Sjuaibun ilyas, hari pochang, dan Deni suganti (fotolisis.net)

“Jangan sebut mereka sebagai pulau terluar! Sebut mereka sebagai pulau terdepan!” kata kang Aat Soeratin memulai pembicaraannya.”Mereka itu teras depan negara ini, kalau terluar, konotasinya mereka itu tidak terurus. Sudah kecil, diluar pula,” ujarnya.

Saya mulai tersadar, negeri kita ini punya kurang lebih 17 ribu pulau. Membayangkannya saja sudah sulit. Seperti apa keadaan di pulau-pulau kecil itu? Apakah pulau itu mempunyai nama? Bagaimana mereka memandang Jakarta? Apa mereka tahu siapa presiden mereka sekarang?

Sebetulnya pembicaraan sore itu tidak ada hubungannya dengan ekspedisi ini, ekpedisi garis depan nusantara, yang dilakukan oleh Wanadri – sebuah organisasi pecinta alam pertama negeri ini. Acara itu sebetulnya adalah workshop fotografi outdoor yang diadakan sebuah majalah bagi para penggiat alam. Tapi, saya kurang tertarik dengan aspek-aspek teknis fotografi. Saya lebih tertarik bagaimana cerita perjalanan mereka mengarungi 92 pulau terdepan nusantara – selama kurang lebih tiga tahun.

“Sebelum ini, pemerintah menyebut mereka sebagai pulau terluar. Terkesan mereka ini terasing, terpencil, dan akan dilupakan. Namun, sebetulnya mereka ini sangat penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Hilang saja satu pulau sebesar sebuah ruang kelas, bisa merembet hilangnya ke garis-garis perbatasan,” ujarnya

“Bagaimana nasionalisme mereka, kang?” tanya saya.

“Jangan anggap remeh, mereka benar-benar mengakui bahwa mereka bagian dari Nusantara. Cuma, terkadang keadaan yang memaksa mereka untuk tidak berbuat demikian…..Contohnya di perbatasan dengan Malaysia, banyak yang lebih memilih menggunakan ringgit daripada rupiah..,” ujarnya lirih.

Sesi diskusi juga dibumbui oleh foto-foto manis jepretan fotografer ekspedsi tersebut. Kang Hari Pochang dan Sjuaibun Ilyas adalah seorang fotografer dokumenter handal dari Bandung yang ikut dalam ekspedisi, sudah sepuh, tapi menolak tua. Semangatnya terus ditularkan kepada kami untuk terus mencintai Indonesia.

Mereka terus bercerita tentang kecantikan, keganasan, dan liarnya alam Indonesia. Tapi menyimpan sejuta potensi yang belum digali, ataupun seringkali digali oleh pihak yang tidak seharusnya.

Foto bareng kang Aat Soeratin

**

Sadarkah kamu? Kamu itu dilahirkan di sebuah negeri yang (seharusnya) sangat kaya raya. Negeri ini punya banyak hal yang bisa membuatnya jaya, tapi dengan itu juga banyak hal yang harus kita jaga. Pulau-pulau terluar terdepan ini adalah salah satunya.

“NKRI harga mati!” ujar kang Aat menirukan ucapan seorang tentara yang ia temui di pulau terdepan yang berbatasan dengan Filipina.

Saat ini, saya cuma bisa terkagum dengan ekspedisi ini. Perjuangan Kang Aat dan rekannya untuk menyadarkan masyarakat dan pemerintah akan pentingnya pulau-pulau ini. Tapi, suatu saat saya juga akan melakukan sesuatu yang berguna untuk negeri ini tercinta.

*Detail ekspedisi bisa dilihat di video kang Aat Soeratin saat jadi speaker di TEDx Bandung.

*Cerita ekspedisi ini bisa dibaca di buku-buku Garis terdepan nusantara. Juga ada ekspedisi lainnya “zamrud khatulistiwa” yang dilakukan oleh Ahmad Yunus dan Farid Gaban yang dengan pendekatan yang lebih jurnalistik.

4 COMMENTS

  1. “Cerita ekspedisi ini bisa dibaca di buku-buku Garis terdepan nusantara” <- buku apakah ini? Siapa yang mengarang? Jadi pengen baca.. Kalau buku tentang Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, Meraba Indonesia, yg ditulis oleh Ahmad Yunus aku udah baca.

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')