Bertemu Orang Utan Liar di Taman Nasional Sebangau

31
Hutan Taman Nasional Sebangau
Hutan Taman Nasional Sebangau

“Cuma satu jam kok,” kata bang Tony, salah satu event organizer kami sambil, cengar-cengir seperti menyembunyikan sesuatu, membuat saya jadi curiga. Anehnya tidak ada yang protes termasuk saya. “Satu jam berjalan? Ah, Rinjani dan Semeru aja yang berhari-hari trekking bisa saya selesaikan, apalagi cuma trekking satu jam di dalam hutan?” batin saya. Sombong dan congkak seperti cumilebay. Jangan ditiru.

Setelah melaju dengan Terios selama kurang lebih 4 jam dari Palangkaraya, dengan kondisi jalan agak rusak dan sempit, akhirnya saya tiba di desa Bahun Bango, desa tempat dermaga dimana perahu menuju Taman Nasional Sebangau.

jalan ke sebangau
Perjalanan menuju TN sebangau yang penuh tantangan. Kabut asap, debu, dan jalan rusak serta sempit

Baiklah, setelah perjalanan 30 menit mengarungi Sungai Katingan yang lebarnya tak kurang dari panjang lapangan sepakbola, kami sampai di pintu gerbang Taman Nasional Sebangau, Desa Kruing. Setelah ini,  tim terios 7 wonders pun harus melanjutkan perjalanan dengan melangkah.

Iya, kami harus trekking yang-katanya-hanya-satu-jam-itu..

“Pada bawa senter, kan?” kata bang Tony lagi. Firasat saya mulai buruk.

Ternyata betul, setelah turun dari kapal, kami harus menyusuri dasar sungai beberapa ratus meter, dan masuk ke hutan gambut lebat sekitar empat koma lima kilometer selama kurang lebih tiga jam. Lama sekali? Iya, karena berjalan di hutan gambut tak semudah yang saya kira. Seperti berjalan di atas kasur pegas yang bolong-bolong. Salah sedikit, bisa terjeblos ke akar.

taman nasional sebangau kemarau
Trek ini harusnya sungai yang dalamnya 4-5 meter. Kayu-kayu itu adalah dasar sungai.
sebangau orang utan
Jalur di dalam hutan gambut TN. Sebangau

Kawan saya, Sefin, saya lihat sudah jatuh bangun di tanah gambut sebanyak 4 kali. Ia beralasan kakinya yang pendek susah untuk melangkahi akar-akar sebesar gaban ini. Harusnya, sekali jatuh lagi dia sudah dapat piring cantik.

Sebetulnya, kami tak perlu berjalan sejauh ini. Jika curah hujan sedang normal, sungai akan pasang dan tidak kering kerontang seperti saat kami lewati, sehingga perahu bisa masuk ke kawasan camp tempat para orang utan berada. Makanya, jika ingin kesini paling enak sekitar bulan Januari – Mei karena sungai sedang bisa dilewati perahu.

Hutan mulai gelap, kami masih belum sampai. Saya tak membawa senter, hanya mengandalkan senter dari handphone. Akar-akar semakin besar dan tanah semakin lapuk, membuat kaki kami makin lelah. Tak lama, akhirnya saya melihat sebuah jembatan kayu. Tertulis di sebuah pita kecil, “Camp. 50 meter,” rasanya mau sujud syukur.

orang utan sebangau
Capek gan nyari orang utan…

Setibanya di camp yang merupakan Visitor Center ini, kami disajikan semangka merah segar yang rasanya manis sekali. Rasa-rasanya, semangka ini adalah semangka paling manis sedunia. Raisa pun kalah.

Baju saya semua basah dengan keringat, pun teman-teman yang lain. Karena 26 dari 28 peserta terios 7 wonders adalah laki-laki, semua langsung bertelanjang dada untuk meredakan peluh. Entah, bagaimana perasaan dua orang wanita yang juga ada di tim kami. Mungkin mereka kegirangan.

***

Hari masih gelap saat para monyet ekor panjang mulai bangun. Meskipun jam baru menunjukkan pukul lima di pagi hari, riuh rendah suara satwa-satwa itu sudah mulai bersahut-sahutan. Siluet dahan-dahan pohon yang ditutupi kabut pagi — dan kabut asap — juga terlihat di pagi yang dingin itu. Itulah subuh yang syahdu namun semarak di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah.

Suasana kian riuh seiring langit yang semakin terang benderang dan kicauan burung-burung yang bersahutan. Tampaklah kemudian hamparan hutan dengan hawa nan sejuk. Walaupun kabut pagi tercampur dengan kabut asap akibat kebakaran hutan di kejauhan. Di Visitor Center atau Pusat Penelitian dan Informasi Kawasan Danau Punggualas, Desa Keruing, Kabupaten Katingan itu tim Terios 7 Wonders siap menjelajah Taman Nasional Sebangau.

visitor camp Taman nasional sebangau
Selamat pagi dari visitor center camp TN. Sebangau

Sebangau adalah salah satu taman nasional di Kalimantan tengah dengan luas hampir 600.000 arar, atau kira-kira seluas 8 kali kota Jakarta. Populasi orang utan disini diperkiran sekitar 6000 ekor. Taman nasional itu berada di tiga daerah, yakni Kota Palangkaraya serta Kabupaten Katingan dan Pulang Pisau. Sebangau menyimpan kekayaan hayati, baik flora maupun fauna.

Selain orangutan, Sebangau juga menjadi habitat antara lain bekantan, beruang madu, macan dahan, dan kucing hutan. Satwa yang paling memiliki daya tarik untuk diamati tentu saja orangutan. Namun disini bukanlah pusat rehabilitasi seperti Tanjung Puting, sehingga orang utan disini tentu adalah hewan liar.

sebangau visitor center
Visitor center punggulalas TN sebangau
Sebangauv visitor center
Tempat makan di dalam
Makannya sayur segar enak-enak banget! Ada satur rotan, jamur, daun singkong, dan sambel yang luar biasa!
Makannya sayur segar enak-enak banget! Ada satur rotan, jamur, daun singkong, dan sambel yang luar biasa!

Karena itu, kami berkunjung ke Keruing, desa tempat kamp penelitian orangutan berada. Bangunan Visitor Center tersebut dikelola oleh masyarakat setempat dan dibantu organisasi konservasi World Wide Fund (WWF). Setelah memasukkan barang-barang yang dibutuhkan ke dalam tas, kami pun siap menyusuri hutan.

Malam sebelumnya kami sempat berdiskusi dengan warga sekitar yang bekerja sama dengan WWF untuk mengurusi visitor center ini. Mereka pun mendata orang utan yang bisa ditemui untuk kepentingan riset. Masing-masing diberikan nama sesuai ciri-cirinya. Mereka hanya memantau dari jauh, agar orang utan tetap liar di habitatnya.

Perjalanan awalnya cukup mudah. Kita hanya menyusuri jembatan kayu yang dibangun di atas tanah gambut. Beberapa lubang nampak mengganggu kami, namun sangat jauh berbeda dengan trek semalam. Tapi, di tengah-tengah jalan tiba-tiba pemandu kami meninstruksikan rombongan untuk berhenti. Ia kemudian turun ke bawah, jembatan, mengobrol dengan handy talky berantena panjang seperti anggota ORARI, dan kemudian berkata sambil menunjuk ke dalam hutan yang jalan setapaknya pun tak terlihat, “Lewat sini.”

Jembatan kayu menuju visitor center. Namun kalau musim kemarau seperti say kesana, jangan berharap banyak.
Jembatan kayu menuju visitor center. Namun kalau musim kemarau seperti say kesana, jangan berharap banyak.

Oh tidak, belum kaki saya pulih setelah berjalan berkilo-kilo kemarin. Masa harus jalan lagi? Baiklah, anggap saja ini bagian dari petualangan . Kami pun masuk ke hutan yang sangat rapat. Mungkin sudah ama tak dikunjugi karena pemandu kami beberapa kali menebaskan goloknya untuk membuat jalan.

Setelah sekitar satu jam berjalan, seekor orangutan kecil terlihat berayun lincah menggenggam dahan-dahan. Ia menyambut saya dengan memonyongkan bibirnya. Sungguh lucu sehingga membuat saya tertawa. Hampir semua orang menengadahkan muka ke atas,  mengeluarkan kamera untuk mengabadikan momen yang amat berharga itu. Saya menggunakan lensa tele 300 mm, namun belum terlalu mampu menjangkau orang utan yang bertengger di atas pohon yang tingginya sekitar 30 meter itu. Ya, hutan disini punya pohon yang tinggi-tinggi!

Menunggu orang utan
Menunggu orang utan
Orang utan...ups, salah foto..
Orang utan…ups, salah foto..
orang utan lucuk
Anak orang utan lucuk!
orang utan sebangau
Kyaaaaa!
Ini makanan orang utan
Ini makanan orang utan

“Itu si Juliana, anaknya julia. Dia baru berumur tiga tahun,” kata Restu

Tentunya, kami tetap menjaga jarak yang aman dengan orangutan. Meski terlihat jenaka, kami harus tetap waspada karena perilaku orangutan tak bisa diduga. Bisa saja ia melempar ranting pohon dari atas — atau bahkan mengejar kita — jika ia merasa terganggu.

Sesaat kemudian, sosok serupa dengan ukuran sekitar empat kali lipatnya ikut menampakan diri. Itulah Julia, induk dari Juliana. Namun sayang, ia langsung berlompatan ke dahan pohon yang lainnya, dan kemudian menghilang bersama Juliana. Itu perjumpaan saya yang pertama dan terkahir dengan orang utan di hari itu.

Walapun tak cukup lama, namun saya sangat beruntug bisa melihat orang utan asli yang hidup di alam bebas.

Sampai bertemu lagi, saudara jauh!

Tapi, tunggu dulu….perjalanan pulang masih berjalan kaki tiga jam lagi menuju mobil terios yang diparkir di desa sana……. *pasang koyo di betis* (bersambung)

Ekspedisi Terios 7 Wonders ini adalah perjalanan media bersama Daihatsu. Semua opini adalah milik pribadi. Lihat tulisan lainnya dibawah ini.

  1. Menerobos Kabut Asap Kalimantan — Terios 7 Wonders
  2. Bertemu Orang Utan Liar di Taman Nasional Sebangau
  3. Monitor, Mari Makan Lontong Orari, Ganti! 
  4. 8 Blogger Kece yang Ikut Berpetualang Bersama di Borneo Wild Adventure 
  5. Bertemu Bekantan di Pulau Kaget, Monyet Ganteng Tapi Pemalu 
  6. 14 Tips Untuk Konvoi Perjalanan Darat Jarak Jauh dengan Mobil 
  7. Anggrek liar di Kalimantan, Masihkah Ada?
  8. PALIAT, Kuliner Nikmat Khas Tabalong!
  9. Kerbau Amuntai yang Punya Hobi Aneh : Berenang!
  10. Mengintip Penangkaran Buaya Teritip Balikpapan
  11. Potret Adat Dayak Kenyah di Desa Pampang, Samarinda
  12. Pohon Ulin Terbesar di Dunia Ada di Taman Nasional Kutai!
  13. Tak usah Ragu, Inilah 7 Alasan Mengapa Derawan Harus Jadi Destinasi Liburanmu Selanjutnya!
  14. 7 Pengalaman Menakjubkan Yang Kami Temui Selama Perjalanan ‘Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure’! (plus video perjalanan!)

31 COMMENTS

  1. bang Wira, keliatannya kurusan ya bang? duuuh berkah ya bang ngejar orang utannya? :D
    oh ya, satu lagi bang, nempel koyo di pantat kiri kanan itu obat ampuh untuk ngilangin pegal dan capek duduk loh bang.. cobain deh :D

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')