Kami baru mencapai kota Pare-Pare, kota kelahiran mantan presiden Pak Habibie pada pukul dua dini hari. Tim terios sudah merasa sangat lelah karena jalur trans sulawesi sangat tak bisa diprediksi. Longsor, jembatan rusak, hingga GPS yang kebingungan. Hari itu adalah hari idul adha, jadi saya memilih tak tidur agar tak kebablasan untuk sholat keesokan harinya. Pare-Pare adalah kota kecil di Sulawesi...
TARIAN ini dipentaskan oleh beberapa dara jelita pulau Tomia, salah satu pulau besar di Wakatobi, untuk menyambut para lelaki yang baru saja pulang dari perantauan. Disini para lelaki tersebut akan diajak menari, dan mereka berkesempatan untuk menentukan calon istrinya. Dimulai dengan gerakan lembah gemulai, kemudian seiring irama akan membentuk sebuah formasi burung layang-layang saat migrasi. Kemudian datanglah dua orang burung...
Masakan minahasa adalah salah satu ikon kuliner nusantara. Siapa tak kenal rica-rica? Rasa pedas yang mengiggit lidah dan membuat banjir peluh ini selalu memberikan kesegaran. Dekat dengan laut, menjadikan variasi kuliner Sulawesi Utara makin melimpah. Sebut saja cakalang garo rica, ikan Bobara bakar, marlin woku, dan kawan-kawannya. Di video singkat dibawah, saya mencicipi beberapa makanan khas minahasa di salah satu restoran manado...
Mereka menyebut dirinya orang laut. Lahir dan hidup semua bergantung dari lautan. Mereka tak punya daerah teritorial seperti suku lainnya. Seluruh pesisir Wakatobi - bahkan nusantara, adalah rumah mereka. Mereka benar-benar 'bangsa laut' KAMI naik sampan kecil bermesin robin untuk menyebrang ke salah satu perkampungan Bajo di Pulau Kaledupa. Laut begitu tenang, langit membiru, di kejauhan terlihat rumah-rumah panggung yang...
Saat tim Terios 7 wonders melewati kota Palu, kami sempat berhenti disini karena icon kota ini cukup membuat kami memincingkan mata. Kota ini dikelilingi oleh pegunungan yang langsung mencuram ke laut, dipercantik oleh Teluk Palu, dan dilengkapi dengan sungai panjang yang membelah kota. Kombinasi yang sangat memanjakan mata. Ditambah lagi dengan sebuah jembatan lengkung pertama berwarna kuning, rasa-rasanya kota ini...
Sambil berteriak mengangkat senjata, seorang panglima perang bermain-main dengan senjata yang ia gorokan ke leher sendiri. Ia mengerang, namun senjata itu seaakan tumpul, tak berbekas apapun di lehernya. Ia kemudian memerintahkan pasukannya untuk mengitari kami, menarikan pedang ke arah kami, dan puluhan tepuk tangan juga ikut melepas kepergian kami untuk mengitari pulau Sulawesi ini. Kepergian kami diiringi oleh Kabasaran, tarian perang...
Setelah bergeriliya selama sekitar 3000 km dari Manado hingga Kendari, akhirnya kami pun tiba di sudut Sulawesi Tenggara, kepulauan Wakatobi. Satu dari tujuh mobil terios diberangkatkan dengan kapal phinisi, 22 jam perjalanan dari Kendari. Sedangkan kami, tentu saja naik pesawat yang hanya memakan waktu setengah jam, hehe. Tahun 2012 saya sempat ke Wakatobi, juga mengunjungi pulau yang sama, Pulau Tomia. Tomia adalah...
p.s Underwater photo by my travelmate vindhya