Minggu Sore di Roponggi

7

“Aku di Tokyo nih, ketemuan yuk!”

“Eh seriusan? Yuk yuk. Dimana nih?”

“Karena kamu yang AKAMSI, ya terserah deh aku ngikut!”

“Oke besok sore di Roponggi yah!”

“Sampai ketemu besok, Ayumi!”

Percakapan saya di foto facebook mempertemukan saya kembali dengan seorang kawan asal Jepang yang saya kenal di Thailand. Namanya Ayumi, seorang penulis perjalanan yang sepertinya lebih sering ke Bali daripada saya sendiri.

Roponggi ini seperti kota sendiri di dalam Tokyo. Feel-nya sudah berbeda jauh dengan Tokyo. Sangat modern. Banyak sekali orang non-Jepang disini. Biasanya ekspat yang bekerja di Jepang memang banyak yang tinggal di Roponggi.

Roponggi Hils di sore hari musim dingin.

Roponggi memang terletak di Bukit. Makanya tempat ini jadi tempat bagus untuk melihat tokyo dari atas. Kalau kamu lihat foto gedung-gedung tokyo dengan Tokyo towernya, itu difoto dari sini. Kalau Bandung, ini mirip kayak dago pakar-nya deh.

Saya janji dengan Ayumi di Roponggi Hills, salah satu tempat shopping dan dining di Roponggi. Saya tiba duluan disana. Tiba-tiba saya melihat ada poster seorang street photographer asal jepang favorit saya yang sedang pameran disana : Daido Moriyama!

Pameran Daido Moriyama di Roponggi

Tak sadar saya menikmati karya-karya Daido, saya ditepuk oleh seseorang.

“Wiraaaaa!”

“Ayumi chann!”

Saya pun diajak berkeliling Roponggi Hills oleh Ayumi. Akhirnya ada kawan yang saya kenal dan bisa mengobrol karena saya sedang solo traveling ke Jepang waktu itu.

Kami berkeliling mencari spot untuk berfoto dengan latar belakang tokyo tower dari kejauhan. Namun malah menemukan dua orang aneh ini.

Tokyo tower dari Roponggi

Sore itu cukup dingin. Suhu sekitar lima derajat. Kami berjalan keluar dan turun dari pusat perbelanjaan Roponggi Hils. Mall ini memang literally ada di atas bukit. Tadinya kami ingin mengobrol di Starbucks dekat sana, karena di luar terlalu dingin.

Starbucksnya sangat unik, ia memadukan perpustakaan dan toko buku ke dalam kafenya. Bukunya bisa dibaca sepuasnya! Karena nampaknya starbucks disini bergabung dengan Tsutaya, perusahaan rental buku yang cukup ternama di Jepang. Tempat ini cocok sekali untuk menghabiskan malam minggu. Yes ini malam minggu, jadi anggap saja saya lagi ngedate dengan Ayumi!

Tapi sayang sekali, kedainya sedang penuh. Tak ada kursi tersisa. Kami pun berjalan keluar kembali mencari tempat lain sambil menikmati senja musim dingin di Tokyo.

Ayumi

Beberapa tempat yang bisa kamu kunjungi di Roponggi antara lain :

  • Tokyo City View. Ada di lantai 54 Mori Tower. Sebuah dek observasi dengan langit-langit yang tinggi dan dinding kaca mengililingi lantai tersebut. Membuat kita bisa melihat kota tokyo 360 derajat.
  • Mori Art Museum. Salah satu museum konteporer paling besar di Jepang. Masih di dalam Mori tower di lantai 34.
  • Roponggi Hills. Tempat saya dan ayumi hangout. Banyak toko baju dan kafe disini.
  • Roponggi Sakurazaka. Pohon-pohon sakura di sekitar Roponggi hills kalau malam semacam glowing begitu. Bagus banget. Ini foto yang biasanya ada di postcard Roponggi Hills.

“Ngemil dulu mau nggak? Ochazuke?” tanya Ayumi

“Ocha…apaan? Teh hijau?” jawab saya bingung.

“Ya! Tapi teh pakai nasi. Enak kok. Yuk!”

“Ummm…sounds weird, tapi hayoo aja sist!”

“Yuk, nanti mampir ke tempat pamanku disana ya. Ada kuil keluarga di jalan menuju kesana,”

Kami masih berkeliling Roponggi sampai Ayumi mengajak saya ke sebuah kuil milik keluarganya di dekat sini. Sebelum masuk, saya harus ‘wudhu’ bersuci terlebih dahulu. Dengan cara cuci tangan dan berkumur. Airnya dingin parah. Ia pun berdoa di depan kuil dengan menepuk tangannya serta membunyikan lonceng.

“Aku mau ambilkan shō-kichi untuk kamu, mau ya?”

“Apa itu?”

Sho Kichi adalah kertas kecil yang bertuliskan tentang ramalan nasib kita. Just for fun sih ya menurut saya. Tapi saya dapat yang seperti ini.

Diketawain gara-gara kata kertas-nya saya kurang beruntung
Okay…

Saya dibawa Ayumi ke tempat yang agak jauh dari Roponggi Hilss. Nampaknya dekat daerah pemukinan, tak ada banyak orang lewat. Restorannya kecil, mungkin hanya ada sekitar sepuluh meja.

Seperti kebanyakan restoran kecil di jepang, pembayarannya dilakukan di vending machine. Kita pilih menu, bayar, ambil kuponnya, dan berikan ke pelayan restoran. Cepat dan efisien. Restorannya punya interior yang dihiasi bambu-bambu khas jepang, juga ada background musik tradisional jepang.

Tuang teh ke dalam nasi

Menu disini hanya ada Ochazuke (お茶漬け, dari kata (o)cha ‘teh’ + tsuke ‘tenggelam’). Ini adalah makanan jepang berupa nasi yang disiram kuah panas. Kuahnya bisa air biasa, dashi, atau yang original yaitu green tea! Kemudian topping-nya kita bisa memilih sendiri. Banyak pilihan seperti acar, umeboshi, nori, furikake, salmon, tempura, shiokara, dan macam-macam.

Saya memilih dengan tempura, Ayumi memilih Salmon.

Saya menyukai green tea, jadi nasi dicampur teh ini rasanya enak sekali pemirsa! Jangan bayangin nasi indonesia dicampur green tea latte yah hehe. Ini nasi jepang yang sticky dan harum dicampur green tea yang tak punya rasa bitter-sweet. Saya juga mencoba versi dashi (kaldu ikan) dan rasanya jadi seperti sup! Cocok buat malam musim dingin.

Malam semakin larut, saya masih menikmati perbincangan ringan dengan Ayumi. Tentang perjalanan, tokyo, bangkok, hingga perbincangan tentang Bali. Masih ingin sekali berkeliling di kota favorit saya ini. Namun keesokan harinya, saya sudah harus terbang kembali ke Jakarta.

Sayonara Ayumi & Japan!

 

7 COMMENTS

  1. Cieee cieee Ayumi, kalo “klik” bisa kali ya jodohnya ketemu pas traveling gini 😂😂

    Ga di tampilin juga foto di Roponggi Sakurazaka nya Kang Wira? Ayumi aja ada banyak fotonya. Hehehehe

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')