Horom Sasadu : Eat like a Boss!

4
Mempersiapkan atap sasadu
Mempersiapkan atap sasadu

“HAAAAAAAAAAAA,” seorang tetua berteriak keras sekali dan seketika ada tiga orang yang melompat ke atas atap. Mereka bersiap, mengambil ancang-ancang di setiap sisi dan tengah, dan membawa serta bambu panjang yang panjangnya sama dengan rumah tersebut.

Pandangan mata sang tetua terlihat tajam, tak bergeming, fokus ke atas atap rumah. Musik adat yang mirip gamelan – tetapi dengan dentuman yang cepat mengiringi ritual ini. Sang tetua menunjuk ke atas, dan berteriak sekali lagi. Tiga orang tersebut langsung melesat berlari ke atas atap. Bambu yang mereka bawa adalah sebuah puncak atap rumah ini, sasadu.  Penonton berteriak riuh karena melihat salah satu pemasang atap hampir tergelincir. Hap! Akhirnya atap pun terpasang , mengawali acara utama yang baru akan dimulai –  Horom Sasadu.

Upacara yang dilakukan oleh suku sahu di Halmahera barat ini digelar dua kali setahun, yaitu saat panen dan saat akan menanam kembali. Horom sasadu ini adalah pesta makan besar. Semua warga desa makan di satu atap rumah yang luas, makan hasil panen mereka sendiri. Konon, acara pesta ini dahulu diadakan selama sembilan hari sembilan malam. Namun, saat ini cukup semalam saja. Dan, saya merasa sangat beruntung bisa membantu mereka menghabiskan makanan malam itu.

Memasang atap sasadu
Memasang atap sasadu

Setelah atap terpasang, ada satu hal menarik yang dilakukan oleh suku sahu. Mereka mencuci tangannya sebelum pesta dimulai. Tidak dengan air biasa. Tapi air yang dicampur dengan bunga dari pohon pinang. Katanya sih, untuk mensucikan tangan mereka sebelum memulai musim tani kembali.

Ritual cuci tangan
Ritual cuci tangan

Sore hari menjelang pesta, para ibu sudah mempersiapkan masakan andalannya. Bau-bau rempah sudah masuk ke hidung saya. Perut sudah lapar, tapi saya harus tetap menunggu hingga malam hari. Saya berjalan-jalan di sekeliling desa dan melihat aktifitas mereka. Ada yang sedang menjemur pala, ada yang sedang menyuling cap tikus (zzz!), ada pula yang sedang berendam di sungai dekat desa ini –  yang airnya hangat karena memang letaknya di bawah gunung berapi.

Malam pun tiba, setelah mereka melakukan ritual doa terlebih dahulu, kami pun para tamu dipersilakan makan sepuasnya! Menunya sangat beragam, namun didominasi ikan. Inilah highlight menu makan malam buffet a la Jailolo!

Nasi Cala yang sedang dipersiapkan
Nasi Cala yang sedang dipersiapkan

Nasi Cala. Atau juga bisa disebut nasi kembar. Saya pikir ini nasi jaha, tetapi ternyata berbeda. Nasi jaha menggunakan beras ketan, sedang nasi Cala memang beras biasa. Nasi cala dibungkus menggunakan daun pisang, dibentuk silinder, dimasukan ke dalam bambu panjang. Dan kemudian dibakar! Nasinya menggumpal menjadi mirip lontong, dan baunya sangat nikmat bercampur dengan daun pisang.

Suku sahu jarang makan nasi disini karena cukup langka. Mereka hanya maka nasi di waktu-waktu tertentu saja. Kami sebagai tamu mendapat kehormatan untuk mencicipi nasi Cala khas mereka ini :)

Pisang mulut bebek. Jangan bayangkan pisang manis sebagai camilan atau makanan pendamping. Awalnya saya pikir pisang ini Pisang ini adalah pisang muda. Pisang ini direbus dengan santan, sehingga masih ada sisa-sisa rebusan santan. Dan makan pisang ini ditemani oleh ikan bakar…loh….? Dan juga sambal terasi..lahh? Ya, memang pisang mulut bebek disana bisa menggantikan nasi!

IMG_5947
All you can eat

Ikan Dabu-dabu manta. Bukan, bukan ikan pari manta yang terkenal di raja ampat itu yang berada di piring saya. Manta berarti mentah. Dabu-dabu adalah jenis sambal jailolo. Dabu-dabu adalah irisan kasar dari tomat, bawang merah, dan cabai. Diaduk rata dan dicampur sedikit kemangi dan perasan jeruk nipis. Ada juga sambal colo-colo. Bedanya, colo-colo bumbu tersebut akan ditumbuk menjadi sambal pada umumnya. Rasanya? Gurih ikan tongkol dicampur segarnya sambal membuat lidah tak berhenti mengunyah.

IMG_5962

Makan bersama
Makan bersama

Cap tikus. Sepertinya ini minuman wajib saat pesta adat. Saya muslim jadi tak bisa meminumnya. Tapi melihat reaksi teman saya yang mencobanya, terlihat memang kadar alkoholnya sangat tinggi. “Mirip vodka…..,” kata teman saya itu dengan mukanya yang memerah.

Masih banyak kuliner yang disajikan, yang saya juga tak tau apa namanya. Genderang terus bertabu mengiringi pesta malam itu. Semua orang tertawa dan horom sasadu pun sukses membuat lidah saya bergoyang sepanjang malam ~

 

4 COMMENTS

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')