Kenapa perjalanan solo? Ya, karena  saya terpaksa pergi sendiri secara tidak ada yang mau ikut dengan macam-macam alasan seperti, “gw udah pernah kesana,” atau “ah, ujung genteng mainstream udah biasa,” dan saya udah kepengen banget kesana sejak melihat foto-foto ujung genteng ini di sebuah majalah wisata.

Secara dua kali si 12-24 dipenjem sama jaki dan fatur ke ujung genteng sedangkan yang punya aja belum pernah kesana. Bagaimanapun saya tetap pergi kesana. Solo travelling. Yeah!

Curug Cikaso

Perjalanan saya mulai dari kosan menuju terminal leuwipanjang dengan sangat lambat karena angkot-angkot  itu secara tidak professional berhenti di sembarang tempat dan membuat perjalanan jadi lama. Tiba di terminal sekitar pukul 5 sore dan langsung mencari bis ke sukabumi. Saya mencari bus MGI karena bis ini yang paling nyaman tapi saya tidak menemukannya, jadi saya naik bis sangkuriang atas petunjuk sang calo bis katanya kalo naik yang bukan bis AC bakal lama banget menuju sukabumi. Ongkosnya sekitar 25 ribu.

Perjalanannya tidak terlalu ekstrim, hanya mungkin saat di sekitar padalarang akan sedikit berkelok-kelok tapi cuma sebentar. Selebihnya jalan lurus menuju sukabumi. Tiga jam perjalanan saya turun di yogya dept. store sukabumi.

Tetapi karena sudah terlalu malam jadi saya memutuskan untuk menginap di rumah paman saya di sukabumi. Dan dengan sangat beruntungnya saya ditraktir makan malam, lumayan hemat ongkos. :p

Ini pertama kalinya saya berada di sukabumi. Kesan saya kota ini terlihat cukup tenang dan damai, udaranya juga masih segar, dan  kotanya tidak terlalu besar walaupun cakupan kabupatennya hingga ujung genteng sampai pelabuhan ratu yang masih sekitar 120 km dari pusat kota sukabumi.

Pagi hari saya disuguhi pemandangan gunung gede yang terlihat dengan sangat jelas dari kota sukabumi. Ingin sekali mendakinya tapi belum terlaksana sampai sekarang.  Setelah berpamitan dengan paman, saya langsung menuju sub-terminal lembursitu karena angkutan menuju surade tidak ada di terminal degung sukabumi.

Naik angkot warna kuning dari ramayana dengan ongkos Rp. 5000, cukup mahal karena memang jaraknya agak jauh di pinggir kota. Seperti biasa pada saat masuk terminal banyak calo yang menawarkan angkutanya.

Sunset di pangumbahan

Nah, untuk menuju surade ada dua angkutan disini. Ada mini bus ( seperti metro mini) dan elf (di tangerang kita biasa menyebut elf odong-odong). Tapi saya sarankan naik elf karena selain lebih murah dan lebih cepat, elf juga lebih menantang adrenalin!Kenapa?

Karena perjalanan 4 jam tersebut kita akan lebih berasa naik roller coaster daripada naik mobil. Kondisi jalan yang cukup rusak sepanjang 100 km lebih ditambah supir-elf-yang-lupa-punya-rem itu akan membuat perut anda bergejolak.

Hampir saja saya mabok, tapi dengan kombinasi antimo + tolak angin saya dengan sukses tertidur pulas. Saran saya, cobalah duduk di depan karena getaran mobil tidak akan sehebat duduk di belakang.

Tetapi, walaupun angkot ini sangat tidak nyaman dan tidak berprikemanusian, orang-orang masih dengan hangat saling menyapa, “bade kamana aa?”, dengan logat khas sunda sukabumi yang masih terbilang halus. Saya pun bercakap sepanjang perjalanan dengan orang-orang di dalam kendaraan rakyat ini. Aahh, sungguh menyenangkan saat ada rasa kebersamaan seperti ini. Gubrak! Mobil masuk ke lubang lagi…

Diantara ujung genteng-pangumbahan

Sampai di surade sekitar jam 11 siang. Saya langsung mencari masjid terdekat dengan terminal untuk shalat jumat. Sholat jumat-nya agak aneh karena si khotib kok gak ceramah ya? cuma baca ayat-ayat al quran terus langsung shalat. Jadinya cepet banget deh..

Angkot menuju ujung genteng kalau sudah agak siang memang sulit, jarang yang sampai ujung genteng karena penumpangnya sepi. Jika kita rombongan, lebih baik langsung carter si angkot menuju penginapan. Ongkosnya Rp. 10.000 karena cukup jauh sekitar 20 km.

Untuk penginapan ada beberapa yang lumayan bagus seperti pondok hexa dan pondok adi, silahkan cek harga di sini. Tetapi jika uang tidak mengizinkan seperti saya ini, lebih baik mencari rumah penduduk di sekitar. Harga akan jauh lebih murah daripada di penginapan biasa.

Muara Cipanarikan

Karena saya kesini untuk hunting foto, maka saya langsung mencari spot untuk sunset. Setelah bertanya-tanya penduduk sekitar saya mendapatkan informasi, ” Sunset paling keren di ujung genteng ada di muara cipanarikan, sekitar 7 km dari pantai ujung genteng atau sekitar 1 km dari penangkaran penyu. Bisa dicapai dengan berjalan kaki ataupun naik ojek.

Setelah berjalan sedikit saya sadar bahwa tidak mungkin akan terkejar sunset jika berjalan kaki  akhirnya memutuskan untuk naik ojek. Tetapi perhitungan saya tidak salah, sekitar jam 5 saya sampai di muara cipanarikan dan mencari spot serta sedikit ” set up studio “. Saya masih memakai D40 saya yang sudah agak uzur, tokina 12-24, CPL, dan hitech GND.

Dan yeah! Wonderful sunset! Walaupun sedikit mengeluarkan uang 40 ribu untuk naik ojek, you get what you paid for!

Muara Cipanarikan

to be continued…..

 

11 COMMENTS

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')