuma itu, udara segar (masih bebas polusi), pantai-pantainya bagus, dan akses jalanan juga mulus. Pokoknya, cocok banget untuk tempat melepas penat. Sungguh tak banyak yang saya lakukan di sini selain duduk bersantai di penginapan saya yang menghadap ke laut.

Banyak pantai di Pulau Weh, salah satunya adalah Pantai Sumur Tiga ini.

Namun, saya harus menuntaskan misi saya: Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia di titik nol kilometer! Jalanan membelah hutan lindung Pulau Weh yang berkelok, saya lalui dengan sepeda motor. Saya sama sekali tak berpapasan dengan pengendara lain. Sepi, Padahal ini hari libur.

Tak sampai sepuluh menit memacu motor dari Pantai Iboih, saya sudah berada di titik nol kilometer Indonesia.

Tugu nol kilometer sedang dalam pembangunan. Jadi, “dia”  belum bisa diajak berfoto. Hanya ada huruf-huruf besar berwarna merah yang bertuliskan “KILOMETER 0 INDONESIA” yang menandakan tempat ini.

Tugu km.0 Indonesia yang sedang dibangun

Tempatnya berada di atas tebing. Konturnya mirip seperti tebing Uluwatu di Bali. Angin sungguh kencang sampai saya harus menapakkan kaki lebih tegap agar tak terdorong angin.

Tujuh belas Agustus dua ribu tujuh belas, pukul delapan pagi itu akhirnya saya mencapai titik kilometer Indonesia.  Tak ramai orang di sana, mungkin tak sampai sepuluh orang termasuk saya, monyet-monyet ganas (hati-hati, mereka bisa mengejar kita kita kalau merasa terganggu) dan pedagang gorengan di warung tenda kecil.

Langit mulai gelap, saya sudah memutuskan untuk pulang untuk mengejar boat kembali ke Banda Aceh. Tiba-tiba, sekitar belasan orang dari komunitas motor datang dan memulai upacara bendera. Saya ikut masuk ke barisan dan memberikan hormat ke bendera merah putih sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hati saya bergetar saat itu.

Hujan mulai turun, tapi merah putih terus berkibar. Sambil sedikit merenung hal-hal yang belum bisa saya perbuat untuk tanah air ini, mata saya jadi sedikit berair (bukan cengeng!). Semoga titik nol kilometer ini menjadi titik awal saya untuk memulai perjalanan-perjalanan lainnya di masa mendatang.

Terima kasih dan selamat Hari Kemerdekaan! Ayo, berlomba-lomba memberikan kontribusi untuk negeri kita tercinta ini dari hal-hal kecil. Sudahkah kamu melakukannya?

Terima kasih!

21 COMMENTS

  1. Wah. Baru tau soal marmer di Baiturrahman. Cakep ya.. Hahaha.

    Saya tiga kali ke Aceh, tiga-tiganya untuk urusan kerja. Termasuk ke Pulau Weh. Sedikit bisa nikmatin jalan-jalan sih walau kurang pas karena ga maksimal. Tapi, sesibuk apa pun pasti saya selalu nyempetin nangkring di kedai kopi di sana. Suasananya otentik dan asik 👌

  2. Pembangunan masjidnya masih belum selesai ya? Pas gue ke sana bulan Februari kemarin, katanya bakal selesai pada bulan Juli. Btw, pisang goreng di Titik Nol gimana? rapuh seperti perasaan lo nggak? Hahahaha

  3. Wih pake poin Traveloka aahahaa mantep emang dah punya saya baru 2000an huahaha mesti semangat nabung poin lagi XD

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')