Telaga Warna

Matahari belum muncul ketika bus yang saya tumpangi masuk ke kota Wonosobo. Saya terbangun karena teriakan kondektur yang mulai membangunkan para penumpangnya yang terlelap.

Bersih. Itu kesan pertama saya ketika memasuki kota ini. Sesampainya di terminal Wonosobo, rasa kagum saya bertambah karena terminal ini tidak nampak sampah dan bau pesing, berbeda dengan terminal di Bandung yang saya singgahi 9 jam sebelumnya.

Tidak heran kalau kota ini pernah mendapat penghargaan Adipura, penghargaan kota terbersih dari presiden,  dari tahun 2007 hingga 2011 berturut-turut.

Disinilah saya menunggu teman seperjalanan saya yang dari Jakarta. Tujuan kami sama : dataran tinggi Dieng.

Kami melanjutkan perjalanan ke Dieng menggunakan sebuah mini Bus. Hal yang menarik perhatian saya adalah kota ini nampak begitu ramah.

Bahkan sang kondektur bus-pun sangat ramah sekali terhadap penumpangnya.

Dieng mas? monggo-monggo“, sapa sang kondektur dengan logat jawa-nya yang kental. Mungkin saya agak aneh melihat hal tersebut karena terbiasa dengan tingkah laku kondektur kopaja di Ibukota.

Desa Tieng, masih dibawah kawasan dieng. Foto dari pos pemantauan
Pintu masuk kawasan Dieng

Perjalanan ke Dieng ternyata cukup membuat bus yang saya tumpangi kewalahan. Tanjakan yang lumayan terjal membuat bus terbatuk-batuk. Perbukitan ‘teletubies’ khas dataran tinggi dan kebun-kebun kentang yang indah menemani saya selama perjalanan.

Sesampainya di Dieng, rasa dingin mulai terasa. Tidak heran, ketinggian Dieng sudah mencapai 2000 meter lebih. Sebelum saya ke dieng saya berpikir sepertinya sangat menarik karena satu kecamatan tingginya sama dengan puncak tangkuban perahu.

Peta kawasan dieng

Telaga warna, adalah persinggahan pertama saya di Dieng. Konon, warna telaga di sini bisa berubah-ubah warnanya karena kalung seorang putri yang dibuang di Danau. Suasana danau sangat tenang di pagi hari, udara yang bersih dan sejuk membuat paru-paru saya berterima kasih.

Naiklah sedikit ke atas bukit, maka seluruh telaga dapat terlihat dengan jelas. Telaga warna sangat cocok untuk orang yang mencari ketenangan.

kawah sikidang

Bagi penggemar sejarah, dieng akan menjadi destinasi favorit. Banyak sekali candi-candi di sekitar kawan Dieng. Tetapi karena saya kurang begitu tertarik pada candi, saya hanya mengunjungi candi Arjuna buat foto-foto narsis.

Untuk penginapan, jangan tanya saya menginap dimana. Karena saya selalu membawa tenda jika memungkinkan. Lebih dekat dengan alam berarti bisa menikmati alam lebih leluasa.

Gunung sindoro dari bukit sikunir

Bukit sikunir menjadi tujuan kami, tetapi karena sudah terlalu sore dan kondisi hujan, kami hanya kemping di kaki bukit tepatnya di lapangan bola. Tempat ini cukup nyaman buat berkemah di Dieng karena datar dan ada toiletnya.

Ada sensasi tersendiri ketika melewati malam dengan berkemah di alam bebas. Terkadang ada rasa takut, namun ada gairah yang mengalahkan segalanya. Malam hari di alam bebas itu romantis, jika saya boleh bilang.

Tenda saya di bawah bukit sikunir. Foto by mas Fathurahman
Kawasan candi arjuna

Malam kami lewati, berharap ada bintang-bintang di angkasa yang muncul. Tapi apa daya cuaca akhir-akhir ini memang sedang galau. Kami pun hanya bisa sedikit bermain dalam tenda kemudian tidur untuk persiapan pendakian esok hari.

Setelah shalat subuh, kami langsung berangkat menuju puncak bukit sikunir. Titik tertinggi di Dieng ini memang spot yang sangat bagus untuk menikmati matahari terbit. Saya yang memang menggemari wisata sunrise sudah sangat tidak sabar untuk menikmati mathari terbit di Dieng.

Menunggu sunrise

Sesaat sebelum matahari terbit, saya sudah mencapai bukit sikunir. Sudah ada beberapa orang disana yang juga ikut menunggu aktraksi dari sang surya.

Dan…saya sangat beruntung pagi itu mendapatkan matahari yang sangat indah. Gunung Sindoro-sumbing menampakan pesonanya, di kejauhan terlihat gunung merapi, merbabu dan gunung slamet. Atap-atap pulau Jawa terlihat sangat eksotis dari puncak sikunir. Luar biasa.

Kawah sileri

Selain candi dan bukit sikunir, Dieng juga terkenal dengan banyaknya kawah aktif. Saat saya berada di kawah sikidang, banyak sekali bule yang sangat excited dengan kawah-kawah ini. Mungkin di negara asalnya dia tidak pernah melihat kawah hehe.

Mie ongklok

Satu lagi jangan lupa unuk mencicipi makanan khas dieng, mie ongklok. Mie ini disajikan dengan kubis dan kucai bersama kuah kental yang dibuat dari saripati singkong dicampur bumbu-bumbu lainnya. Mie ongklok juga selalu disajikan bersama sate sapi. Mie ini lumayan enak dan sepatutnya dicoba jika berkunjung ke Dieng.

Dieng adalah salah satu dari dataran tinggi di dunia selain dataran tinggi Tibet. Jika anda ingin menikmati suasana dataran tinggi, udara yang bersih, atau sekedar ingin menyusuri jejak sejarah. Dieng tidak akan menjadi pilihan yang salah.

 

11 COMMENTS

  1. Bagus blognya, boleh minta infonya mengenai pasang tenda di kaki bukit sikunir? itu ada perijininan dengan siapa? makasih

  2. Bangun tenda dipuncak sikunir sangat menyenangkan…
    Kereeeennn banget…..

    Kalo ada waktu saya mau kesana lagi :)

  3. mas minta info,kalau kemping di kawasan candi arjuna itu harus minta ijin kepada siapa ya ? trimakasih.

  4. saya kesana teman saya kedinginan namanya masa anugata semula dia naik motor setelah kedinginan minta pindah kemobil la… wong saya yang di mobil aja ndrodog…….waktu itu pas hujan deres ……..asale…….

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')