Fuji X-A5 ini imut sekali. Unit yang saya dapatkan warnanya merah muda. Terlihat sangat menggemaskan.

Namun dibalik tampilannya yang bikin gemas ini, tersimpan imaging sensor sebesar 24 Megapixel dengan kualitas foto yang sangat prima.

Oh iya, kalau kamu merasa ketinggalan karena tak pernah melihat X-A4, tak perlu khawatir. Dari generasi sebelumnya X-A3, fuji memang langsung lompat mengeluarkan X-A5.

Apakah karena nomer 4 kurang membawa keberuntungan buat orang Jepang? Entahlah.

Di X-A5 tersedia LCD touch screen yang layarnya bisa di flip ke depan. Buat para penggemar selfie dan para vlogger pasti sangat suka.

X-A5, 15-45

Oh iya buat video, ada mic input untuk memasang mic eksternal, walaupun pada ukuran yang kurang standard yaitu 2.5 mm. Untungnya fuji juga mengeluarkan mic ST1 yang juga punya ukuran 2.5mm.

Video di X-A5 juga bisa untuk 4K. Sayangnya hanya di 15 fps. Untuk kamera 4K di 30 fps, minimal kamu harus step up ke X-T20.

Kameranya terasa sangat ringan. Body kamera sebagian besar plastik namun tidak terlihat murahan. Desainnya classy dan timeless.  Lensa kit power zoom 15-45 yang baru ini juga sangat mungil namun tajam dan autofokusnya cepat.

X-A5 memang sudah touch screen. Namun saya yang tidak terbiasa justru mematikan fungsi ini karena sering terpencet secara tidak sengaja dan mengubah posisi titik autofokus.

Fuji X-A5 menggunakan mode dial tradisional PSAM, tidak seperti seri X-T yang menggunakan putar-putaran shutter speed dan iso di atasnya. Tombol fn di atas bisa dialih fungsikan menjadi fungsi yang kita mau seperti film simulation ataupun iso.

Layar flip seperti ini hanya bisa ditemui di fuji yang entry level seperti XA5 dan XT100. Mengapa sih tidak buat X-H1 yang notabene adalah kamera hybrid tercanggih fuji saat ini?

Experience

Buat saya yang pengguna fuji X-T2, menggunakan X-A5 terasa agak melambat. Rasanya seperti memakai laptop yang sama tapi RAM-nya dikurangi.

Yang paling terlihat adalah saat navigasi menu. Terasa agak ‘loading’ saat kita mengkonfirmasi pilihan kita di menu.

Autofokus juga terasa lebih melambat saat low light dengan lensa yang sama.

Tapi, ya kalau kamu belum pernah memakai kamera kelas atas fuji, memakai X-A5 tidak akan terasa apapun. Semua akan terasa normal dan responsif.

Bahkan kalau dibandingkan X-A3 sebelumnya, autofokus di X-A5 ini betul-betul meningkat karena sistem autofokus hybrid yang baru. Walaupun pada mode video autofokusnya masih kurang memadai.

Kameranya ringan dan menyenangkan untuk dipakai. Selama kamu memakai lensa kit yang disediakan ataupun lensa fix ringan seperti XF 35 f/2.

Buat selfie-selfie, gak ada yang bisa mengalahkan kamera ini. Sebagus apapun handphone kamu, tidak akan pernah mengalahkan kamera betulan bersensor besar seperti ini.

Selfie dengan Fuji X-A5 di kondisi low light, lensa kit 15-45

Kualitas foto

Walaupun Fuji X-A5 menggunakan sensor bayer konvensional seperti kamera pada umumnya, warna-warni khas fuji tetap terasa di X-A5. Somehow, saya merasa hasil X-A5 lebih ‘matang’ daripada X-T2 yang bersensor Xtrans.

Mungkin karena ini kamera yang hasilnya harus sudah siap upload di social media? Fuji memang terkenal dengan kualitas JPEG yang sudah cantik.

Ya, kamu tak perlu khawatir kamera ini ada fungsi wi-fi untuk transfer langsung ke smartphone.

Noise pada iso 200-800 hampir tidak terlihat. Bersih. Iso 1600 mulai ada sedikit noise, iso 3200 noise mulai terasa tapi masih sangat oke.

Iso 6400 juga masih bisa digunakan jika hanya untuk keperluan web. Iso 25,600 dan 51,200 juga tersedia untuk keperluan darurat. Walaupun saya tidak menyarankannya.

Untuk kualitas video cukup baik pada 1080p. Untuk kebutuhan youtube sangat mencukupi. Walaupun sudah ada 4K, anggap saja ini kamera 1080p karena alasan frame rate yang kurang memadai.

Sungguh saya sangat suka desain kamera ini. Begitu juga dengan hasilnya. Kamera ini salah satu kamera paling terjangkau jika kamu ingin masuk ke ekosistem fuji. Image processing-nya mengagumkan.

Warna memang masalah selera, subjektif setiap orang. Tapi menurut saya, warna dari fuji ini akan disukai oleh sebagian besar orang karena saat memotret wajah, skin tone terlihat sangat aduhai. Best on its class.

Sampel foto tambahan

3 COMMENTS

    • Ini lensanya campur-campur. Tapi kebanyakan pake lensa kit 15-45. Kalau ada yang bokeh2 pake 56 1.2. Diedit paling terang-gelap aja. Kalau warnanya gak dirubah.

  1. mas wira, foto yg banyak pekerja mantel merah n orange, pakai lensa apa ya? warna nya asik berasa “hidup” gt hhehe

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')