ekspedisi kapsul waktu
Ekspedisi Kapsul Waktu, Papua -- Tangannya gemetaran memegang mikrofon. Suaranya terdengar tegang, namun tetap terdengar tegap dengan logat khas indonesia timur. “Saya bermimpi…Papua Barat jadi merdeka……” anak itu mulai bicara. Suasana tiba-tiba sunyi. Tim ekspedisi dan dan para haridin terfokus pada anak laki-laki kurus tinggi berkulit hitam dan berambut keriting itu. “….merdeka dari kebodohan dan kemiskinan…., serta pendidikannya bisa sama dengan pulau-pulau...
Dari ujung Halmahera. Sampai tenggara jau. Katong semua basaudara. Pesawat milik Skuadron 4 C212 lepas landas dari bandara Sultan Babulah Ternate membawa tim ekspedisi kapsul waktu menuju provinsi selanjutnya : Maluku. Ada tujuh kru kapal di kapal militer buatan PT Dirgantara Indonesia ini. Pesawat bermesin twin turbopop ini bisa mengangkut 20 orang dengan kecepatan jelajah maksimum 150 knot. Jangan bayangkan pesawat yang sama...
Siang itu matahari malu-malu menunjukan sinarnya. Tiga mobil kami beranjak dari pantai Khalkote -- pusat dari kegiatan Festival Danau Sentani -- menuju sisi Sentani timur yang lain. Kami melipir punggungan bukit di tepi Danau Sentani. Dari atas bukit, Sentani lebih terlihat seperti teluk daripada danau saking luasnya. "Kita nanti ke Danau Emfotte dulu, baru menyebrang ke kampung Abar," kata om Andre...
Suara Tifa yang dipukul mengawali teriakan dan derap kaki tarian lincah yang membuat debu beterbangan. Matahari pantai wisata Khalkote rasa-rasanya ada di atas kepala, namun  tak menyurutkan para penari dan pengunjung Festival danau Sentani pagi itu. Tulisan besar "Budayaku, Sejahteraku" di atas panggung terlihat mengekspresikan dirinya dengan lantang. Mereka terus menari, sampai suara-suara teriakan lain dari beberapa ratus meter di laut sana...
Kebetulan piknik sebentar ke Raja Ampat dan fotonya asal jepret aja, karena emang lagi liburan aja sih hehe. Selamat menikmati dan mohon tahan air liurnya jangan sampai keluar ya :3 Foto darat by @wiranurmansyah with Ricoh GR & canon 5d ; Foto Underwater @MayangPurwanto with Olympus OM-D EM-5
"Macam kaki Jawa saja kau pakai sepatu segala," kata Saka, pemandu kami, kepada Rudi, pemandu kami yang lain. Sebetulnya pilihan alas kaki Rudi sudah sangat tepat. Karena kita akan mendaki sebuah gunung karang. Bebatuannya tajam, sangat berbahaya. Saya pun memakai sarung tangan agar tak terluka saat berpegangan di karang. Tak jauh berbeda seperti Wayag yang saya kunjungi tahun lalu, hanya memang...

Follow me on Social Media!

1,532FansLike
9,441FollowersFollow
3,983FollowersFollow
588SubscribersSubscribe