danau segara anak

“Danau segara anak memang surga-nya Rinjani”

FAJAR mulai menyentuh pasir dan bebatuan, sementara saya masih terus berjuang di tanjakan pasir yang nyaris vertikal itu. Dengan segala kekuatan akhirnya saya berhasil berdiri di puncak tanah dewi anjani. Luar biasa, di sisi barat terlihat gunung Agung di Bali, sementara di sisi timur terlihat gunung Tambora di Sumbawa. Mereka nampak anggun sekali pagi itu.

“Setelah ini kita akan kesana,” kata rekan saya sambil menunjuk ke arah bawah. Dari atas sana terlihat danau segara anak membentang sejauh enam kilometer. Ditambah gunung barujari yang berbentuk kerucut khas gunung zaman purba, keindahan danau segara anak tidak terelakan. Saya segera beranjak dari puncak dan tidak sabar untuk menikmati segara anak dari dekat.

Danau segara anak dari puncak Rinjani

Untuk mencapai segara anak dari Plawangan sembalun, saya diminta untuk menuruni lembah-lembah curam yang didominasi bebatuan dan pasir. Licin, beberapa kali saya terpeleset. Badan sudah terasa lelah sehabis singgah di puncak Rinjani 3726mdpl, sekarang saya harus turun hingga dibawah 2000mdpl. Tetapi rasa lelah tersebut terbayar ketika saya melihat sebuah telaga raksasa di kejauhan.

“Seperti di film Jurrasic park,” saya bergumam. Kaki ini pun makin terpacu. Benar kata orang, pemandangan di pegunungan bisa mengalahkan rasa lelah!

Perjalanan menuju segara anak, seperti jurassic park – menurut saya

Setelah menuruni punggungan yang cukup panjang, saya disambut oleh suara desiran air segara anak yang tenang. Angin berhembus dari lembah-lembah yang mengitari danau, seakan melindungi danau ini dari dunia luar. Tidak mudah untuk mencapai danau, dan tidak ada jalur datar langsung untuk kesini. Mau tidak mau kita harus mendaki puncak plawangan, kemudian baru bisa turun ke danau ini. Perjuangan yang tidak sia-sia karena dibayar dengan penatapan seperti ini.

“Silakan diambil dek nanasnya,” seorang porter menawari saya sepotong nanas saat saya duduk keletihan sesampainya di pinggir danau. Mungkin melihat wajah saya yang sudah lesu terduduk bersandar di tas carrier, bapak porter tersebut menjadi iba. Dengan senang hati dan penuh haru saya menerima kebaikan hati sang porter.

Sambil duduk memakan nanas saya melihat beberapa orang sedang bahagia karena mendapat ikan besar sekali, sementara di kejauhan gunung barujari berdiri dengan angkuhnya. “Ahh, negeri ini memang sangat indah,” saya bergumam.

Segara anak sore hari

“Kalau capek coba berendam di air panas, dijamin langsung seger!” sahut teman saya. Setelah mendirikan tenda sayapun bergegas ke arah selatan danau. Hanya sekitar seratus meter dari camp saya menemukan hot spring alami Rinjani.

Beberapa orang terlihat sedang menikmati kehangatan di kolam alami ini. Lucunya, beberapa monyet liar mengawasi kita dari atas, mereka menunggu hingga kita lengah dan mencuri makanan! Saya mendengar ada beberapa yang kehilangan cokelat ataupun telurnya. Sungguh monyet yang cerdik.

Satu lagi ‘bonus’ dari Segara anak adalah Goa susu. Dinamakan demikian karena bagian dalam goa ini berwarna putih susu. Stalagnit di atap gua menetekan air panas sehingga uap-uap panas keluar dari mulut Gua. Sauna alami yang mempesona. Air panas dan gua susu menjadikan tidur saya sangat nyenyak pada malam harinya.

Twilight di segara anak. Momen yang tidak terlupakan.

Momen-momen terindah di Segara anak adalah saat matahari terbenam. Seperti lukisan, semburat oranye membentuk garis melintang pada dinding-dinding lembah sekitar danau. Sebagian terkena cahaya keemasan, sebagian tetap gelap. Permainan cahaya yang benar-benar membekas di hati. Segara anak memang surga-nya Rinjani. Tiada kata yang bisa terucap, kamera saya pun tidak mampu melukiskan keindahan ini. Saya terpejam, menarik nafas dan memindahkan keindahan ini ke dalam hati. Sementara kabut mulai turun rendah. Semakin rendah.

p.s : Buat yang mau ke Rinjani apalagi ke segara anak, sampahnya jangan ditinggal yah. Udah kebanyakan sampah disana. Jadilah pendaki yang bertanggung jawab. 

2 COMMENTS

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')