Setiap yang makan buah Carica pasti punya impresi yang berbeda. Ada yang bilang mirip pepaya, ada yang bilang mirip mangga, bahkan ada yang bilang mirip nangka.

Kalau saya bilang, waktu digigit teksturnya mirip nangka yang terlampau matang, waktu dikunyah mirip campuran pepaya dan mangga!

Apapun itu, saya sangat suka buah ini! Cocok buat desert setelah makan Mie Ongklok dan berpuluh tempe kemul!

Buah ini cuma bisa ditanam di beberapa dataran tinggi di dunia. Selain di Dieng, Carica hanya bisa ditanam di dataran tinggi Amerika Selatan.

Selain tempat itu, jika dipaksakan ditanam, Carica akan tumbuh jadi pepaya biasa saja. Makanya carica sering disebut sebagai ‘pepaya gunung’. Unik sekali bukan?

Carica ini punya banyak khasiat untuk kesehatan pencernaan, kesehatan mata, dan kecantikan kulit. Sayangnya, buah Carica tidak bisa langsung dikonsumsi karena ada jika dikonsumsi terlalu banyak bisa mengakibatkan iritasi pada bibir.

Agar aman dimakan, Carica harus di proses terlebih dahulu. Seperti yang dilakukan oleh Yuasa Food, sebuah UMKM milik Trisila Juwantara yang berlokasi di Jl. Dieng Km. 3, Wonosobo. Saya sempat mengunjunginya saat media trip yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM provinsi Jawa Tengah.

Baca jugaOleh-oleh Temanggung : Pisang Aroma dan Secangkir Kopi Posong

Usaha Pak Trisila ini sudah berjalan kurang lebih 17 tahun. Ia menggunakan ‘Buavica’ sebagai merk dagangnya. Buavica sudah diekspor ke beberapa negara seperti Thailand, Paris, hingga Jerman.

Kami diajak berkeliling di pabrik pengolahan Carica milik beliau. Mulai dari pemilihan buah carica, pengupasan, perebusan, hingga pemberian rasa dilakukan dengan prosedur yang sangat teliti dan steril.

Buah yang dipilih untuk manisan carica ini berwarna hijau kekuningan. Masih agak mengkel. Panjang buah juga tak boleh kurang dari 5.5 cm. Di proses pemotongan saya mencoba sedikit carica yang masih fresh ini, rasanya sangat juicy tapi hambar.

Selain manisan Carica, UMKM ini juga punya produk lainnya seperti selai Carica, sirup Carica, dan manisan Cabe Dieng. Ya, yang terakhir ini memang namanya manisan, tapi  rasanya pedas.

Yuasa food mengemas cocktail carica dengan berbagai macam varian. Mulai dari kaleng, gelas kaca, dan cup plastik berbentuk gelas. Untuk ketahanan tentu kemasan kaleng paling awet karena bisa mencapai tiga tahun, namun saya paling suka yang gelas kaca karena warna buah kuning Carica terlihat jelas.

Keripik kentang tanpa MSG 

Setelah mencoba keripik kentang di Banjarnegara ini, saya berani klaim kalau keripik kentang ini adalah keripik kentang paling enak di dunia! (yang pernah saya coba, hehe)

Sebelum ini, keripik kentang terenak adalah pernah saya coba ada di Jepang. Sayang harganya tapi betul-betul mahal. Namun sekarang, keripik kentang merk Albaeta ini adalah favorit saya. Selain harganya terjangkau, rasa gurih naturalnya luar biasa. Cari keripik ini kalau kalian ke Dieng!

Keripik kentang Albaeta adalah UMKM yang juga saya kunjungi di Dieng. Usaha ini sudah didirikan oleh Ibu Ety Tamir dan suaminya sejak tahun 1991. Hingga sekarang usaha ini masih berkembang dan menghidupi warga Desa Batur, Banjarnegara yang bekerja di sini.

Kentang yang dipakai Albaeta adalah kentang jenis agraria. Jenis kentang ini cocok untuk digoreng karena kandungan air dan gula yang rendah sehingga bisa lebih renyah.

Kentang yang bibitnya berasal dari Belanda ini cocok tumbuh subur di Dieng. Karena dieng punya ketinggian 1500 meter diatas permukaan laut. Tak heran, sejak memasuki dataran tinggi ini, perkebunan kentang terlihat sepanjang mata memandang.

Kebun Kentang di Dieng

Prosesnya begitu sederhana. Di pabrik mungil yang berada di belakang rumah, para pegawai dengan cekatan memilih, mencuci, dan menggoreng kentang.

“Bumbunya hanya garam saja. Tidak perlu penyedap,” ujar Ibu Ety.

Buat saya yang memang menyukai rasa asli sebuah makanan, keripik kentang ini langsung jadi idola. Tak ada rasa-rasa ‘palsu’ yang ditambahkan ke dalam keripik kentang ini. Tak ada rasa haus berlebih ketika habis memakannya. Dan yang paling penting, keripik ini juga tanpa pengawet dan pewarna. Tentu jauh lebih sehat!

Harga perkemasan pun terbilang cukup terjangkau. Rp 29.000 untuk 200 gram, Rp 32.000 untuk 250 gram, dan Rp 160.000 untuk 1200 gram. Kamu bisa dapatkan keripik kentang ini di toko oleh-oleh sekitar Dieng, Jawa Tengah, dan sekitarnya. Atau kalau kamu ingin keripik kentang yang betul-betul fresh, silakan langsung datang rumah produksinya di Dieng. Tepatnya di Desa Batur, Banjarnegara.

Oh iya, setelah ngemil keripik kentang, jangan lupa seduh kopi purwaceng khas Dieng ya,  biar tambah kenceng.

:)

 

 

8 COMMENTS

  1. Carica, mi ongklok, purwaceng, jamur goreng.. klop dah kalau ke Dieng ketemu makanan-makanan ini.. tapi yang keripik kentang ya belum, adanya kentang rebus yang kecil-kecil

Leave a Reply to dinimuktiani Cancel reply