Kalau kamu mendengar kata ‘desa’ apa yang kamu pikirkan?

Sebagian besar orang langsung berimajinasi dengan sawah yang punya latar belakang hutan, sungai, dan gunung, ditambah ada burung-burung yang beterbangan. Seperti gambar yang kamu buat waktu diberi tugas menggambar bebas oleh guru sewaktu sekolah dasar.

Seperti itulah gambaran Kampung Kerujuk di Lombok Utara ini. Literally. Betul-betul pedesaan. Tak ada suara bising, warna didominasi hijau royo-royo, dan hembusan udara yang membuat paru-paru saya berterima kasih.

Kampung Ekowisata Kerujuk berada di desa Pemenang Barat, kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Lokasinya tak jauh dari Pelabuhan Bangsal tempat jika kamu menyebrang ke Gili Trawangan, hanya sekitar 15 menit saja berkendara dengan mobil.

Saya sangat senang dengan konsep ekowisata. Karena tidak hanya kita berwisata ke daerah yang masih alami. Tapi kita juga turut andil dalam melestarikan lingkungan dan kesejahteraan penduduk setempat.

Kampung Kerujuk biasa digunakan sebagai destinasi outbound. Banyak permainan disini yang bisa mengasah kebersamaan tim. Mulai dari yang permainan outbound yang konvensional seperti berjalan bakiak hingga permainan yang tradisional seperti Silong Tereng.

Selain itu, ngapain aja yang asyik disana ya?

Bermain di sawah, ikut membajak dengan kerbau, hingga menanam padi bersama para petani!

Sungguh tidak mudah mengendalikan tenaga kedua kerbau ini.

Kampung kerujuk memang dibangun dengan nilai-nilai tradisional. Jadi selain menggunakan traktor, masyarakat yang berprofesi sebagai petani juga masih ada yang menggunakan kerbau untuk membajak sawah.

Saya mencobanya sendiri. Dibantu si bapak petani, saya berhasil duduk di atas alat bajaknya. Kerbau dicolek sedikit dengan cambuk. Betulan dicolek aja loh ya, bukan di cambuk. Kedua kerbau pun bergerak ke depan.

Namun kerbau ini nampaknya hanya ingin makan. Ia selalu berbelok ke arah rumput. Padahal tadi pagi sudah makan sekarung rumput kata Pak Tani. Tapi ya namanya juga kerbau. Untuk membelokan kerbau saya harus menarik dengan kencang tali kendali ke sebelah kanan. Betul-betul tak mudah. Seperti membelokan truk 18 roda tanpa power steering!

Baru saja beberapa menit membajak sawah, saya sudah kecapekan. Padahal masih ada proses peghalusan tanah dan penyebaran bibit padi.

Jadi mari beristirahat dulu. Coffee break!

Kerbaunya juga ikut rumput break. :))

Cemilan ala pedesaan seperti ini pas banget untuk waktu ngemil, apalagi abis main di sawah.

Ada kacang rebus, ubi rebus, pisang goreng, dan satu lagi olahan ubi yang diisi oleh gula merah yang manis. Cocok ditemani secangkir kopi hangat.

Oh iya, kampung kerujuk ini juga terkenal dengan potensi perkebunannya. Biji kopi robusta tumbuh disini, diolah secara tradisional, lalu menjadi kopi yang saya minum saat coffee break ini. Jenis kopinya robusta karena masih ada di dataran rendah. Rasanya pahitnya sangat kuat dan rasa asamnya halus . Pokoknya saya senang sih asal bukan kopi instan haha!

“Pak, punya anak gadis yang belum nikah?” “Ada tuh, kerbau yang sebelah kiri mz….”
Bukan pengantin sunat…

Berkeliling Kampung Kerujuk dan dapatkan banyak spot foto instagram-able ala pedesaan

Kerujuk dalam bahasa Sasak artinya kepiting. Konon katanya, nama kampung kerujuk berasal dari banyaknya kerujuk yang dulu menempati daerah pinggiran sungai kampung ini. Kampung ini memang dibelah oleh sungai yang airnya cukup jernih. “Sungai ini bisa juga buat olahraga tubeing, bang,” kata Hirwan, staff Humas  Pokdarwis kampung kerujuk yang juga jadi pemandu saya selama disini.

Setelah ngopi dan bersantai sejenak, saya memutuskan untuk berkeliling kampung untuk mencari bahan untuk feed instagram saya yang sudah haus untuk diungah ini.

Ada kolam yang ikannya lucu-lucu banget seperti ini.
Jembatan dengan hiasan bambu di kiri kanannya
Jembatan gantung yang dibuat dari bambu
Saya setuju dengan papan yang paling bawah

Makin naik ke atas bukit, saya melewati perkebunan rambutan dan durian. Durian biasa jatuh di sore hingga malam hari. Karena masih menjelang siang, terpaksa agenda makan durian saya batalkan terlebih dahulu.

Namun selain rambutan ada satu buah yang menarik perhatian saya. Letaknya bukan di pohon, namun dibagian bawah dekat akar. Buah Renggak namanya. Buah liar yang banyak terpencar di hutan-hutan lombok yang dekat sungai.

Aroma buah renggak mirip seperti markisa. Teksturnya pun mirip markisa yang ada biji kecil diantara dagingnya. Rasanya asam dan segar. Namun ukurannya memang kecil jadi kamu harus memakan beberapa buah agar puas.

Buah renggak khas lombok
Jika mau, kamu bisa jalan-jalan keliling kampung ini dengan sepeda. Ada trek sepeda sepanjang 3 km yang bisa kamu jelajahi.
Ketemu sungai. Waktunya mandi!

Makan siang dengan menu rumahan yang ‘lombok’ sekali!

Kata orang lombok itu artinya adalah ‘cabai’. Namun sebetulnya  Kalau Pulau Lombok itu berasal dari bahasa Sansekerta. Kata Lomboq yang mana artinya ‘LURUS’, bukan cabai. Namun apapun itu, makanan di lombok itu memang relatif pedas!

Sebut saja kuliner ayam taliwang yang bisa membuat peluh bercucuran. Tak lupa Plecing kangkung dan sambal beberuk pun selalu hadir apapun menunya di setiap sajian makan.

Jika kamu mengambil paket untuk menginap di kampung seperti saya ini, kamu akan disuguhkan masakan yang sangat rumahan. Rasanya sungguh lezat, apalagi disantap di bale pinggir sawah dengan angin sepoi-sepoi.

Berani mencoba opak + plecing kangkung ini?

Arena Outbound bernuansa alami

Seperti yang saya bilang sebelumnya, kampung ini punya area khusus untuk kegiatan outbound. Saya mencoba beberapa permainan disini yang ternyata seru abis!

Dimulai dari Jembatan Bambu ini. Bentuk jembatannya cukup aneh. Tapakan kakinya berbentuk zig-zag. Kalau kita tidak pas melangkah di tengah, gantungan tali akan jadi tak seimbang sehingga kita bisa terdorong jatuh ke lumpur!

Apalagi jika sudah lebih dari dua orang di atas jembatan. Goyangannya jadi semakin parah. Jadi disini dituntut untuk selalu tenang dan melangkah di tengah-tengah jika ingin mencapai tujuan. Mantap.

Dibawahnya lumpur!
Tetap tenang dan melangkah
Ada beberapa level kesulitan jembatan bambu, ini termasuk yang tersulit!

Kemudian ada lagi jembatan yang hanya berupa titian bambu. Ini tentu paling sulit karena tak ada pegangannya. Namun demikan, jembatan ini juga bisa dilalui oleh dua orang sehingga jadi mempermudah untuk menyebrang.

Bermain bakiak
Flying fox
Hati-hati jatuh ke lumpur

Ada juga beberapa permainan tradisional lain yang bisa dicoba ataupun dijadikan permainan outbound. Yang paling menarik adalah permainan bernama Silong Tereng. Di permainan kita tim harus memasukan sebuah gelang ke dalam bambu dengan jarak yang sudah ditentukan.

Gelang ini tidak boleh dilempar. Jadi anggota tim harus menopang salah satu anggotanya agar tangannya bisa mencapai bambu. Ini cukup sulit dan cukup menantang kekuatan fisik. Tapi terlihat seru sekali!

Selain nuansa alam teduh yang kita bisa nikmati di Kampung Wisata Kerujuk, kamu juga bisa mengajak kawan-kawan kamu (atau membujuk bos kamu di kantor) untuk menikmati berbagai permainan outbound tradisional yang bisa mempererat hubungan antar individu dalam tim.

Buat saya pribadi, kunjungan ke kampung ini sangat membuat refresh pikiran. Jika kamu tinggal di kota-kota besar seperti saya, kunjungan ke kampung wisata kerujuk di lombok utara ini bisa jadi oase yang menyejukan.

Jadi kalau sedang berada di Lombok Utara, setelah dari Gili Trawangan atau Gunung Rinjani, kamu bisa membuat agenda untuk singgah sebentar ke Kampung Kerujuk ini.

Tonton juga versi vlog-nya di bawah ini!

Kontak Kampung Ekowisata Kerujuk

Hirwan (humas kelompok sadar wisata)
Kampung ekowisata kerujuk
Desa Pemenang Barat
Kecamatan Pemenang
Kab Lombok Utara
082341458128

6 COMMENTS

  1. Menyenangkaaaaaan bangeeet..
    Jauh dari hirupikuk kota, beberapa hari tinggal di desa sekedar menyegarkan otak dan tubuh. Bermain2 dengan penduduk setempat dan bisa bermain dengan sapi hehehe..
    Mas Wira kelihatan menikmati suasananya..
    Asik yaaa

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')