Museum Batik dan Limun Oriental Pekalongan

14

Setelah bermain ke Petungkriyono di Kabupaten Pekalongan dan belajar membatik di Kabupaten Batang, saya dan kawan-kawan bertolak ke Kota Pekalongan. Tempat stasiun kereta akan membawa saya kembali ke Jakarta.

Namun sebelum itu, saya akan mengunjungi beberapa tempat sebelum kereta Argo Bromo tiba di Pekalongan pukul 12.40 siang. Tempat ini adalah Museum Batik Pekalongan, Limun Oriental, dan Pasar Grosir Batik Setono.

Tempat pertama di pagi hari yang saya kunjungi adalah: Museum Batik Pekalongan.

Museum Batik Pekalongan

Arsitektur gedung museum ini nampak seperti peninggalan kolonial. Sebelum jadi museum, gedung ini adalah kantor balai kota Pekalongan. Dan sebelum itu pula di zaman Belanda, gedung ini adalah kantor keungan sebuah perusahaan gula yang berdiri tahun 1906.

museum batik pekalongan

Museum ini punya lebih dari 1200 koleksi batik dari seluruh Nusantara. Koleksi batiknya selalu diupdate agar selalu fresh. Koleksinya mulai dari batik klasik hingga kontemporer lengkap! Selain itu ada juga koleksi alat-alat untuk membatik seperti canting, pewarna, dan jenis-jenis malam (lilin) untuk ‘tinta’ batik.

Ada ruangan khusus batik pekalongan dan ruangan khusus batik lainnya di nusantara. Setiap batik diberi penjelasan detail tentang latar belakang, motif, bentuk, corak, dan cerita yang ada di balik batik tersebut.

Koleksi batik

Museum yang buka dari pukul 8 pagi hingga 3 sore ini berada di Jl. Jetayu no.1 Pekalongan ini sangat terjangkau. Untuk orang dewasa dikenakan biaya Rp. 5000 saja, sedangkan untuk anak-anak hanya Rp. 1000. Ruangan museum pun persih, tak sumpek, dan dilengkapi pendingin ruangan.

Pada saat saya kesana, ada rombongan anak-anak yang sedang belajar membatik. Ya, di dalam museum ini juga terdapat workshop untuk kita yang ingin belajar membatik. Ada dua ruang workshop, yang pertama ada ruang workshop batik tulis. Yang kedua adalah ruang workshop batik cap. Karena saya sudah belajar membatik di kota Batang pada hari sebelumnya, jadi saya melewatkan untuk belajar membatik disini.

Foto bareng anak-anak yang sedang belajar membatik.

Saya sangat suka museum ini. Membuat kita belajar untuk menggali dan melestarikan warisan mahakarya Indonesia yang luhur ini. Bahkan meneliti dan mengembangkannya. Atau paling tidak, menjadi sadar akan nilai-nilai kehidupan yang tertanam di balik sehelai kain batik.

Minuman Limun Jadoel

Bukan Orson, ini Limun Oriental

Tak sampai lima menit berjalan kaki di gang samping museum, kami menemukan pabrik minuman Limun dengan merk dagang ‘Oriental’ yang sudah ada sejak tahun 1910. Letaknya persis di seberang Benteng Pekalongan. Pabrik ini sempat jaya di tahun 1970, sebelum perusahaan minuman ringan asal Amerika ikut menyerbu Indonesia.

Limun Oriental

Limun ini adalah minuman ringan bersoda. Bedanya, Limun Oriental ini menggunakan gula asli, bukan gula buatan. Rasa soda dan manisnya juga tak terlalu kuat. Jadinya lebih menyegarkan dan menghilangkan dahaga, tidak seperti minuman soda zaman sekarang yang malah membuat bertambah haus.

Pesta Limun!

Harga satu botol minuman adalah 7 ribu rupiah beserta botolnya jika mau dibawa pulang. Jika minum di tempat hanya 3 ribu rupiah saja. Kami mencoba hampir semua rasa seperti strawberry, nanas, melon, hingga rasa kopi. Interiornya yang betul-betul jadul membuat kami merasa seperti seorang priayi yang sedang menikmati minuman yang rakyat jelata tak mampu beli, haha!

Pasar Setono

Sebelum kembali ke stasiun Pekalongan untuk mengejar kereta ke Jakarta, saya sempat mampir ke Pasar Grosir Setono untuk membeli beberapa batik. Koleksinya lengkap, hampir semua jenis pakaian ada versi batiknya. Harganya pun murah-murah. Saya yakin kalau kamu yang doyan belanja fashion, mungkin kamu butuh seharian untuk belanja seharian disini!

Baca juga cerita sebelumnya di Pekalongan:

  1. Numpang lewat Curug Sibedug http://wiranurmansyah.com/numpang-lewat-curug-sibedug
  2. Curug Bajing di Petungkriyono Pekalongan http://wiranurmansyah.com/curug-bajing-di-petungkriyono-pekalongan
  3. Kebun Teh Pagilaran di Batang http://wiranurmansyah.com/kebun-teh-pagilaran-di-batang
  4. Belajar Membatik bersama Komunitas Batik Rifaiyah Batang http://wiranurmansyah.com/belajar-membatik-bersama-komunitas-batik-rifaiyah-batang

**

14 COMMENTS

  1. Belajar membatik? Hal yang ingin aku lakukan setiap kali ke tempat yang bernuansa batik. Keren juga ya Mas Museum Batiknya. Walaupun tiket masuknya murah banget, tapi pengelolaannya sangat bagus. Terlihat dari kebersihan lokasi museum itu sendiri.
    Kan sering tuh, ke tempat wisata yang mana tiket masuknya murah, sehingga pengelolaannyapun apa adanya (kurang terawat).

    • Bener mas.. setuju.. murah tapi tertata rapi.
      Mungkin itu juga utk daya tarif supaya orang2 tertarik berkunjung ke museum.. karna museum kayak kalah sama wisata2 lainya..
      Padahal datang kemuseum selain hiburan jalan2 kita juga dapat ilmu..

  2. Betuul, pasar grosir batik setono bisa bikin ibu2 kalap belanja. Harganya dari yang setara dengan nasi warteg hingga yang setara dengan satu unit motor pun adaaa

  3. Limun nya seger banget tuh siang2..

    Suka nih kalimat ini… Haha.. “kami merasa seperti seorang priayi yang sedang menikmati minuman yang rakyat jelata tak mampu beli, haha! “

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')