Ngapain aja di Cirebon?

2

Setelah berkunjung dan belajar ke tempat pengolahan minyak bumi dan bahan bakar milik Pertamina, keesokan harinya saya berjalan-jalan di kota Cirebon. Saya tak berdaya atas panggilan nasi jamblang dan kawan-kawannya.

Namun sebelum waktu makan siang tiba, saya juga sempat mengunjugi dua tempat wisata di Cirebon. Goa sunyaragi dan Keraton Kasepuhan.

Perhentian pertama di pagi hari adalah Goa Sunyaragi. Goa ini bentuk luarnya mirip sebuah candi. Arsitekturnya unik. Bentuknya seperti candi, namun lapisan luarnya terdiri dari karang laut. Bukan motif relief seperti candi Hindu maupun Budha.

Kesultanan Cirebon adalah kesultanan Islam. Penggambaran makhluk hidup seperti relief-relief candi tidak diperkenankan. Itu salah satu alasannya.

Sunyaragi berasal dari kata Sansekerta. Sunya berarti sepi. Ragi berarti raga. Raga yang sepi, seperti tujuan dibuatnya goa ini yang memang untuk menyepi para Sultan Cirebon dan keluarganya.

Ada beberapa ruang Goa disini. Tempatnya cukup sempit untuk ukuran seorang dewasa.

Di bagian belakang goa, ada tempat yang katanya digunakan untuk telepati ke Arab dan ke China. Untuk komunikasi Sultan dengan pemimpin dari kerajaan yang jaraknya ribuan kilometer itu. Entah benar atau tidak, itulah yang dikatakan pemandu kami.

Cagar budaya yang letaknya di pinggir jalan bypass Bridgen Dharsono ini sangat instagramable banget!

Halaman belakang goa sunyargai dengan panorama Gunung Ciremai

Banyak fotografer yang candid mengambil foto kita kemudian langung dicetak. Bisa ditebus dengan harga lima ribu rupiah.

Duh mang makasih saya jadi keren gini :))

Setelah menikmati matahari terik di Goa Sunyaragi, kami bertolak ke Keraton Kasepuhan. Salah satu keraton tertua di Indonesia.

Keraton ini adalah yang terbesar dan paling terawat di Cirebon. Wajar saja, Sultan masih tinggal disini! Tapi kita tetap boleh masuk kok, asal tidak masuk ke dalam istana utama. Kecuali ada janji ataupun kepentingan dengan beliau.

Setiap sudut di dalam keraton ini sarat makna. Kebanyakan berasal dari nilai-nilai islam. Contohnya adalah ada pendopo yang punya lima tiang penyangga melambangkan lima rukun islam.

Bangunan kayu disini kebanyakan masih orisinil, tetap dijaga keutuhannya sejak abad ke 15. Konstruksinya pun tidak menggunakan paku, tetapi pasak kayu saja.

Bangunan utama dari depan
Bangunan utama keraton kasepuhan

Ada tiga halaman utama yang harus kita lewati dan taman bernama dewandaru sebelum sampai ke bangunan utama keraton tempat tinggal sultan. Banyak pohon-pohon besar yang sudah sangat tua disini, membuat kesan yang sangat rindang.

Keraton ini punya museum baru yang baru dibuka pada Juni 2017 lalu. Museumnya sangat modern. Dan yang paling penting bersih, ada AC-nya, terawat, dan koleksinya keren!

Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon

Koleksi andalan museum ini adalah kereta barong yang merupakan kereta kencana Sultan Gunung Jati. Kereta tersebut dikeluarkan setiap satu syawal untuk ‘dimandikan’.

Selain kerata Barong benda-benda yang ada di museum adalah peninggalan dari jaman Padjajaran akhir, Sunan Gunung Jati, hingga era kesultanan mulai dari Sultan Sepuh I hingga Sultan Sepuh XIV.

Kereta Barong

Museum ini buka setiap hari dari jam 8 pagi hingga 5 sore. Harga tiket masuknya 25 ribu rupiah. Sangat saya rekomendasikan jika kamu berkunjung ke Cirebon!

Salah satu koleksi museum

Lukisan Prabu Siliwangi

Waktu makan siang pun tiba, saya mencari kuliner cirebon yang belum saya coba saat trip ini. Empal gentong dan tahu gejrot sudah dicoret dari list. Tinggal dua nasi khas sini yang belum saya coba. Nasi Jamblang dan Nasi Lengko.

Nasi Jamblang Bu Nur

Pilihan jatuh ke Nasi Jamblang karena ini adalah makan siang setelah sejak pagi kita berjalan dan berpanas ria ke keraton dan ke goa sunyaragi. Nasi lengko saya anggap cuma ‘cemilan’ karena cuma nasi, tauge, kucai, tempe yang disiram kuah kacang. Menu vegetarian yang kurang cocok buat saya yang sedang butuh protein hewani ini.

Nasi Jamblang sebetulnya adalah nasi dan lauk pauk biasa. Yang membedakannya dari nasi biasa adalah pemakaian bungkusan daun jati untuk nasinya. Sehingga ada aroma unik yang terpancar dari nasi.

Pilih lauk yang mana?

Lauknya pun beragam. Yang paling populer adalah cumi yang dimasak bersama tintanya. Tak ada jejak cabai dalam si tinta hitam ini, tapi ternyata pedas sekali saat dimakan! Lauknya lebih mirip seperti masakan sunda. Sambalnya maknyuss. Tak terasa dua bungkus nasi Jamblang sudah saya habiskan.

Terima kasih!

2 COMMENTS

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')