Apa bucket list travel kamu tahun ini? Kalau saya yang dari dulu belum kesampaian adalah keliling ASEAN!

Di trip ini tidak langsung ke semua negara di ASEAN sih, saya akan mencoba mengunjungi Thailand, Cambodia, dan Vietnam, dan Malaysia sekaligus. Dicicil sedikit-sedikit saja ya, karena memang waktu belum mengizinkan untuk berlama-lama.

Bus di bangkok

Trip kali ini pun saya khususkan untuk menikmati street photography. Jadi tak banyak daftar tempat-tempat turis yang akan saya kunjungi. Saya dan seorang kawan saya akan langsung turun ke jalanan untuk mencari adegan-adegan jalanan yang bisa diabadikan.

Selamat datang di Bangkok

Pesawat Air Asia QZ251 yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Don Mueang, Bangkok. Btw, terima kasih kepada Air Asia untuk tiketnya yang #BikinJadiNyata mimpi saya!

Bandara ini digunakan untuk penerbangan domestik dan internasional maskapai low cost seperti Air Asia. Keuntungan bandara ini adalah jalur imigrasi yang lebih sepi dibanding Suvarnabhumi. Teringat saya yang hampir ketinggalan pesawat gara-gara antrian imigrasi yang sangat panjang di Suvarnabhumi saat beberapa minggu lalu saya dari Thailand.

Untuk menuju tengah kota dari Don Muang tidak ada jalur kereta ARL (airport rail link) untuk menuju ke stasiun bts atau mrt terdekat. Selain taksi, transportasi umum yang bisa kita gunakan adalah bus yang menuju stasiun BTS Mo chit. Harganya 30 baht untuk sekali jalan.

Dari situ, kamu sudah bisa mudah kemana-mana karena sudah ada BTS (Bangkok Train System) atau MRT.

Ada sedikit drama di imigrasi don mueang. Kawan saya nampaknya tak sadar ia sedang antri di imigrasi yang tak boleh memotret. Ia sedang membuat instagram stories, saking excited-nya. Jadilah ia langsung diciduk dan dibawa ke ruang kantor imigrasi untuk di interogasi. Setelah cengar-cengir ditambah beribu alasan ke petugas imigrasi yang bahasa inggrisnya ancur dan mukanya jutek, kamipun dibiarkan keluar.

Memotret jalanan. Memotret peradaban.

Penginapan kami ada di Rachathewi. Karena lokasinya yang dekat masjid, makanan halal thailand bisa dengan mudah kamu temui disini. Orang-orang yang di sekitar masjid ini biasanya dari Thailand selatan

Sayangnya, apartemen saya ini agak horor. Nanti saya ceritakan ya..

Ini januari di Bangkok, matahari terbit jam 7 pagi, jadi ada sedikit waktu untuk berleyeh-leyeh di kasur sebelum kita berjalan-jalan keluar.

Pagi hari, keluar dari penginapan kami, kami langsung terpesona matahari pagi bangkok yang rasa-rasanya jauh lebih lembut daripada matahari kita yang tepat di khatulistiwa.

Pagi di Bangkok

Tapi saya anaknya morning person banget sih. Gatel rasanya pengen kena matahari pagi. Apalagi kalau foto di pagi hari itu kecenya bukan main.

Pagi ini saya cuma berjalan di sekitar Rachathewi dan Pratunam. Karena matahari terbit tak terhalang oleh gedung-gedung yang menghadap utara dan selatan. Keren abis.

Tak terasa beberapa jam saya memotret, berjalan kai dari Rachathewi menuju Pratunam, melewati Mall bernama platinum tempat ibuk-ibuk membeli koper kosong yang akan diisi  berlusin baju untuk dijual kembali di Tanah Abang maupun mangga dua.

Be happy

Masjid Darul Aman adalah salah satu masjid yang cukup besar di kota bangkok. Di sekitar sini banyak makanan halal. Rata-rata warga disini bisa berbahasa melayu sedikit-sedikit.

Saya berbincang dengan beberapa kawan muslim disini. Salah satunya adalah Pak Yakob, warga thailand yang rumahnya ada di dekat perbatasan Thailand – Malaysia.

“Bila ada masa nanti bisa jumpa bapak di Hat Yai, mesej saja di facebook,” katanya.

Setelah jumatan saya kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak karena panasnya bangkok benar-benar membuat peluh bercucuran.

Ups

“Wir lo lagi di Bangkok? Nginep dimana? Jalan bareng yuk!” kata Sefin, kawan saya yang rupanya sedang berada di Bangkok juga.

“Di hotel nganu nih, daerah Rachathewi.” jawab saya

“Ketemuan yuk? ”

“Yuk, gue mau ke Chinatown nih,”

Pas bertemu kawan saya yang rupanya sedang nebeng di salah satu tempat kawannya di Thailand ini, ia malah bilang,” Eh lo nginep di hotel nganu? Kata temen gue itu angker!

Si kampret.

Emang sih dari semalem udah ada rasa-rasa aneh di kamar. Cuma karena kecapekan, ya langsung molor aja. Tapi ya, kamar ini emang besar, bersih, luas, dan murah! Pokoknya dibawah harga hotel-hotel disebelahnya deh yang sekelas.

Malam hari, diatas pukul 11 malam, ada yang mengetuk pintu kamar saya. Saat kami buka tak ada orang. Saya pikir orang iseng.

Dua puluh menit kemudian, ada yang mengetuk lagi. Saya intip dari lubang intip, tak ada orang. Bulu kuduk mulai merinding.

Pintu pun terus diketuk, tak hanya pintu saya. Nampaknya ia mondar-mandir dan mengetuk pintu di seluruh lorong.

Baru berheti sekitar jam 2 malam. Jadilah tidur saya jadi tak enak.

Yasudahlah, mungkin dia mau kenalan sama orang ganteng kayak saya ini.

Ojek di chinatown. Mesra amat mb.

Balik lagi ke chinatown. Kami mencoba naik angkot sungai yang tersambung dengan BTS stasiun saphan taksin. Ada tourist boat dan boat untuk warga lokal biasa.

Turis boat harganya sangat mahal bisa 150 baht untuk sekai jalan. Sedangkan boat lokal hanya 30 baht sekali naik. Bedanya turis boat (bendera biru) hanya berhenti di tempat-tempat turis dan ada guide yang menjelaskan masing-masing lokasi, sedangkan boat lokal (bendera orange) berhenti di setiap pier station.

Warna warni merah disini menjelang senja dengan latar langit biru pekat sangat memanjakan mata. Street food pun berlimpah. Sayang, kebanyakan non-halal. Sehingga mb Sefin dengan teganya makan mie pakai babi di depan saya yang juga sudah keroncongan.

Chinatown

Dari chinatown, kami berjalan kaki menuju MBK center untuk makan di salah satu restoran halal. Tak jauh jaraknya hanya sekitar 15-20 menit berjalan. Tak ada taksi yang mau mengangkut kami karena macet yang luar biasa di malam sabtu.

Bangkok school girl

Keesokan harinya kami menjelajah daerah National Stadium, Siam, dan sekitarnya. Scene di tempat ini sangat urban. Cocok untuk street fotografi. Grafis yang rapih, bus berwarna-warni dengan macam-macam iklan berwajah manusia berbagai ekspresi, dan daerah yang agak tertutup atasnya dengan jembatan sehingga hawa panas tak begitu masuk.

Gaya dulu

Masih ingat gang kucing yang saya tulis di post sebelumnya? Saya kembali lagi kesana dan mencoba memotret lagi. Kali ini lebih ke mengeksplor ke dalam gang dan tanpa diduga saya menemukan sebuah masjid dan komunitas muslim yang ada di sekitarnya.

“Kami kebanyakan keturunan muslim Cambodia,” kata fatimah, salah seorang penjual sup mie daging sapi  yang saya makan sebagai sarapan.

Saya selalu suka masakan thailand yang memadukan asam, pedas, manis, dan herbal-herbal segar sehingga menambah nafsu makan. Untungnya, kalau traveling ke luar negeri saya lebih senang berjalan kaki kemana-mana sehingga mengkompensasi kalori yang masuk haha!

Good morning Bangkok

Di stasiun Siam, kami berbincang dengan sekelompok anak muda yang sedang duduk-duduk santai. Karena mereka rata-rata membawa kamera, nampaknya sih sama-sama photography enthusiast seperti saya. Mulanya saya berpikir mereka adalah orang thailand, namun ternyata mereka adalah turis Vietnam!

“We can meet again at Ho Chi Minh city, I’ll take you around,” katanya

Wow! Saya sudah mendapatkan teman orang ho chi minh city ( I prefer called it ‘Saigon’) yang bisa jadi guide lokal!

Anyway, Bangkok sangat menyenangkan. Orangnya bersahabat. Asal kita sopan, mereka tidak keberatan untuk tersenyum masuk frame kamera kita.

Seperti gadis yang saya temui di depan mall central world ini :3

Bangkok girl

Bersambung ke kota berikutnya : Siem Reap!

**VLOG bakal ditaruh disini, masih diedit. Sementara itu kamu bisa subscribe ke channel youtube saya biar langsung dapat notifikasi video baru!**

One Thai Tea per day really not enough.

 

15 COMMENTS

  1. Babang jadi ingat pengalaman ke pietnam nopember kemaren, nginap di hotel lapuk kamarnya gede banget dipannya aja ada 2 gede pula. Tengah malam ada yg ketuk2 dari luar pas dicek gak ada orang sama sekali 😂😂😂

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')