yellow tail
yellow tail | ©MayangPurwanto

Penyelaman pertama kami nampak tak disambut hangat oleh sang surya. Mendung menggelayut.

Kapal kami sedikit terbanting gelombang saat mencoba menimurkan diri dari Pulau Mansuar.

Tak ayal, rekan saya om @motulz mulai mengeluarkan isi perutnya. Saya yang lama tak melaut dengan kondisi seperti ini pun mulai merasa terhuyung.

Sebetulnya agak sangsi menyelam dengan kondisi seperti ini. Saya terakhir menyelam sudah hampir setahun yang lalu, sudah agak sedikit kagok untuk urusan diving. Tapi dengan dibantu  para divemaster, om Saka, om Rudi, dan juga tante @r_djangkaru, saya merasa agak tenang.

“Raja ampat di bagian atasnya ya begini saja, tak ada bedanya dengan kepulauan seribu, apalagi mendung begini,” gumam saya.

Tabung udara sudah terisi penuh, pemberat tujuh kilogram sudah terpasang di badan saya yang penuh lemak ini, BCD dikempiskan, dan kami pun mulai turun.

Target utama kami di titik penyelaman mioskon ini adalah bertemu si hiu khas Indonesia, Wobbegong. Wobbegong bukanlah hiu seperti yang biasa kita bayangkan. Ikan dengan nama ilmiah Orectolobus leptolineatus ini lebih mirip ikan sapu-sapu yang menyapu dasar lautan dangkal. Dengan motif totol-totol cokelat dan badan yang pipih, ia pun punya julukan hiu karpet.

“Kalau kita sudah pernah lihat wobbegong, berarti selamat datang di raja ampat!” kata teteh Riyanni.

Depth gauge menunjukan kedalaman 23 meter, dan beruntungnya kami melihat si Wobbegong dengan santainya sedang parkir di samping sebuah karang. Ia sama sekali tidak terganggu dan cuek dengan kehadiran kami. Sesekali siripnya yang menyentuh pasir menepuk-nepuk seakan ingin mengajak menari.

Wobbegong yang bersantai, berkamuflase dengan karang dan pasir.
Wobbegong yang bersantai, berkamuflase dengan karang dan pasir. | ©MayangPurwanto

Wobbegong tak berbahaya, dan juga hiu-hiu lainnya pun demikian. Asalkan kita tak mengganggu kenyamanan si raja laut. Setelah beberapa jepretan kami ambil, si wobbegong pun pergi santai dengan meliuk-liuk anggun.

Dunia bawar air selalu berhasil membuat saya takjub. Mungkin, karena memang kita bukan dari dunia mereka. Misteri tentang kehidupan bawah laut tak mungkin semua tekuak. Kita manusia hanya mampu mengamati dan mempelajari setitik darinya.

“Welcome to raja ampat, dude. Enjoy,” kata si wobbegong sambil menghisap cerutu, dalam imajinasi saya.

yellow tail in a red soft coral (ada yang tau namanya?)
yellow tail in a red soft coral (ada yang tau namanya?) | ©MayangPurwanto

Beberapa yellow tail fish ditemui sedang sibuk bersekolah disini. Di Mioskon, banyak ditemui karang-karang halus berwarna merah. Saya mengasosiasikan titik penyelaman di Indonesia dengan warna dominannya. Raja ampat dengan warna merah, Wakatobi dengan warna orange, dan Komodo dengan warna kuning, dan Kep. Seribu dengan abu-abu. *dikeplak*

Sekitar 30 menit setelah penyelaman, arus yang sedikit kencang menyeret kami ke bagian pasir. Tanpa aba-aba gerombolan ‘badai’ pasir menyergap kami. Mirip seperti pasir yang tertiup saat di bromo. Pandangan kabur. Visibilitas pun mungkin menjadi 30 cm saja. Kami terpisah, beruntung saya masih bertemu teh Riyanni yang segera memberikan kode untuk segera safety stop dan naik ke permukaan.

***

Mioskon bottom - tipikal underwater raja ampat, heboh.
Mioskon bottom – tipikal underwater raja ampat, heboh. | ©MayangPurwanto

Saya pikir pulau Mioskon adalah pulau tak berpenghuni. Namun, saat saya mendarat disana, nampak sebuah penginapan akan dibangun.

“Pulau Mioskon ini adalah pulau paling strategis di Raja Ampat, banyak dive site bagus yang sangat dekat dari sini,” kata divemaster saya. Tak heran memang, dive site ‘premium’ raja ampat seperti Mioskon ini sendiri, Cape kri, Mike’s point, blue magic, ataupun Sardine reef mungkin jaraknya hanya sepuluh menit dengan speedboat.

“Pernah ada  yang tawar pulau ini 67 Triliyun, tapi kami tak mau, ini tanah adat tak bisa dipindah tangan,” ujar steven, seorang bapak separuh baya yang nampaknya adalah ‘pemilik’ pulau ini..

Mata saya terbelalak, tak percaya sama sekali pulau sekecil ini bisa ditawar sebegitu tinggi. Saya memang tak paham rate harga pulau itu berapa, tapi harga segitu tentu sangat tinggi. Kabarnya, yang menawar adalah salah satu orang terkaya dunia.

Saya berbincang cukup lama dengan bapak ini dan istrinya, Grace Wawiai. Saya agak tak paham, karena mereka bercerita tentang konflik tanah adat ini. Antara mereka, marga wawiai, pemda, dan juga investor. Tentang pulau ini yang seharusnya dibuat tetap alami hingga tentang orang wawiai lainnya yang sukses di Jakarta sana.

Om @regcleva dengan salam metal, yang katanya belum move on dari konser metalica.
Om @regcleva dengan salam metal, yang katanya belum move on dari konser metalica. | ©MayangPurwanto

Apapun itu, saya yang hanya seorang turis ini berharap atas maupun bawah Mioskon tetap terjaga keasriannya dan bisa mensejahterakan penduduk lokal, tanpa mementingkan sebelah pihak.

Berbicara panjang lebar, saya tak sadar bahwa saya telah ditinggal oleh kapal! Saya berteriak ke mereka yang mulai agak menjauh dari pantai. Mereka cuma tertawa culas melihat saya yang hampir tertinggal sendiri di Mioskon.

“Kemana kita sekarang?” tanya saya ke om Rudi.

“Manta point!” jawabnya mantap.

~

Thanks untuk Mayang untuk foto-foto underwaternya. Semoga gak digigit nyamuk lagi!

5 COMMENTS

  1. yah, aku belom pernah ke raja ampat dong berarti belom liat Wobbegong :(
    anyway, themenya ganti terus dah wir. labil kayak orangnya

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')