Menjelajah Pesona Pesisir Selatan Garut

11
sayangheulang
someone, somewhere at Sayang heulang

SANG surya belum muncul, dan mata masih terasa berat akibat tidak tidur di perjalanan selama lima jam bermotor semalam. Namun mendengar suara debur ombak di pesisir sana, dan keinginan untuk melihat atraksi matahari terbit, menarik-narik saya dan beberapa teman untuk menyusuri jalan-jalan di ujung desa Pameungpeuk ini.

Pantai Sayang Heulang yang kami tuju pun kini membentang di hadapan saya. Di kanan saya, batu-batu karang tersapu ombak kecil berdiri menyambut. Di sisi kiri saya hingga jauh sekali, terbentang pantai yang sangat sepi. Di kejauhan sana, kabut putih seperti mengepul di atas ombak yang berdebur-debur, sehingga menambah suasana mistis pagi itu.

Perlahan hangatnya mentari menyapu kabut di kejauhan. Sang surya menampakan dirinya, besar sekali. Suara debur ombak berpacu dengan suara shutter kamera memecah keheningan pagi.

Berburu Sunrise di Sayang Heulang

Sebagai seorang pecinta fotografi, terutama fotografi landscape, terkadang saya tidak perlu alasan untuk travelling. Atau mungkin terlalu banyak alasan untuk diceritakan, sehingga momen-momen saat semburat merah muncul dari horizon selalu membuat bulu kuduk saya bergidik.

“Saya menghimbau buat para mahasiswa, jangan terlena dengan keindahan alam, jaga diri baik-baik karena ombak di pantai sering memakan korban”, himbau sang sekretaris desa Pameungpeuk dengan logat sundanya yang kental, saat kami meminta izin untuk mendirikan tenda.

Maklumlah, ombak di Sayang heulang maupun di Santolo memang besar karena berada di tepi Samudera Hindia, masih di daerah kekuasaan Nyai Roro Kidul.

Puas dengan pertunjukan matahari terbit di Sayang heulang, kami beranjak ke arah barat untuk menuju pantai Santolo. Tidak jauh, hanya setengah jam berjalan kaki kita sudah sampai disana.

Pantai pasir putih Santolo

Pasirnya putih dan lembut. Mungkin jauh lebih bagus daripada pantai Kuta ataupun Sanur. Tidak ada batu-batu besar di sekitar pantai. Berenang? Sangat tidak direkomendasikan, urungkan niat anda jika ingin bermain-main dengan pantai Selatan. Cukup berjalan-jalan menikmati pasir putih yang lembut ditemani matahari sore, that would made your day.

Jika anda pecinta seafood, di Pameungpeuk adalah tempat yang tepat! Mungkin karena memang dekat dengan laut, dan pengunjung yang tidak terlalu ramai, harga seafood disini relatif sangat murah. Bahkan, harga kelapa muda segar cukup Rp 2500 disini.

Pemandangan dari Puncak Guha

Dari santolo, bawa diri anda lebih ke barat. Sekitar 25 kilometer, pantai karang Rancabuaya yang juga eksotis sudah menunggu.

Tetapi, sebelum sampai di Rancabuaya, sempatkanlah untuk berkunjung ke Puncak Guha. Dari tempat romantis Kugy dan Keenan dalam novel Perahu Kertas karya Dee ini, kita bisa melihat hamparan lautan di pesisir Garut. Di bawah tebing, kita juga bisa melihat kelelawar yang banyak sekali.

Keheningan di puncak guha membuat saya terpejam, mencoba menikmati setiap nafas yang saya hirup. Sungguh, ada eksotisme yang sangat tidak bisa terbantahkan disana.

Hamparan karang di Rancabuaya

Hari semakin sore, kami lanjutkan perjalanan ke pantai Rancabuaya. Tidak seperti santolo yang berpasir putih, Rancabuaya menampakan pesonanya dengan hamparan batuan karang. Sebelum laut pasang, banyak nelayan yang mencari rumput laut di sela-sela karang pada sore hari.

Percaya saya, sunset di Rancabuaya itu memang sangat keren. Setidaknya, dari semua pantai yang pernah saya kunjungi, this is one of the best!

Tak lama,  suara shutter bersahutan kembali. Saya menikmati matahari terbenam dari balik viewfinder, berharap bisa menangkap sedikit keindahan lukisan sang Pencipta.

Semburat merah dari Rancabuaya

 

11 COMMENTS

  1. hai wira saya rizkita dari tabloid wanita indonesia. kebetulan saya sedang membuat artikel tentang pantai sawarna. saya tertarik ingin menjadikan kamu narasumber. saya bisa wawancara lewat telfon atau email? reply me ASAP ya.
    my phone number 0856 920 72279

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')