Kamera ini merupakan upgrade dari Fuji X-T1 yang muncul tahun 2014. X-T1 adalah kamera mirrorless yang cukup mumpuni, namun X-T2 menambahkan dan memperbaiki fitur-fitur pada kamera ini sehingga jadi lebih sempurna.

Dan setelah beberapa minggu mencoba kamera mirrorless flagship dari fujifilm ini, saya berani bilang bahwa kamera ini adalah salah satu kamera mirrorless terbaik yang muncul tahun 2016!

Fuji X-T2

Kamera fuji tak terlalu mengandalkan spesifikasi, tapi inilah beberapa highlight-nya :

  • Sensor 24 Megapixel
  • 325 titik autofokus (169 diantaranya phase detection AF point)
  • Joystik untuk mengubah posisi titik autofokus
  • Dua slot SD card
  • Viewfinder elektronik OLED 2.36M-dot 60 fps, atau 100 fps pada mode boost.
  • 4K UHD video (30 fps), 1080p video (60p/30p/24p) dengan bitrate 100 Mbps
  • 8 fps continuous shooting dengan Auto Fokus (11 fps dengan booster grip)
  • 14 fps continuous shooting dengan elektronik shutter
  • Body weather sealed
  • 1/8000 max mekanik shutter, 1/32.000 max elektronic shutter.
  • Fuji film simulation color!

(catatan : foto-foto di postingan ini ini adalah output jpeg langsung dari kamera dengan film simulasi provia, beberapa hanya diadjust exposure-nya. Lensa 16 f/1.4 atau 35 f/2)

Pulau Padar, TN. Komodo

Autofokus menjadi lebih kencang, kualitas video membaik (bahkan jadi salah satu yang terbaik di kelasnya menurut saya), penambahan batere grip opsional yang bisa menampung dua batere tambahan, bisa charge lewat USB, hingga detail kecil seperti joystick untuk memilih titik autofokus membuat kamera ini layak untuk dipinang.

Lumba-lumba di lovina, Bali

Kamera fuji seri XT terkenal dengan tombol kontrol fisik yang ada di bodynya. Shutter speed, drive mode, metering, exposure compensation, semua ada putar-putarannya. Tak perlu lihat LCD ataupun masuk ke menu. Untuk para pecinta kamera analog, pasti akan terasa nostalgia. Di X-T2, tombol putar-putaran ini sekarang ada kuncinya. Bisa dikunci seperti tombol pada pulpen. Tekan sekali untuk membuka, tekan sekali untuk menutup.

iso 6400

Tombol titik merah untuk record video sudah tak ada. Kita harus pindah mode di drive dial sebelah kiri ke movie mode, dan mulai merekam dengan tombol shutter. Ini bagus karena tombol shutter lumayan besar daripada tombol record sebelumnya yang sulit dijangkau.

Namun, buat saya yang sering switch dari mode foto ke video, hal ini jadi menyulitkan karena dialnya sangat kecil dan bergabung dengan mode drive lain (continous mode, bracketing, multiple exposure, dll). Mungkin di versi selanjutkan ada switch dedicated untuk photo/video saja.

Tarian Caci, Flores.

Electronic Viewfinder yang berbahan OLED semakin membaik. Jendela bidik elektronik ini refresh rate-nya sudah 60 fps. Jika mengaktifkan perfomance mode, ia berubah jadi 100 fps! Ukurannya juga sangat besar, kalau kamu terbiasa pakai DSLR fullframe, ukurannya kurang lebih sama. Namun jauh lebih canggih karena bisa menampilkan eksposure real time.

.

LCD yang berukuran 3 inchi sekarang tak hanya bisa di tilt ke atas dan ke bawah. Tapi juga bisa digerakan ke kanan untuk mempermudah memotret pada orientrasi portrait. Dan sayangnnya, masih saja belum touchscreen. Namun saya tak masalah karena memang agak jarang terpakai.

Dua slot SD card UHS-II dengan port USB-3 juga ikut menambah kemampua kamera ini. Dual card bisa dikonfiguras RAW/JPEG, foto/video, backup foto, ataupun hanya menambah kapasitas.

Sensor Xtrans Fuji generasi ke tiga ini membuat ukuran foto bertambah dari 16 MP menjadi 24 MP. Kemampuan ISO menjadi 200-12800, juga ada ISO boost di L (iso 100), H1 (iso 25.600), H2 (iso 51.200).

Fuji sangat terkenal dengan JPEG-nya yang menawan. Saya jarang sekali menggunakan file RAW, kecuali untuk kondisi pencahayaan yang sulit. Menurut saya, jpeg-nya fuji itu warnanya tidak natural, tapi enak dilihat. Beberapa merk lain ada yang sangat mendekati warna asli, tapi malah jadi terlalu flat kalau difoto dan jadi kurang nyaman dilihat.

Kualitas video 4k-nya juara. Kualitas 1080 60p-nya JUARA! Baru kali ini saya melihat video yang sangat tajam dan warnanya jernih seperti ini. Bahkan saya harus menurunkan sharpness untuk video yang lebih natural. 4K 30p dan 1080p punya bitrate sekitar 100Mbps. Jadi file size-nya kurang lebih sama. Kalau kamu tidak butuh slow motion, lebih baik ambil video 4K sekalian ya.

Untuk melihat sample video, bisa melihat ke channel youtube saya disini. Vlog dari episode 10 ke atas dibuat menggunakan fuji X-T2. Beberapa ada yang menggunakan 60fps. Sayangnya saya belum sempat mengedit footage 4k-nya.

Ada 3.5 mic jack untuk microphone external, untuk headphone jack sebagai monitoring audio, kita harus membeli vertical grip yang akan menambahkan port tersebut. Vertical grip juga menambahkan kemampuan merekan 4k terus menerus dari 10 menit menjadi 30 menit.

Tidak ada stabilizer di sensor fuji. Jadi kalau ingin menggunakan stabilizer, harus menggunakan lensa yang ada stabilizernya.

Untuk autofokus video sudah sangat lumayan. Jika menggunakan lensa seperti 18-55 atau 18-135 yang motor autofokusnya sudah modern, fokus terasa smooth. Walaupun belum sampai di kelas dual pixel-nya canon. Tapi sangat usable! Saya pakai lensa 16 1.4 yang motor autofokusnya masih agak ketinggalan zaman, tapi tetap baik-baik saja performa continuous AF-nya. Walaupun ada suara motor AF masuk jika kondisi sedang tenang dan hanya memakai mic internal.

Untuk  kemampuan low light tak perlu diragukan. Saya bisa dengan leluasa menggunakan ISO 12.800 jika hanya untuk keperluan post di web. ISO 25.600 dan 51.200 juga tersedia untuk keadaan darurat.

Berikut iso test sederhana dengan menggunakan JPEG. Noise reduction disetting -2

foto untuk ISO test, zoom 100% ke tulisan ‘warung kopi’
iso 100 fuji x-t2
iso 200
iso 3200 fuji x-t2
iso 3200
iso 12800 fuji x-t2
iso 12800

Perbaikan Fuji X-T2 yang paling terlihat adalah pada sistem autofokus. Performa dan fleksibilitasnya sangat membaik dibanding Fuji X-T2. Ada 325 titik AF yang menyebar di seluruh frame, 169 diantaranya adlah sistem phase-detect (seperti DSLR). Bisa juga dibuat menjadi simpel dengan 91 titik AF dan 49 phase detect AF. Pada continuous AF, X-T1 bisa dibilang tak terlalu baik.

Dengan X-T2, kemampuan tracking sudah jauh meningkat! Untuk yang suka motret action, olahraga, ataupun foto dengan objek yang bergerak cepat, fuji X-T2 sudah sangat memadai. Tentu tak sehebat DSLR seperti nikon D500 atau canon 7D mark II, namun mungkin kemampuannya sudah seperti Nikon D7200 atau canon 70d (cuma perkiraan saya), which is sudah sangat memadai. Burst camera ini mencapai 8 frame perdetik. Jika menggunakan batere grip, kemampuan shooting meningkat jadi 11 fps.

Sejak dahulu fuji terkenal dengan kemampuan membuat skin tone jadi sangat enak dilihat. Apakah di X-T2 masih demikian? Menurut saya :YES! Silakan dilihat contoh-contohnya dibawah ini. (JPEG, film simulation provia)

Untuk saya saat ini, Fuji X-T2 sudah sangat mumpuni untuk kebutuhan foto dan video. Saya bisa dengan percaya diri untuk memotret dalam kondisi apa saja dengan kamera ini.

Untuk kekurangan yang paling mengganggu saya saat ini adalah tombol switch foto/video yang terlalu menyulitkan. Andai saja bisa memprogram salah satu tombol fn jadi tombol record video dari mode foto, mungkin hidup saya akan jauh lebih mudah.

Sekian dulu impresi singkat dari saya, nanti akan saya lanjutkan lebih detail di bagian continous AF dan bagian video.

Terima kasih!

11 COMMENTS

  1. Gue rasa selain kameranya yang bagus, man behind the gun-nya juga kece lah skillnya. PS: Wir kalo pake muka gue jadi model, Instagram gue dimention dong. #Asek #Menuju1000Followers

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')