Saya kira kereta commuter line di hari minggu akan sepi, namun ternyata saya salah. Kereta tetap ramai, namun bukan ramai pekerja kantoran seperti hari biasa.

Kereta penuh dengan anak-anak dan ibu-ibu yang akan pergi berbelanja ke Tanah Abang dan sekitarnya. Gerbong sungguh berisik dan banyak yang melanggar peraturan seperti makan di dalam kereta.

Tapi sudahlah, kali ini saya menuju Bogor. Perjalanan sekitar 90 menit dari stasiun tanah abang. Rencananya sih mau kulineran saja, sambil buat konten untuk youtube, hehe. Sudah pada subscribe, kan?

Dari stasiun saya lanjutkan dengan angkot nomor 02 menuju Jalan Suryakencana. Daerah ini adalah daerah pecinan Bogor. Jangan heran kalau di depan jalan ada gapura merah besar ini.

Jalan suryakencana

Mari mulai petualangan kuliner di Jalan Suryakencana Bogor ini.

Baru berjalan beberapa puluh meter dari gapura, saya sudah berhenti di tukang Talas Kukus.

Talas Kukus

Bogor memang terkenal dengan Talas. Talas ini sejenis umbi-umbian. Kalau saya deskripsikan, rasanya mirip diantara ubi dan singkong. Legit, namun tidak sehalus ubi, cenderung berserat seperti singkong.

Untuk kuliner bogor yang pertama kali kami coba ini, talas kukus yang masih panas  ditabur oleh kepala parut dan gula aren yang diserut.

Tadinya saya pikir ini gula merah, namun kata si mamang penjual, kalau gula merah tidak akan bisa diserut seperti ini.

Rasanya lembut, legit, hangat, namun tidak terlalu manis. Penambahan gula aren menambah sentuhan tradisionalnya. Untungnya si mamang tidak menambahkan keju atau bubuk green tea ke dalam Talas Kukusnya.

Oh iya, harganya 15 ribu untuk seporsi Talas Kukus ini.

Soto Kuning

Sepanjang jalan suryakencana, kamu akan temukan banyak penjual Soto Kuning.

Namun yang paling terkenal adalah Soto Kuning Pak Yusup. Pakai ‘P’ ya bukan ‘F’. Letaknya di perempatan yang dekat dengan gang aut.

Sayang, saat saya datang jam 10 pagi, Pak Yusup belum datang. Jadi saya memutuskan untuk mencoba soto yang sudah buka yaitu Soto Kuning Pak Yusuf.

Saya tidak terlalu punya ekspetasi terhadap soto ini karena saya pikir soto ini cuma KW-nya dari soto pak Yusup.

Namun saya salah. Kuah kuningnya sangat kaya rempah. Rasa didominasi kayu manis. Dagingnya empuk. Babat dan kikilnya juga tidak keras ataupun kenyal. Tapi tidak overcook juga. Juara deh ini soto kuningnya!

Yang nggak juara cuma harganya di 35 ribu rupiah hehe.

Sagu Pisang yang sedang dibakar

Ini bukan otak-otak bakar, tapi ini adalah Sagu Pisang!

Si mamang memang menjual berbagai macam isi dari daun pisang yang dibakar ini sih. Ada otak-otak, pepes, dan lainnya. Tapi yang paling unik adalah sagu pisang ini!

Setelah kami membuka bungkus pisang yang sudah menghitam karena dibakar dengan arang, kami menemukan sagu pisang ini mirip seperti timus. Rasanya kenyal, agak lengket,  dan manis. Tapi manisnya masih nyaman, tidak over. Rasanya ia juga memakai gula aren untuk pemanisnya.

Kami memesan varian Sagu Pisang isi keju. Kejunya meleleh karena panas dari pembakaran. Enak banget ini. Cocok jadi teman ngeteh atau ngopi. Harganya 7000 rupiah untuk sebuah sagu pisang.

Jalan Suryakencana ini ternyata banget kulinernya, jadi mari kita lanjut terus ~

LUMPIA BASAH ini jajanan favorit saya waktu kuliah di Bandung dulu.

Cuma bedanya versi bogor ini tidak pakai rebung, pakainya bengkoang. Jadinya teksturnya lebih crunchy gitu. Selain itu campurannya juga pakai toge, telur, ebi, dan tahu. Dimasak tumis dengan bumbu bawang putih yang sangat harum.

Campuran itu pun dibungkus dengan kulit lumpia tipis dan kemudian digulung. Dimasukan ke dalam daun pisang dan siap kita obrak-abrik

Lumpia seharga 10 ribu rupiah ini salah satu favorit saya di Jalan Suryakencana.

“Ini pakai nasi juga enak dek,” kata si mamang penjual. Sambil sibuk mengaduk isian lumpia ini dengan dua spatula-nya yang cukup unik : tanpa gagang.

Btw, semua makanan ini lokasinya di sekitar perempatan gang aut ya. Jadi kalau kalian kesana pasti mudah menemukan makanan-makanan ini.

Hanya beberapa meter dari Lumpia basah saya tergoda lagi kuliner yang satu lagi : Combro Gang Aut!

Combro seharga dua ribu lima ratus rupiah ini sempat membuat saya tertitup. Saya pikir adonan yang sedang diolah oleh si akang penjual adalah keju, ternyata singkong! Singkong yang diparut.

Karena singkong diparut ini, tekstur luarnya jadi sangat garing alias crunchy. Oncom super pedas dan panas pun ada siap menyambar lidah kita yang tidak siap. Betul-betul pedas, sampai yan protes ke si mamang.

“Mang kok pedes banget sih!”

“Kalau gak pedes mah namanya misro atuh, bukan combro,” kata si mamang sambil nyengir.

Baiklah…

Lanjut ke tujuan utama saya yang sebenarnya kesini : BASO KIKIL

Kikilnya pilih sendiri, satu kikil Rp. 10.000

Saat si mamang bakso bersiap-siap, antrian calon pembeli sudah mulai nampak.

Kebanyakan adalah ibu-ibu, jadi saya sudah membayangkan pertarungan apa yang akan saya hadapi setelah ini.

Jadi untuk membeli bakso ini, kita diharuskan untuk memilih kikil sendiri dan menaruhnya di depan si mamang bakso. Ia akan bertanya mau berapa mangkuk bakso yang mau disebar oleh kikil yang kita pilih.

Semangkuk bakso adalah 15 ribu rupiah, satu buah kikil 10 ribu rupiah.

Baksonya imut-imut

Setelah sedikit berdesakan dengan ibu-ibu ini (tenang, ini lebih mudah kok daripada berebutan pintu masuk kereta di stasiun tanah abang), kami akhirnya mendapat satu mangkuk bakso.

Kuahnya bening, tak ada rasa-rasa kaldu jeroan yang berlebih. Adanya rasa kaldu daging yang bersih. Tekstur baksonya pas, tidak terlalu kenyal maupun empuk. Baksonya kosong saja tidak ada isinya, namun sudah cukup terasa aroma dagingnya.

Dan kikilnya ini, luar biasa, betul-betul empuk! Tidak seperti kikil yang kadang agak alot dan butuh tenaga rahang ekstra untuk mengunyahnya. Kikil ini betul-betul sopan dan nyaman untuk dimakan. Apalagi dimakan bareng dengan baksonya. Hmmmmmm!

Minum bir di siang bolong

Berhubung dari tadi belum minum, saya melirik ke sebuah gerobak yang sangat berisik. Ia mengocok-ngocok es di dalam sebuah gelas raksasa berbahan metal dan menuangkan minuman berbusa yang serperti….bir!

Ternyata ini memang bir, tapi bukan bir beralkohol ya! Cuma namanya saja bir karena efek dikocok sehingga berbusa di bagian atasnya. Minuman dingin ini campuran antara Jahe, kayu manis, dan gula aren. Saya suka sekali kombinasi bahan-bahan ini, namun sayang yang saya coba ini terlalu manis. Padahal kalau gulanya dikurangi bakal lebih enak pasti.

Oh iya, untuk versi video bisa kamu lihat di youtube saya dibawah ini ya. Kali ini adek saya yang jadi host-nya.

Nah, kamu pernah ke Jalan Suryakencana? Kasih ide makan apa lagi dong biar saya balik kesini lagi!

 

7 COMMENTS

  1. Melihat kuliner dan harganya terjangaku, jadi kayaknya asyik hahahaha.
    Nyari konten buat youtube, dan bisa dituliskan juga di blog. Dua tempat bisa jalan semua. Apik mas :-)

  2. seumur hidup di bogor belum tau ada sagu pisang sama kukus talas haha, thanks sharingnya mas. kalo pulang kampung mau dicari makanan itu..

  3. Nge-hits nama daerah tersebut. Dulu pernah jajan gorengan di jalan Paledang. Terakhir ke Bogor,panas banget, sampai stasiun, nyebrang makan siang di KFC, balik lagi ke Jakarta.

  4. Langsung aku save, nih.. Abis lebaran cus Surken.. :D Sip, noted Soto Pak Yusup yang pake P bukan F ya mas.. :D Sagu pisang juga belum pernah ngerasain.. Dan itu bakso kikilnya seger banget keliatannya..

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')