Penerbangan Jakata ke Bali adalah salah satu rute domestik yang gemuk di Indonesia. Garuda bahkan punya beberapa jadwal dengan pesawat besar seperti boeing 777 ataupun airbus A330 untuk rute ini.

Kali ini saya mencoba batik air di kelas bisnis. Sebetulnya tiket asli yang dibelikan klien saya adalah kelas ekonomi. Saya mencoba kontak customer service apakah bisa diupgrade jadi kelas bisnis. Mereka mengiyakan, dengan syarat saya harus membayar biaya kekurangan 700 ribu rupiah.

Hmm. Tiket ekonomi batik saat itu sekitar 1.3 juta untuk bali-jakarta. Kalau saya menambah 700 ribu, berarti harga tiket adalah 2 juta rupiah. Saya cek garuda saat itu untuk ekonomi adalah 1.9 juta rupiah (pertengahan desember 2018). Jadi, harga tiket kelas bisnis batik cuma beda 100 ribu saja!

Untuk kelas bisnis garuda? Wah, itu nggak usah ditanya. Harganya sudah mendekati 5 juta rupiah!

Tapi saya tetap punya prinsip, “you get what you paid for.”

Jadi mari kita lihat bagaimana si batik air kelas bisnis ini.

Sesampainya di bandara denpasar, counter check in khusus business class kosong, tak ada antrian.

Petugas check in memberi tahu saya kalau di DPS tidak ada lounge untuk batik air. Wah, sayang sekali ya. Saya pun sarapan di restoran sekitar gate, padahal rencananya mau sarapan di lounge saja untuk berhemat hehe.

Pesawat saya kali ini adalah boeing 737-900 dengan registrasi PK-LBH. Penumpang naik ke pesawat tidak menggunakan garbarata. Penumpang harus turun di tangga samping garbarata dan menyebrang sedikit (dan berpanas-panasan) saat masuk ke pesawat.

Padahal garbaratanya kosong, kenapa tidak digunakan ya? Saya sengaja masuk terakhir agar tak berpanas-panasan terlalu lama.

Masuk pesawat, saya diberikan welcome drink. Pilihannya mixed juice dan air putih saja.

Ada dua belas kursi di kelas bisnis. Konfigurasi 2-2 untuk ketiga barisnya. Tentu jauh lebih luas daripada kelas ekonomi.

Saya langsung mengecek kursi ini apakah ada in flight entertainment-nya (IFE) atau tidak. Untungnya ada. Beberapa kali saya naik batik di ekonomi, kadang ada IFE-nya, kadang ada yang tidak. Kebanyakan pesawat yang airbus A320 tidak ada IFE-nya. Entah mengapa.

Saya suka warna interior business class batik air. Warnya coklat muda dan krem yang elegan, terasa classy.

Legroom terasa cukup lega. Sayang kursi di depan saya ada kotak hitam yang bakal sedikit menghalangi kaki kursi di samping saya.

legroom batik air business

Kursi bisa di reclined dan ada footrest dan pengaturan lumbar. Saya pikir fungsi-fungsi ini diatur elektrik. Tapi ternyata masih mekanik biasa. Tapi saya bisa bilang kursi ini sangat empuk dan nyaman.

remote IFE

Waktu mulai tutup pintu dan pesawat mulai taxi di runway, suhu kabin sangat panas seperti AC tidak menyala. Ini juga kadang tidak konsisten, kadang panas kadang normal. Pramugari pun mengumumkan permintaan maaf atas ketidaknyamanan ini. Baru saat pesawat take off, suhu kabin normal kembali.

Sajian makanan pun tiba. Ada dua pilihan : omelet atau nasi liwet. Tentu saya memilih nasi, hehe. Tadinya pramugari sempat salah memberi makanan ke saya, yang datang malah omelet. Untung belum saya icip-icip.

Nasi liwetnya enak. Gurihnya pas, ayamnya tak terlalu kering walaupun tak juga juicy. Sambal dan sambal goreng kentangnya juara!

nasi liwet
omelet, pesanan salah datang

Ada brownies dan pisang untuk desert. Saya memesan secangkir kopi hitam untuk menemani brownies yang rasanya cukup manis tapi terlalu kering ini. Mirip nastar jadinya haha! Untungnya rasa cokelatnya cukup enak.

Saya tidak begitu tertarik untuk menonton film di batik karena biasanya kurang update. Namun untuk penerbangan 1 jam 50 menit ini tak masalah sih. Saya lebih memilih mengeluarkan laptop dan menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Pesawat landing dengan mulus di soekarno hatta 10 menit lebih awal dari jadwal seharusnya. Saya keluar paling pertama. Ada area khusus untuk bagasi business class, tapi saya tak melihat ada petugas. Untungnya bagasi saya keluar paling pertama setelah belt bagasi mulai bergerak. Ya, paling pertama haha!

Overall, saya cukup puas dengan batik business class. Value for money-nya cukup baik. Menurut saya, kalau harganya sedang tidak jauh berbeda dengan kelas ekonomi garuda, saya bakalan naik batik kelas bisnis ini.

Terima kasih!

.

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')