Pasar Papringan di Temanggung ini cuma buka di hari minggu. Lebih tepatnya hari minggu pon dan minggu wage berdasarkan penanggalan Jawa. Kira-kira sekitar 2 minggu sekali.

Tempatnya rindang. Suasananya adem khas pedesaan. Hutan bambunya lebat. Kalau pernah ke Arashiyama Bamboo forest di Kyoto, Jepang, tempat ini mirip-mirip lah walaupun tak serapih disana. Namun saya lebih suka disini, karena banyak jajanan pasarnya haha!

Di pasar papringan ini hutan bambunya masih alami. Saya melihat bambu yang diameternya hampir mencapai 30 cm!

Untuk jajan di Pasar Papringan kamu tidak bisa menggunakan rupiah. Kamu harus menukar rp. 2000 dengan satu buah ‘pring’. Saya pikir bakal jadi tempat turis yang harganya overpriced seperti misalnya Pasar Terapung di Lembang, Bandung. Namun ternyata harganya masih masuk akal.

Pring artinya adalah bambu dalam bahasa jawa. Sedangkan Papringan, yang menjadi nama pasar ini berarti adalah hutan bambu. Ada tempat penukaran pring di beberapa titik di pasar. Pring yang sudah ditukar tidak bisa lagi ditukar ke rupiah, jadi pastikan kamu tidak menukar terlalu banyak. Namun demikian, kamu bisa menggunakan pring tersebut untuk gelaran pasar papringan selanjutnya.

Harga makanan kecil seperti gethuk, ongol-ongol, atau kerupuk sekitar satu pring (2000 rupiah). Harga segelas jamu 2 pring. Harga makanan besar sepiring sekitar 4-5 pring saja. Lebih baik sebelum menukarkan uang, kamu bisa berkeliling pasar untuk mengincar apa saja yang bakal kamu beli. Karena para pedagang disini jumlahnya cukup banyak.

Pasar ini sudah buka dari jam 6 pagi, biasanya jam 11 siang dagangan sudah habis. Jadi sebaiknya datang pagi-pagi. Belum lagi mencari tempat parkir yang cukup sulit. Karena yang datang kesini bisa mencapai lima ribu orang per hari!

Saking penuhnya, biasanya orang parkir di luar desa dan berjalan kaki atau naik ojek untuk menuju ke dalam pasar papringan.

 

Pasar papringan ini berada di dusun kelingan, desa caruban, kecamatan kandangan, Kabupaten temanggung. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota temanggung. Waktu itu saya bermobil dari kota Wonosobo. Ambil arah ke kandangan, nanti juga cukup banyak petunjuk arah untuk kesana.

Ada apa aja di Pasar Papringan?

Pasar ini temanya jadul dan ndeso. Rasanya seperti kembali ke pedesaan jawa zaman dahulu. Semua penjual memakai seragam baju lurik khas jawa.

Pasar papringan ini juga ramah lingkungan. Saya melihat mereka tak menggunakan plastik sama sekali. Ada keranjang belanja yang terbuat dari anyaman kayu yang bisa dibeli dengan harga 3 pring. Bungkus makanan pun kebanyakan berasal dari daun pisang.

Banyak makanan khas jawa tengah seperti soto, pecel, jamu, serta yang lainnya. Namun saya perhatikan banyak sekali olahan jagung dan singkong di pasar ini! Mulai dari tiwul, gethuk, hingga makanan yang saya tak tahu namanya apa.

Jajanan pasar seperti cenil, klepon, dan gorengan juga tak terhitung jumlahnya. Minuman juga tak kalah lengkap. Ada wedang jahe, wedang ronde, susu kacang, kopi, es dawet, hingga jamu berbagai jenis.

Selain makanan, di Pasar Papringan juga menjual berbagai macam hasil tani hingga mainan anak-anak. Ada arena bermain anak-anak seperti ayunan dan jungkit-jungkitan yang terbuat dari bambu. Ada juga bilik untuk ibu menyusui anaknya.

Saya membeli lontong mangut seharga empat pring. Ini adalah kuliner lontong yang disiram dengan kuah santan kental beraroma bawang putih yang berisi ikan sungai. Harganya hanya 8000 rupiah alias 4 pring saja. Di Jakarta mungkin sudah nggak bisa dapat nih harga segini!

Pasar yang sangat unik, bukan? Belakangan, saya baru tahu kalau pasar ini diinisiasi oleh Singgih Susilo Kartono, seorang penggiat kerajinan tangan asal Temanggung yang terkenal dengan produk radio kayu merek magno dan sepeda bambunya yang telah diekspor ke luar negeri.

Overall saya sangat suka tempat ini. Kalau saja bisa diadakan seminggu sekali pasti lebih asyik. Letaknya memang agak di pedalaman kabupten Temanggung. Tapi saya jamin kamu yang pecinta kuliner dan tempat-tempat unik nan instagram-able bakal betah disini.

10 COMMENTS

  1. Awalnya pasar papringan ini tiap selapan saja, tepatnya minggu wage saja bukanya. Jadi tiap 35 hari sekali baru buka. Setelah itu sempat vakum, beberapa saat dan kemudian kembali buka di tempat yang berbeda.

  2. >>
    unik banget ya..
    jajanan2nya..penjual2nya..wadah2nya..konsepnya semua sangat ramah lingkungan
    coba di kota ciamis ada yg seperti pasar papringan jg..😉

  3. pasarnya unik banget om. saya penasaran dengan suasana hutan bambunya.
    lebih enakan naik mobil atau motor kalau kesana om wira?
    dan satu lagi saya mau tanya om, cenil itu makanan apa ya om?

Leave a Reply to Wawa Yasaruna Cancel reply