Panggilan dari yang di atas untuk pergi ke tanah suci memang misterius.

Ada yang punya rezeki cukup, badan sehat, tapi tidak punya waktu luang.

Ada yang punya badan sehat, waktu yang luang, tapi rezeki belum mencukupi.

Ada yang rezeki sudah mencukupi, punya waktu luang, tapi kondisi badan belum memungkinkan.

Tapi ada juga yang rezeki cukup, badan sehat, waktu luang, tapi belum merasa ‘terpanggil’.

Memang dasar manusia ya :)

Saya sendiri?

Saat itu, saya termasuk kategori yang Alhamdullilah sudah dimampukan oleh yang di Atas, tapi belum merasa ‘terpanggil’. Sampai suatu ketika ada banyak runtutan kejadian yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk pergi Umroh.

Kejadiannya terlalu personal untuk diceritakan. Tapi intinya sih, saya sedang kecewa dan patah hati. Sindrom quarter life crisis juga nampaknya ikut menghantui saya.

Ah, dasar manusia, kalau lagi susah, baru deh ingat yang di atas :)

Saya mendaftar h-12 sebelum hari keberangkatan. Saat itu menjelang bulan ramadhan, sudah tentu harga tiket pesawat dan hotel melonjak. Namun karena sudah berniat, saya sampai tak berfikir dua kali untuk mengeluarkan uang yang menurut saya cukup banyak itu.

Rezeki sudah ada yang mengatur, jadi tak perlu takut. Beli tiket promo ke Eropa gak pake mikir, masa mau berziarah rumah baginda Rasul masih ragu?

Saya teringat janji saya pada diri saya sendiri dulu, “Pokoknya gue pertama kali ke luar negeri pakai duit sendiri itu tujuannya harus Umroh.”

Kecewa juga sih, saya mengingkari janji yang saya buat pada diri saya sendiri :)

Alhamdullilah, travel agent yang saya pilih berdasarkan riset google selama beberapa jam itu masih punya slot untuk tanggal di awal Ramadhan.

Saya langsung diminta untuk suntik vaksin meningitis keesokan harinya, dan mengirimkan paspor secepatnya karena waktu sudah sangat mepet.

Paspor saya juga belum tiga nama. Jadi setelah pagi hari saya suntik meningitis di kantor kesehatan bandara soekarno hatta, saya langsung meluncur ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan buat menambah nama.

Alhamdullilah, proses tak sampai sepuluh menit. Saya juga baru tahu antriannya beda dengan membuat baru atau memperpanjang paspor. Jadi tak perlu ambil antrian ya, apalagi daftar online segala. Langsung datang saja, isi form bermaterai, dan tunggu sebentar.

Singkat cerita, saya pun sudah di dalam pesawat Garuda Indonesia GA970 dengan armada boeing 777-200, dari Jakarta langsung menuju Madinah.

Rute ini jauh lebih nyaman daripada harus ke Jeddah terlebih dahulu. Karena dari Jeddah kalau ingin ke Madinah, harus naik bis lagi sekitar 5 jam. Lumayan kan, belum lagi ditambah penerbangan Indonesia – Arab Saudi yang sekitar 9 jam.

Dan saya juga lebih suka Bandara Prince Mohammad Bin Abdul Aziz yang sudah modern di Madinah, daripada Bandara King Abdul Aziz Jeddah yang sudah sangat tua hihi!

Bis mulai bergerak dari Bandara ke Hotel kami di kota Madinah. Ustadz pembimbing sudah mulai mengajak kami untuk mengumandangkan kalimat Talbiyah.

“Labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, inal hamda wan ni’mata laka wal mulka laa syariika laka.”

Artinya : “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah dan tiada sekutu apapun bagi-Mu. Sesungguhnya puji, nikmat, dan kekuasaan hanya bagi-Mu tanpa sekutu apapun bagi-Mu”

Saat tiang-tiang masjid Nabawi sudah terlihat dari dalam Bus, ustadz mengajak kami untuk memberi salam kepada Nabi Muhammad. Karena di situlah rumah dan makam beliau berada.

Saat saya mengucap, “Assalamu alayka ya Ya Rasulullah… “

Seketika dada saya terasa sesak. Saya mencoba menahan air mata tapi tak sanggup. Rasa rindu yang selama ini tertahan akhirnya bisa sedikit terobati.

Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad …

..

Hotel kami Dekat saja, tak sampai setengah jam kami sudah sampai di hotel. Karena saya ambil paket yang hemat, jadinya satu kamar diisi empat orang.

Beruntungnya, hanya beberapa langkah dari depan hotel, Masjid Nabawi sudah di depan mata. Tips buat yang akan kesini : ingat-ingat nomor pintu masjid yang terdekat dengan hotel kalian. Karena masjid Nabawi Madinah ini luasnya luar biasa!

Hari-hari di Madinah kami isi dengan beribadah. Di area masjid Nabawi, para peziarah nampak sangat ramai. Apalagi jika kita berada di area karpet hijau, Raudah. Area yang disebut-sebut sebagai taman surga. Tempat diantara makam dan mimbar rasul.

Di area ini para askar mengatur para jamaah yang masuk. Sistem buka tutup pun diterapkan. Jadi kita tak bisa berlama-lama beribadah di dalam sini, kita juga harus memikirkan saudara kita dari segala penjuru dunia yang juga mau berdoa di raudah.

Askar-askar ini selalu berteriak, “Hajj, Hajjah, Hajj, Hajjah!” kepada para pengunjung. Jadi, haji itu berarti ziarah kan ya. Semua orang di sini di sebut peziarah. Hajj untuk peziarah pria, Hajjah untuk peziarah wanita.”

Kenapa ya cuma di Indonesia Haji itu jadi gelar yang disematkan di depan nama? Rasa-rasanya tak ada kaum muslim dari negara lain yang berlaku seperti itu. Entahlah, hehe.

Oh iya, buat yang mau makan Al-Baiq, gerai fast food Arab yang terkenal dengan ayam gorengnya ini ada di dekat pintu keluar yang dekat pemakaman Baqi. Jalannya agak lumayan tapi masih bisa dicapai dengan berjalan kaki sih. Sekitar 10-15 menit berjalan saja.

Ayamnya memang gurih dan sangat juicy. Dan yang paling penting : murah! Paket 4 buah ayam dengan kentang dan roti dihargai 13 real ( sekitar 48 ribu rupiah). Apalagi saus bawang putihnya legend banget! Cuma ya antrinya yang harus sabar. Apalagi orang-orang arab ini budaya antrinya lebih parah dari di Indonesia kalau yang saya lihat di dalam Al Baiq haha!

Oh iya, pembeli untuk pria dan wanita di pisah. Kalau di cabang Al Baiq yang agak besar biasanya ada juga untuk family area, tempat makan untuk keluarga. Buat saya yang jomblo ini, ya terpaksa saya harus berjibaku dengan cowo-cowo arab yang beringas ini.

Kota Madinah di luar area masjid nabawi sangat sepi. Rasanya tenang dan damai. Waktu itu saya bulan Mei 2018 di sini. Suhu mencapai 42 derajat. Panas namun tidak membuat gerah sama sekali. Angin bertiup sepoi-sepoi. Mungkin kelembaban udara sedang rendah. Jadi enak sekali kalau berjalan-jalan pagi dan sore hari.

Yang paling saya suka dari Masjid Nabawi adalah air zam-zam yang melimpah. Galon-galon dan gelas tersedia di tiap sudut masjid. Sayangnya air zam-zam di sini dingin. Kalau kamu tidak suka dingin seperti saya, cari galon yang ada tulisan ‘not cold’.

Bicara dingin, masjid ini memang dingin betul. AC ada di hampir tiang penyangga. Jadi saya selalu cari posisi agak jauh dari tiang agar tidak masuk angin.

Oh iya, setiap sehabis solat fardu di Masjid Nabawi ini selalu diadakan sholat Jenazah. Jadi kalau kamu berniat ke sini,  jangan lupa hafalkan bacaannya kalau belum yah.

Apakah kamera boleh masuk ke dalam masjid? Untuk area luar, tidak masalah sih. Tapi kalau untuk area dalam memang agak strict. Di tiap pintu ada askar yang melakukan random check barang bawaan kita. Kalau mau bawa kamera ke dalam, pastikan jangan kamera besar seperti DSLR. Tas nya juga jangan terlalu besar agar tidak terkena random check.

Tas selempang saya cukup untuk membawa sendal (sendal ini enaknya dibawa masuk ke tas pakai plastik, karena kadang kita lupa masuk dari gate berapa), botol minum, dan kamera mirrorless kecil. Selama saya di sana tidak pernah sih kena random check.

Kalau apes ketahuan bawa kamera, siap-siap aja tidak diizinkan masuk. Untuk kamera hape, sepengelihatan saya mau di dalam maupun di luar tidak masalah.

Tapi ya, kita kan lagi ibadah yah. Gak usah lah misalnya pas lagi shalat di masjid nabawi pake instagram live hehe.

Shalat tarawih pertama saya di Masjid Nabawi agak berantakan. Saya sangat mengatuk. Selain karena perbedaan empat jam lebih lambat dibanding Jakarta, bacaan imam yang menghabiskan satu juz juga membuat tarawih semakin lama. Untung saja bacaan imamnya sangat enak didengar.

Seorang kawan asal Malaysia yang baru kenal di sebelah saya cuma bisa menepuk pundak saya, sambil tertawa-tawa melihat saya yang teler menahan kantuk macam orang mabuk.

bersambung ke part 2

 

5 COMMENTS

  1. hampir sama . patah hati lalu buru-buru nyari travel umroh. tapi bukan buat aku, karena bapak ibuku belum umroh jadi mereka duluan saja. alhamdulillah hotelnya juga dekat seperti ini. dan tak disangka, bapak-ibuku ketemu tanteku yang sudah 10 tahun hilang tanpa kabar. dulu dia berangkat ke arab jadi TKW, lalu nggak ada beritanya sampai yang dirumah pasrah.

  2. Salah satu yg berkesan waktu kesana adalah, martabak telor dan es krim atau gellatonya. Mas Wira sempet nyobain martabak sama es krim nya ga ??

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')