Kalau Bukan Kitorang, Siapa Lagi?

13
ekspedisi kapsul waktu
Mobil ekspedisi kapsul waktu

Ekspedisi Kapsul Waktu, Papua — Tangannya gemetaran memegang mikrofon. Suaranya terdengar tegang, namun tetap terdengar tegap dengan logat khas indonesia timur.

“Saya bermimpi…Papua Barat jadi merdeka……” anak itu mulai bicara.

Suasana tiba-tiba sunyi. Tim ekspedisi dan dan para haridin terfokus pada anak laki-laki kurus tinggi berkulit hitam dan berambut keriting itu.

“….merdeka dari kebodohan dan kemiskinan…., serta pendidikannya bisa sama dengan pulau-pulau lain!” kata anak itu melanjutkan.

Para siswa yang ikut dalam sosialisasi gerakan kapsul di SMA 1 Manokwari spontan bersorak dan bertepuk tangan. Lega.

“Ada lagi yang ingin menyampaikan mimpinya?” tanya mas Viddy, salah seorang anggota ekspedisi kapsul waktu yang menjadi menjadi narasumber saat itu.

Tangan-tangan kecil itu langsung semangat mengangkat tangan.

Mereka masing-masing mengutarakan mimpinya tentang Papua Barat. Mimpi-mimpi anak sekolah ini sebagian besar sama: Ingin pendidikan yang lebih baik. Minimal setara dengan di Jawa.

“Torang ingin belajar komputer,” kata salah satu siswa SD.

Dodid, salah satu anggota tim ekspedisi EKW yang berasal dari Papua Barat — yang secara kebetulan juga betemu dengan guru sekolah dasarnya disini —  menyampaikan kepada para siswa untuk tidak hanya melihat Papua perspektif dalam. Tapi juga dari kacamata luar. Bepergianlah. Belajar di luar dan kembali untuk mengisi ruang-ruang di Papua. Jadilah kreatif. Kawal pemerintahan. Dan yang paling penting : Ayo kerja!

***

ekspedisi kapsul waktu
Bandar Udara Rendani kota Manokwari

Kapten Dika mendaratkan pesawat Casa C212 dengan apik di Bandara Rendani, Manokwari, Ibukota provinsi Papua Barat. Saat memarkirkan pesawat, terlihat dari jendela anak-anak Papua yang berbaris siap menyambut kami dengan tarian selamat datang Yaspen.

Kapsul diturunkan. Tim langsung disambut oleh Kapolda Papua Barat dan Wakil Gubernur Papua Barat. Tak lama, langsung dinaikan oleh paskibra ke atas atas mobil untuk diarak keliling kota Manokwari.

Iringan kapsul langsung membelah kota Manokwari. Posisi terdepan di belakang kawalan polisi ada beberapa mahasiswa Universitas Negeri Papua yang berjaket oranye menaiki motor. Mereka ikut membantu memeriahkan konvoi.

Dari Bandara Rendani Manokwari, rombongan melewati pesisir pantai Manokwari, melewati hutan lindung, hingga melewati pasar yang isinya durian dengan harga lima ribu rupiah sebuah. “Udaranya masih bersih sekali,” kata salah seorang anggota tim.

ekspedisi kapsul waktu
Manokwari = Duren murah. Harganya cuma 5rb – 20 rb tergantung ukuran.

Kapsul dibawa ke Pelabuhan Manokwari, dinaikan ke dalam speedboat milik dinas perhubungan dengan dua buah mesin berkekuatan 250 tenaga kuda. Kapal melaju kencang menuju pulau bersejarah titik awal tempat pertama kali Injil menyentuh Papua : Pulau Mansinam. Pada tahun 1855, disinilah dua orang orang penginjil asal Jerman dibantu oleh perahu layar kesultanan Tidore mendarat.

Di dermaga Mansinam, lagi-lagi tim disambut tarian yaspen untuk menyambut tim. Puluhan anak sekolah dasar juga berbaris rapi di kedua sisi jalan untuk menyambut kedatangan kapsul waktu. Tim disambut oleh kepala kampung dan langsung diangkut dengan mobil seperti ambulans yang bertuliskan “Puskesmas Keliling”.

“Dari pulau Mansinam ini, terbitlah peradaban untuk semua orang Papua. Dari pulau mansinam ini, terbitlah terang untuk orang Papua. Dan dengan hadirnya kapsul ini, semoga juga bisa menciptakan peradaban papua yang lebih terang!” kata Kabid Humas Pemprov Papua Barat pada sambutannya.

Beberapa anggota tim naik dengan motor untuk naik ke atas bukit yang terdapat patung kristus dengan tinggi seperti bangunan tiga lantai. Disini, kapsul didoakan dengan penuh khidmat. Seperti halnya di provinsi sebelumnya, kapsul selalu didoakan dengan cara dan keyakinan mayoritas di provinsi masing-masing. Sampai-sampai Viddy Supit, anggota tim ekspedisi kapsul waktu menjadi terbata-bata dan terisak menahan haru saat memberikan kata sambutan.

ekspedisi kapsul waktu
Di puncak bukit Mansinam

“Jangan lagi ada tangisan dan musibah di antara bumi Indonesia. Kami dari tanah Mansinam mengharapkan pada tahun-tahun mendatang jangan lagi ada tangisan di atas bumi Papua, jangan lagi ada pembantaian di atas tanah Papua, kami berharap ada perubahan yang baik di atas tanah Papua ini,” ujar kepala kampung mansinam.

Kami pun tak kuasa menahan haru.

Tak lama kemudian, tim dan rombongan kembali ke kota manokwari dan  makan siang di kantor gubenur lama tak jauh dari pelabuhan. Disana sudah ramai ratusan anak sekolah yang menunggu kapsul waktu. Ibu wakil gubernur memberikan sambutannya. Di tengah-tengah sambutan, ia memanggil perwakilan masing-masing anak sekolah di sekitar Manokwari ke depan panggung.

“Kamu punya bapa mama orang mana e?” tanya wakil gubernur Papua barat kepada salah satu anak Papua berambut lurus.

“Bapa saya Papua. Mama saya Bugis!” kata anak yang memakai seragam merah putih itu.

“Jadi tong ini anak Papua bukan?” wagub bertanya pada anak-anak lainnya.

“Iyaaaaaaaa,” jawab mereka serentak.

“Betul! Selain orang asli Papua, yang salah satu bapa atau mama atau mamanya Papua, atau yang sudah berkultur Papua, semua itu orang Papua menurut undang-undang!” kata wakil gubernur

“Entah masih ada anak keriting atau tidak di Papua tahun 2085 saat kapsul dibuka ya?” ujar wagub sambil tersenyum.

ekspedisi kapsul waktu
Ini semua anak papua asli, termasuk yang putih :)

Dengan ditambah bus-bus berisi anak sekolah, rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke kantor Gubernur baru di atas bukit. Pemandangan kota Manokwari setelah hujan terlihat sangat syahdu sore itu. Lapisan bukit-bukit yang bertumpuk seperti kue lapis dan samudera pasifik menjadi latar belakang gedung gubernur provinsi Papua barat yang megah ini.

Di sebelah podium inspektur upacara, ada sebuah panggung yang sudah siap dengan speaker-speaker besar beserta latar belakang panggung dengan tulisan “ PESTA RAKYAT: MENYAMBUT EKSPEDISI KAPSUL WAKTU 2085.” Ditambah lagi dengan tulisan daftar artis-artis dan penyanyi lokal yang akan menghibur masyarakat Manokwari.

ekspedisi kapsul waktu
Hotel Aston Manokwari tempat kami menginap

Tapi sebelum pesta rakyat, acara utama terlebih dahulu dimulai yaitu pembacaan mimpi-mimpi oleh anak Papua Barat. Gubernur menginstruksikan komandan upacara untuk mengistirahatkan pasukan. Satu persatu tujuh anak Papua masuk ke tengah lapangan dan membacakan mimpi-mimpi mereka.

“Kami anak bangsa dari provinsi Papua barat bermimpi masyarakat Papua barat dapat hidup dalam suasana penuh damai, cinta kasih, serta saling menghargai tanpa kekerasan, intimidasi, dan teror dengan menanggalkan kepentingan suku, agama, ras dan antar golongan,” anak pertama membaca mimpinya dengan lantang.

Satu persatu mimpi dibacakan. Setelah mimpi ketujuh, Gubernur Papua Barat Abraham Oktavianus Atururi turun untuk menandatangani mimpi ini. Ia tak kuasa menahan tangis. Mungkin amanah dari mimpi-mimpi ini terlalu berat untuk dijalankan. Namun begitu, ini adalah harapan warga Papua Barat yang telah ditulis, dan harus dikerjakan.

“Kalau bukan sekarang kapan lagi, dan kalau bukan kitorang siapa lagi!” Gubernur menutup sambutannya yang disambut riuh tepuk tangan.

Pasukan dibubarkan. Lampu panggung dinyalakan dan MC keluar panggung dan memulai pesta rakyat.

“Pawang hujan sudah bekerja. Mari kita pesta dari terang sampai gelap sampai terang lagi! Mitha akan menghipnotis kalian semua!”

ekspedisi kapsul waktu
Mitha oh mitha…

13 COMMENTS

  1. Awalnya saya kira itu penyusup dari OPM, yang berbicara lantang itu tapi tenyata bukan yah..hehheehe
    Kak Wira, itu buah durian mengalihkan pandanganku dari ceritamu. :)

  2. foto pertama,, ajiiiibbb itu mobil keren abis nangkring di situ. hilux bukan bang?
    foto terakhir, ajiiibbb di manokwari ada aston… ngiri euuuuy

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')