Kalau mendengar kata ombak pasti kita teringat laut. Tapi tahukah kamu bahwa sungai juga punya ombak? Sungai memiliki riak kecil seperti ombak, tapi memang tak terlalu terlihat.

Lain halnya dengan Bono, ombak di hilir Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau ini punya ombak yang tingginya mencapai 5 meter!

Dahulu, menyebut nama Bono ke masyarakat sekitar akan membuat bulu kuduk merinding. Bono diasosiasikan dengan hantu dengan wujud ombak tujuh lapis. Tak heran, ombak yang tempatnya tak biasa ini memang punya penampilan yang cukup mengerikan, warnanya pun agak cokelat karena bercampur lumpur.

Namun sekarang, Bono menjadi salah satu tenaga pembangkit tenaga listrik dan tentunya destinasi wisata!

Oleh para pehobi selancar (surfer), ombak di Bono adalah tantangan tersendiri. Namun buat para ibu-ibu di  Rumah Batik Andalan , Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan ini Bono adalah sumber inspirasi untuk membuat Batik.

Batik bono mempunyai warna-warni yang berani seperti batik pesisir Jawa. Tidak seperti batik keraton di Jogja atau solo dengan warna coklat monokrom yang klasik

Riau menciptakan batik kontemporer dengan motifnya sendiri seperti Bono ini. Ibu-ibu di Rumah batik andalan ini adalah penggagasnya. Sebelumnya, mereka tak tahu apa-apa tentang batik.

Namun, mulai tahun 2013, program community development dari APRIL Group yang bekerja sama dengan pemerintah daerah mulai mengajarkan pembuatan batik ke ibu-ibu ini sebagai alternatif pekerjaan selain bekerja di kebun.

Bahkan ibu-ibu ini diberangkatkan langsung ke kota yang memang ahlinya batik seperti pekalongan, solo, dan jogja!

Seperti Ibu Ni’mah, salah satu pembatik di rumah batik andalan. Sebelum jadi pembatik, dulunya ia bekerja sebagai buruh di salah satu kebun. Ia bekerja untuk membantu suaminya memenuhi ekonomi keluarga.

“Dahulu saya ikut suami kerja di kebun kelapa sawit. Bantu-bantu sebagai pengumpul brondolan (buah sawit yang jatuh alami ke tanah),” ujarnya.

Pertama kali belajar batik, ia betul-betul tak tahu apa-apa. Seperti halnya ibu-ibu yang lain. Karena Riau memang tak punya kebudayaan batik sejak awal. Ia memperhatikan kawan-kawannya setiap hari yang membatik, kadang juga membantu mewarnai. Baru tiga bula kemudian ia berani untuk mencoba.

“Batik tulis yang pertama kali saya buat langsung terjual seharga 400 ribu rupiah,” kenangnya bangga.

Dalam sehari, Ni’mah bisa menyelesaikan tiga buah batik cap. Jika batik tulis, ia butuh tiga Hari untuk menyelesaikan satu batik. Selain batik bono, ia juga menguasai motif batik akasia. Akasia adalah salah satu jenis pohon yang digunakan untuk bahan baku industri kertas.

Selain mendapat pelatihan community development dengan pergi langsung ke Pekalongan, ia juga menapat bantuan untuk mendapatkan bahan baku hingga marketing produk batiknya dari APRIL.

Saat ini, penghasilan beliau perbulan sudah melebihi UMR yang ia terima dahulu sebagai buruh kebun. Bahkan sudah bisa membeli rumah dan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

“Mudah-mudahan setelah bisa umrah ke tanah suci bersama keluarga,” ujarnya lagi.

Meskipun sulit membina para kaum Ibu ini untuk membatik, program community development APRIL group tak pernah berhenti untuk terus memotivasi agar batik ini bisa jadi ciri khas dari kabupaten Pelelawan, provinsi Riau.

Selain Rumah Batik Andalan, community development APRIL group juga  punya program Rumah Madu Andalan. Madu Sialang saat ini sudah langka karena berbagai sebab.

Produksi madu Sialang pun juga terus menurun sehingga tak ada pembeli tetap. Rumah Madu Andalan dibuat untuk menyalurkan hasil panen dengan harga jual yang kompetitif. Setelah itu Rumah Madu Andalan akan mengolah madu tersebut dan dikemas dengan nama “Foresbi”. Rumah madu andalan juga akan bertugas memasarkan dan menjual madu-madu tersebut.

Di sisi lingkungan, APRIL group menetapkan zero-burn policy. Tidak ada lagi hutan yang dibakar untuk membuka lahan. Semua menggunakan metode mekanik.

Namun tak semua Warga pemilik lahan paham. Jadi pada Juli 2015, APRIL meluncurkan program Desa Bebas Api untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai dampak buruk dari kebakaran lahan di wilayah Riau. Hal ini sangat penting demi pertanian yang sustainable.

Ada tiga tahap yang dilakukan APRIL untuk desa-desa yang rawan kebakaran. Yang pertama Masyarakat Peduli Api, yang kedua Desa Bebas Api, dan yang terakhir desa tangguh api.

Pada tahap Masyarakat Peduli Api, masyarakat masih diberikan konsep dan meningkatkan kesadaran bahaya api. Serta mengikis mitos seperti jika dibakar tanah akan jadi lebih subur.

Tahap kedua di Desa Bebas Api masyarakat diharap sudah mengadopsi kebijakan praktik pertanian tanpa bakar. Di tahap ini desa akan diberikan penghargaan jika sukses dalam mencapai target tidak ada kebakaran satupun dalam satu tahun.

Jika sudah lulus dan bertahan sebagai desa bebas api Selama dua tahun, desa akan berlanjut menjadi desa bebas api. Desa Bebas Api tidak lagi berkesempatan mendapat penghargaan atau hadiah. Tetapi mereka langsung terlibat dengan tim manajemen kebakaran APRIL yang lebih maju. Saat ini sudah ada sembilan Desa Bebas Api yang sudah berhasil.

Perusahaan tidak akan bisa beroperasi dengan baik apabila masyarakat di sekitarnya tidak dilibatkan secara langsung. Apalagi perusahaan seperti APRIL yang banyak sekali menyerap tenaga kerja. Selain punya andil besar dalam menjaga lingkungan, perusahaan juga harus bisa mengembangkan masyarakat seperti Ni’mah agar kehidupan bangsa menjadi lebih baik.

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')