Vakum dua tahun mendaki membuat nyali saya sedikit ciut. Rasanya kaki ini mungkin sudah tak sanggup lagi untuk melangkah ke ketinggian.

Tapi tunggu dulu, pendakian saya ke Gunung Agung tahun 2016 silam itu saya berhasil sampai puncak loh, walaupun dengan susah payah, dengan berat badan 20 kg lebih berat daripada tahun 2018 ini.

Jadi harusnya sekarang bisa lebih lincah. Saya juga rutin olahraga walaupun cuma lari dan bersepeda, paling tidak saya merasa stamina masih terjaga.

Kalau yang belum baca ada sedikit cerita melangsing saya, coba mampir ke sini hehe.

Singkat cerita, ketika saya melihat ajakan kawan saya untuk mendaki merbabu di facebook, saya menyanggupinya. Lagipula semenjak melihat postingan blog kawan saya yang lain 2014 silam, saya sudah ingin sekali mampir di gunung yang punya sabana yang elok ini.

Pendakian kami rencanakan di tanggal 18 Agustus, karena di 17 Agustus sudah pasti ramai sekali orang yang mendaki.

Pose dulu mumpung masih seger ~

Rencana jalur yang kami pilih adalah lewat Selo. Sepertinya namanya, ini adalah jalur paling “selo”. Selo dalam bahasa jawa berarti santai atau luang.

Selo didaulat sebagai jalur termudah dan paling “selo”, jadi saya rasa cocok untuk saya yang baru saja mencoba naik gunung lagi.

Jalur alternatif lainnya adalah lewat Suwanting. Ini katanya jalur yang lebih susah, atau lebih “Suwinting”. *maksa* *abaikan*

Jalur dari basecamp menuju pos 1

Mobil yang kami kendarai tidak bisa masuk ke area basecamp. “Parkir penuh,” kata penjaganya. Jadi kami diminta naik ojek. Padahal kami cuma mau drop off aja kan tidak parkir. Tapi karena kami malas berdebat, jadilah saya naik ojek sambil membawa tas sebesar kulkas dua pintu ini.

Pukul 10.20 kami bertolak dari basecamp. Kami diberi arahan oleh petugas tentang kondisi pendakian, rute, dan tentunya tentang sampah.

Gunung di Indonesia sangat identik dengan sampah. Sampai ada bercandaan seperti ini, “Kalau kamu tersesat, cari saja sampah di jalur. Kalau ada, berarti itu jalur yang benar.”

Duh.

Pos 2 Merbabu

Dari basecamp ke pos 1 saya lalui dalam waktu sekitar satu jam. Jalan masih berupa hutan yang cukup rapat jadi adem.

Dari pos 1 ke pos 2 jalan mulai berdebu. Tanjakan sudah lumayan terjal dan pohon makin jarang terlihat. Sekitar jam 1 siang hari saya sampai di pos 2 dan makan siang.

Pos 3 Batu Tulis

“Mas yang dibawah tahan dulu mas!” kata seseorang di atas sana.

Saat menuju pos 3, saya dikagetkan dengan rombongan yang membawa seseorang dengan tandu. Mereka bergegas untuk turun ke bawah, nampaknya ia dalam keadaan darurat dan tidak bisa berjalan sendiri.

Tadinya saya sudah gemetaran, karena saya pikir itu jenazah. Tapi ternyata ia masih hidup, semua mukanya ditutupi agar tak terkena debu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan pendaki tersebut.

Dari Pos 3 bisa terlihat gunung merapi

Dari pos 3, merapi yang gagah sudah terlihat di kejauhan. Pos 3 ini juga adalah titik temu jalur selo dan jalur gancik.

Sedihnya, di pos 3 ini banyak sekali sampah terutama tissue basah. Mikir apa sih orang-orang yang buang sampah sembarangan ini?

Dari pos 3 ini kamu harus bersiap-siap, karena ada tanjakan yang bernama ‘tanjakan setan’.

Selamat sore dari Sabana 1

Sama seperti di Gunung Gede yang juga punya tanjakan bernama setan ini. Saking terjalnya tanjakan, kadang mulut kamu kelepasan dan bilang, “setan!”

Hihi!

sunset over sabana 1
warna pastel setelah sunset

Namun setelah tanjakan setan berakhir, siap-siap untuk menikmati Pos 4 : Sabana nomer satu yang begitu cantik!

Sudah lama saya tak melihat bunga edelweiss di padang sabana. Saya sampai kegirangan dan menggulingkan diri di rumput, sampai kawan saya bilang, “Awas ranjau…”

Kami mendirikan tenda di sini. Rencananya, besok pagi kami akan pergi ke puncak pagi-pagi sekali, kalau tidak malas.

Saya sebetulnya malas. Pengen santai-santai di sabana saja sambil menyuruput kopi saat matahari terbit. Tapi daripada saya jadi korban bully kawan saya, yasudah akhirnya saya ikut muncak.

Perjalanan dari Sabana 1 ke Puncak Merbabu terbilang mudah jika dibandingkan perjalanan antar pos-pos sebelumnya. Saya bahkan bisa sambil ngevlog. Mungkin karena tidak membawa tas besar dan jalur tidak berdebu seperti sebelumnya.

Sunrise di Sabana 1
jalur menuju puncak

Cukup dengan waktu dua jam saja, saya sudah sampai di Puncak Kenteng Songo. Ada beberapa puncak di Merbabu, tapi saya cukup satu saja yang paling tinggi.

So, menurut saya merbabu ini tak terlalu sulit untuk didaki. Yang perlu diperhatikan adalah bawa air yang cukup karena di jalur selo tak ada sumber air. Dua kali saat saya turun air minum saya diminta oleh pendaki yang nampaknya kurang siap.

Pendaki-pendaki ‘pemula’ ini terlihat dari gaya berpakaian mereka yang lebih mirip mau ke mall daripada ke gunung. Jadi kalau pengetahuan kamu tentang pendakian masih minim, coba belajar dulu jangan asal mendaki saja ya. Karena mendaki gunung ini resiko kehilangan nyawa cukup besar.

Jalur berdebu saat musim panas bikin sesak dada. Buat yang punya alergi debu mungkin tak terlalu saya sarankan untuk naik merbabu di musim kemarau ini.

Di tanjakan setan yang curam banyak tali pengaman yang copot. Talinya juga terlalu tipis. Ini cukup berbahaya apalagi saat turun.

Pesan saya, kemanapun kamu pergi, terutama di gunung; bawalah sampahmu sendiri. Gunung bukan tempat sampah!

Salam lestari :)

Eh, jangan lupa nonton vlognya dibawah ini ya!

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')