Layaknya rumah di Jepang, saat memasuki Ryokan saya diharuskan untuk melepas sepatu, menaruhnya dengan rapih di rak, dan menggantinya dengan sandal khusus.

Seorang wanita paruh baya dengan sigap membungkukan badan, menyapa kami. Ia bergegas memberikan welcome drink dan snack. Saya melahap sebuah kudapan kecil berupa biskuit berisi kacang merah dan teh hijau panas Jepang, yang sangat pas di sore musim gugur yang dingin ini.

Ia mengambil koper kami, kemudian mengelap rodanya. Wah sungguh baik sekali. Namun melihat lantai Ryokan yang berupa tatami ini saya langsung berasumsi, “Pasti dia gak mau lantainya kotor dan rusak, jadi roda koper gue yang dibersihin dulu.”

Hih, dasar lambe kamu mz wir!

Ini si Ryokan yang saya inapi di prefektur iwate. Tampak depan. Jangna tertipu dengan ukurannya. Ia memanjang ke belakang panjang sekali!

Ryokan ini adalah penginapan tradisional jepang. Walaupun bangunan terlihat tua, namun biasanya Ryokan ini bukan penginapan budget. Harganya bisa dibilang setara dengan hotel bintang empat atau lima.

Ryokan biasa dihitung per orang, bukan perkamar. Biasanya termasuk makan malam dan sarapan pagi.

Kalau kamu dalam grup, bakal diberi ruangan khusus untuk makan. Jika tidak, makan biasa diantar ke kamar masing-masing.

Kamarnya bisa ditebak: sangat luas dengan interior khas Jepang. Lantai berupa tatami, bahan lantai Jepang yang dibuat dari jerami. Pintunya pun pintu geser. Tak ada kursi, kita harus duduk di lantai ini jika ingin bersantai.

Cakep Interiornya

Jangan kaget juga kalau tidak ada tempat tidur. Kasur dan kawan-kawannya disembunyikan di dalam lemari. Jadi kalau mau tidur, silakan gelar sendiri dimana saja kalian suka! Kalau yang pernah nonton doraemon pasti tahu nih hehe.

Orang jepang menyebut tempat tidur ini sebagai Futon.

Kasurnya single mz?

Pertama kali saya mencoba menginap di Ryokan ini, saya agak shock juga sebetulnya.

Ketika saya mau mandi, ternyata tidak ada kamar mandinya di dalam kamar! Waduh, kamar seharga hotel bintang lima begini nggak ada kamar mandi dalam? Saya langsung curiga.

Saya pun bertanya ke staff Ryokan. Dengan bahasa tubuh tentunya. Saya memeragakan mengambil air di bak dengan gayung dan menunangkannya ke kepala. Si mba staff hotel yang cantik dan menggunakan kimono ini pun bingung.

“Showwaaaaa, showaaar,” kata saya menyebut kata shower dengan logat Japan-English. Si mbak pun nampak paham kemudian mengantarkan saya ke…

…Onsen

Alias kamar, eh maksudnya, kolam mandi bersama.

OMG.

“Yang pintu biru untuk laki-laki, yang pintu merah untuk perempuan yaa,” kata si mbak dengan bahasa inggris seadanya. Si mbak pun tersenyum dan pamit.

Tinggal saya yang berdiri mematung di depan pintu onsen.

“Hmmm, kapan lagi nih ngerasain yang Jepang banget gini?” kata saya meyakinkan diri.

Makanannya banyak sekali..

Setelah berfikir agak ngeras, eh keras, saya pun memberanikan diri masuk. Namun alangkah terkejutnya saya melihat pemandangan di dalam situ. Seorang laki-laki dengan belalai kecilnya (oke, besar kecil itu relatif ya. Eh gimana?) keluar dari kolam mandi.

Dia berhenti, menatap saya tanpa ekspresi. Saya bengong selama beberapa detik. Tanpa komando, saya pun langsung putar balik.

“Mudah-mudahan gue gak mimpi buruk malam ini,” gumam saya.

Saya pun kembali ke mbak tadi. Protes. Saya gak mau berendem telanjang bareng ke orang asing. Rasanya aneh saja haha.

Tapi ya namanya budaya onsen memang seperti itu. Kolam air hangat komunal yang kalau kita mau masuk ke dalamnya, harus tak mengenakan benang sehelai pun. Tapi sebelum masuk kita harus mandi dulu dengan shower yang ada di sebelahnya sembari jongkok.

Saya bisa saja mandi di shower itu. Tapi itu justru lebih mengerikan, karena mereka yang sedang di kolam bisa “puas” melihat saya. Hiii!

onsen private.

Si mbak pun mengerti dan memberikan saya sebuah kunci. “Private onsen. 8 o’clok until 8 30,” katanya. Ternyata ada onsen private yang bisa kita pakai pribadi. Atau bersama orang yang kita mau saja. Ehm. Tapi ya ada waktunya karena harus bergantian dengan orang lain.

Tidak semua Ryokan harus mandi di Onsen ya. Saya sudah beberapa kali menginap di Ryokan, ada juga yang hybrid gitu. Maksudnya, interior betul-betul ryokan, tapi kamar mandi dan kasur sudah normal.

Salah satu Ryokan di Nikko yang pernah saya tempati. Ada tempat tidur normal di pojokan sana. Dan kamar mandi normal di depan.

Anyway, buat yang ke Jepang, kalau kamu punya beberapa hari di sana. Sempatkanlah semalam untuk menginap di Ryokan ini. Menurut saya ini pengalaman yang betul-betul unik dan menyenangkan!

10 COMMENTS

  1. Nampak seru, Mas Wir. Kerasa banget Jepangnya. Mungkin tarif mahal itu dipasang untuk ngejual pengalaman ini ya? Atau memang tarif penginapan semahal itu lumrah di sana?

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')