Saya menghabiskan masa kecil di tahun 90-an pada zaman smartphone belum ada.

Saya ingat sekali saya masih sempat bermain permainan tradisional yang tak perlu bantuan software. Tapi butuh kaki dan tangan yang bergerak langsung. Sebut saja kelereng, petak umpet, bentengan, lompat tali, ular naga, engklek, dan masih banyak lagi.

Waktu main ke Kampung Lawas Maspati di tengah kota Surabaya setelah dari pelabuhannya yang megah itu, tiba-tiba saya baper, teringat masa kecil, saat melihat anak-anak bermain taplak gunung! Buat yang nggak tahu, taplak gunung itu adalah permainan yang mengharuskan kita untuk melompat di atas delapan kotak yang disusun dengan formasi 1 – 1 – 2 – 1 – 2 – puncak gunung.

Jadilah saya bermain Taplak Gunung (atau disebut juga engklek) bersama anak-anak sini. Tentu saja, saya bukannlah lawan yang sebanding dengan mereka. Baru beberapa kali lompat saya sudah ngos-ngosan. Apalagi di cuaca Surabaya yang seperti sauna itu!

Main Taplak Gunung yang sudah di modif tingkat kesulitannya. Foto oleh Mas Hafiz dari Pelindo.
Main Taplak Gunung yang sudah di modif tingkat kesulitannya. Foto oleh Mas Hafiz dari Pelindo.

Dahulu, Kampung Lawas Maspati dijadikan sebagai tempat tinggal pejuang zaman kemerdekaan. Para Veteran. Saat ini kampung tersebut dihuni oleh anak dan cucu mereka.

Kampung ini terlihat sangat bersih dan tertata. Hampir setiap rumah punya tanaman-tanaman sendiri. Mulai dari buah-buahan, sayur, hingga tanaman hias. Tak heran kampung ini meraih banyak penghargaan pada aspek kebersihan dan kehijauannya.

Setiap sabtu dan minggu, kampung ini menjelma menjadi kampung wisata sejarah. Ada beberapa atraksi wisata sejarah yang bisa kita nikmati seperti Sekolah Ongko Loro yang dahulu bekas sekolah rakyat, pabrik roti milik H. Iskak yang juga dahulu berfungsi sebagai dapur umum kala pertempuran bersejarah 10 November 1945 — namun sekarang berubah jadi sebuah losmen, hingga rumah-rumah tua yang dibiarkan tetap lestari.

Khusus hari minggu, ada pementasan musik patrol yang kebanyakan dimainkan oleh anak-anak. Musiknya menggunakan galon, ember, dan para penari yang menggunakan baju dari plastik-plastik sampah. Musiknya sangat seru dan membuat kami tak tahan ingin ikut berjoget haha!

Musik patrol kampung lawas maspati
Musik patrol kampung lawas maspati
Seruuuu! | Photo by mas Hafiz Pelindo
Seruuuu! | Photo by mas Hafiz Pelindo

Selain menjadi desa wisata sejarah, Kampung Lawas maspati juga membuat masyarakatnya menjadi kreatif. Ada yang membuat tas dan baju dari sampah-sampah plastik. Ada yang menjual makanan kecil dengan merk JABLAY. Lah? Haha. Ternyata, JABLAY ini merupakan kependekan dari Jadi Belajar Biar Tidak Alay.

Kreatif juga sih brandingnya, walaupun agak maksa hihi.

kampung-lawas-maspati-surabaya-10
Tas dari daur ulang sampah plastik
kampung-lawas-maspati-surabaya-11
Kerajinan korek dari seorang bapak yang dahulunya adalah karyawan telkom
kampung-lawas-maspati-surabaya-12
Jablay
kampung-lawas-maspati-surabaya-13
Produk Jablay
kampung-lawas-maspati-surabaya-3
Salah satu gerbang pembatas RT
Salah satu rumah yang ada dari tahun 1920
Salah satu rumah yang ada dari tahun 1907
Salah satu rumah tua di Maspati
Salah satu rumah tua di Maspati
Rifqy, cucu dari pemilik asli rumah tua ini
Rifqy, cucu dari pemilik asli rumah tua ini
Penunjuk arah yang warna-warni
Penunjuk arah yang warna-warni
Bareng para bloher
Bareng para bloher
Musik Patrol
Musik Patrol
Pose dulu
Senang melihat anak-anak bermain disini
Senang melihat anak-anak bermain disini
kampung-lawas-maspati-surabaya-16
Gerbang kampung

Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang kampung ini, bisa langsung ke blog mereka disini. Jangan lupa kunjungi kampung ini kalau lagi di Surabaya ya!

11 COMMENTS

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')