Mendaki Puncak Tertinggi Pulau Bali

56

Entah bagaimana saya bisa mengiyakan ajakan Firsta ketika ia mengajak saya untuk menaiki puncak tertinggi pulau dewata itu. Tanpa sadar, tiba-tiba saya sudah melaju di atas motor sewaan dari homestay saya di Sanur menuju Pura besakih, salah satu titik awal pendakian Gunung Agung.

Jalur pura besakih digunakan jika ingin naik ke Puncak Gunung Agung 3142 mdpl. Sedangkan jalur satu lagi yang waktu pendakiannya lebih singkat adalah jalur Pura Pasar Agung, namun hanya akan sampai di bibir kawah.

gunung agung sunrise
Foto pertama saya di gunung Agung saat sunrise

Kami akan naik tek-tok. Alias tidak buka tenda, tanpa menginap. Sampai puncak, kami akan turun langsung turun kembali.

Hal gilanya, kami akan naik jam dua belas malam, dan sampai di puncak saat sunrise. Sebetulnya biasa saja, seperti trek terakhir gunung semeru ataupun rinjani. Namun, saya menaiki kedua gunung itu sudah 2-3 tahun lalu. Sekitar 10 kilogram yang lalu. Setelah itu saya jarang naik ‘gunung betulan’. Entah saya kuat atau tidak, saya pun memulai langkah pertama dengan bismillah.

Senter saya nyalakan. Kami mulai melangkah langsung masuk ke hutan. Bertiga, plus satu orang guide. Mendaki di gunung agung harus menggunakan pemandu. Tarifnya sekitar 300 ribu per orang. Biasanya sudah termasuk sarapan, senter, dan trekking pole.

gunung batur dari gunung agung
Terlihat Gunung Batur dan danau kintamani di kejauhan

Buat kamu yang ingin kesini, saya kasih tahu dulu : TANJAKANNYA GAK PAKE AMPUN. Duh, sampai pakai caps lock. Tapi bener deh. Bisa dibilang 95% tanpa ada jalur landai.

Saya kepayahan. Tanda harus sudah diet. Firsta mungkin kesal harus menunggu saya. Apalagi Nico, suaminya yang bule dan berkaki panjang ini terlihat seperti berjalan di jalan datar, padahal tanjakan tiada henti.

puncak gunung agung
Jalurnya ngeri-ngeri sedap..

Ada tiga pos sebelum puncak. Tak ada tanda-tanda ataupun shelter di pos-pos ini. Namun jarak antar pos sekitar satu setengah jam hingga dua jam.

Di beberapa titik di jalur terdapat jalur yang sangat terjal sehingga dipasang tali bantuan. Saya lemas membayangkan untuk turunnya nanti.

Mendaki malam sebetulnya jauh lebih nyaman daripada mendaki siang. Karena selain tak panas, mendaki malam hari juga terasa romantis karena ditemani bintang-bintang. Kalau kamu punya teman yang bisa melihat lebih, lebih baik peringatkan dia supaya tak memberi tahu macam-macam. Karena malam romantis bisa saja berubah menjadi malam horor. Hihi, bercanda.

 

shadow sunrise
Gunung hantu alias bayangan puncak gara-gara sunrise.

Entah berapa kali saya berhenti dan berjalan kembali, sekitar pukul tiga pagi kami berhenti di permulaan jalur berpasir dan berbatu dengan dinding yang cukup tinggi untuk menahan angin. Vegetasi sudah mulai berubah. Kami duduk, memulai api unggun, dan membuat kopi panas. Disini kami beristirahat sejenak. Beberapa orang nampak sedang tertidur mengisi tenaga untuk persiapan summit attack.

Pemandu kami nampak tertidur pulas tak lama setelah ia membuatkan kami minuman hangat. Ia hampir tiap hari mendaki gunung agung di malam hari, jadi pasti sangatlah lelah. Pekerjaan yang sangat berat. Tapi nampaknya ia sudah sangat terbiasa. Walaupun badannya kecil, ia punya stamina yang luar biasa.

MTMA bali
Si Bli pemandu kami fans #MTMA banget nampaknya….

Saya mencoba istirahat. Namun udara terlalu dingin untuk membuat saya terlelap. Perlahan langit hitam pun berubah jadi biru pekat, tanda kami harus segera melanjutkan pendakian ke puncak.

Saat matahari muncul, barulah sadar kami bahwa jalur gunung agung ini sangat kecil dan kiri-kanannya terdapat jurang.  Jalur ke puncak betul-betul batu. Kalau kita terjatuh pasti langsung END. Langkah saya makin lunglai, tapi udara subuh yang sejuk membuat saya tetap bersemangat.

Beberapa kali saya bilang ke Firsta, mungkin ia sampai kesal, “Ini nanti turunnya gimana yah beb? Naiknya aja terjal begini HAHAHA.”

Ia cuma bilang dengan tenang,”udah, gak usah dipikirin.” Kadang sambil kesal juga, “UDAH, GA USAH DIPIKIRIN!!”

Saya cuma bisa tertawa sambil meringis.

puncak gunung agung
Kak Firsta dan bebeb-nya. Aku cuma bisa meluk trekking pole yang dingin itu…

Tak lama saya sampai di puncak bertepatan dengan matahari yang muncul dari horizon. Ada tiga puncak yang akan kita lewati. Foto di atas adalah foto di puncak kedua. Sedangkan yang dibawah ini adalah foto puncak ketiga dari puncak kedua.

puncak gunung agung bali
Puncak Gunung Agung dan orang-orang yang mendaki hari itu.

Selagi yang lain berjalan ke puncak ketiga, saya memilih untuk istirahat dan sarapan sendiri di puncak kedua. Menikmati momen-momen di puncak sambil melihat pesisir Bali dari titik tertinggi pulau dewata ini.

Sambil memikirkan bagaimana cara turun dengan selamat sampai di pura besakih kembali….

Menuju puncak ketiga dimana terlihat kawah gunung agung.
Menuju puncak ketiga dimana terlihat kawah gunung agung.
puncak gunung agung
Mejeng dulu

Total perjalanan ke puncak memakan waktu sekitar 6 jam. Nah, menurut logika turun pasti lebih cepat kan? Tapi, dengan kondisi yang belum tidur semalaman dan dengkul yang sudah bergetar sendiri, ternyata memakan waktu hingga 8 jam.

Jalur yang semalam kami lewati hanya dengan senter, sekarang terlihat jelas. Rasanya pengen meluncur saja sampai di bawah.

Anyway, saya berfikir naik gunung ini lebih menantang daripada gunung semeru maupun rinjani. Kalau naik kedua gunung itu seperti marathon, naik gunung agung ini lebih mirip lari sprint yang butuh tenaga ekstra dengan konstan.

Sesampainya dibawah, saya bersumpah tidak akan pernah naik gunung lagi.

Tapi, itulah yang saya selalu pikirkan setiap habis turun gunung. Dan, sialnya, bukan; untungnya, saya selalu saja rindu dan ingin kembali ke ketinggian!

Salam dahsyat!

mendaki-gunung-agung-bali-15
Gunung Batur di kejauhan (yang di tengah danau kawah)
mendaki-gunung-agung-bali-16
Firsta dan Bli MTMA
mendaki-gunung-agung-bali-13
Saatnya kembali ke bawah
mendaki-gunung-agung-bali-21
Tanjakannya kira-kira begini…
Foto keluarga
Foto keluarga by Bli MTMA
turun yuk
turun yuk. | Photo by Firsta
Jiper ngeliat jalurnya.
Jiper ngeliat jalurnya. | Photo by Firsta
mendaki-gunung-agung-bali-18
Sampai jumpa lagi Gunung Agung!

56 COMMENTS

  1. Mz, betapa aku mencintai tulisan2 yg seperti ini.. :’)

    “Sekitar 10 kg yg lalu..” :))))))

    Semuanya pada keburu2 sih, coba lebih nyantai, pasti harusnya gak kesiksa gitu naik dan turunnya. :D

  2. wahh mantap, saya yang tinggal di bali aja belum perah mendaki…
    biasanya cuma keliling objek wisata biasa yang tidak melelahkan.

  3. Ahahaha… sounds like my experience with Firsta. Sampe ke bawah juga gitu! Ga mau Yah karena lu anak gunung, lu dapet yang 3000an mdpl. Hooo… Firsta nih!

  4. Salam kenal mas wira.. Sudah 1-2 minggu ini saya ngikutin blognya. Seru! Saya baru ini di dunia blog dan mencoba untuk blogging.

    Lewat jalur pura besakih menuju puncak memang cuma 6 jam?? emangnya star dr ketinggian berapa? btw, pake kamera apa nih mas wira?

  5. Gunung suci idaman saya juga ini, hehehe. Sama seperti saat mendaki Gunung Arjuno, pas balik selalu “ngumpat” gak naik lagi gunung ini ah! Eh, gak sampai setahun, diulang lagi lewat jalur yang sama :D

    Foto-fotonya selalu keren :)

  6. Seru banget ya naik gunung, di Bali lagi! Sudah sering kesana tapi cuma nikmatin pantainya doang, sepertinya next time harus nyoba nih. Tulisan yang menarik ditambah fotografi yang andal bikin postingan ini tambah perfect! hehe

  7. Hahaha kayaknya kita dimana-mana selalu gitu Wir. Pas atau paska naik gunungnya kita akan bersumpah gak akan naik gunung lagi, bahkan kadang merutuk “duh ngapain sih gw pake naik-naik gunung segala?” … Tapi begitu udah turun, begitu posting, begitu kapan-kapan liat fotonya lagi, begitu inget pasti kangen …. It’s like mantan pacar yang nyusahin tapi ngangenin gitu hahahahaha

    Nice post Wir, jadi pengen nyobain juga manjat Gunung Agung. Pemandangannya superb! Apalagi yang gunung hantu dan danau kawah nya itu :-)

  8. Salam kenal mas Wira, sudah beberapa kali mampir buat referensi nulis dan foto yang selalu SUPERB.

    Sepertinya banyak yg seperti itu ya mas, ngomong kapok tapi ya diulangi lagi, termasuk saya, :D

  9. Hi mas tanya dong, kalo untuk hiking dari pura besakih.. harus book guide dlu gak yah ? apa boleh langsung dtang hari H dan book di sana aja ? lebih baik kalau datang hari H, datang jam berapa ya ?
    Thank you, btw foto nya” bagus” banget nihh boleh tau pake fuji seri apa ?

  10. Duh…makin pengen! Ini dulu dapetin guide nya on the spot kah mas? Pake tawar2an dulu? Apa memungkinkan utk nenda jg? (bnyk yg bilang gak bisa nenda, tapi ada yg bilang bisa2 aja, bingung mau konfirm ke mana). Trimkisiii sebelumnya :)

  11. entah apa lagi yg ada di pikiran saya sekarang setelah baca blog mu, mas.. hhahahaa
    akhir bulan ini mau kesana lohh !
    KUY bgt lah rasanya.. bismillah saja lah ???

  12. Hi mas Wira..mau tanya sedikit soal porter/ guide nya..itu pas kita start,akan banyak guide yg menawarkan jasanya ya atau by appointment? Aku jg maunya cuma tektok. Makasih yaa

  13. Mas, it guidenya misal cm saya sendirian kena brapa y mas, duh mupeng banget…. Tahun ini harus kesini….amin…

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')