WN282557

Tuhan tentu tak memberikan bencana hanya untuk mengazab umatnya. Mungkin, ia berkali-kali memberikan bencana, sebagai peringatan kepada yang lain, agar senantiasa mengingat diriNya.

**

Desa Kinaharjo, tepat di bawah kaki Merapi, 3 Oct 2013 [11.00]

Mungkin jika Sumijo mengikuti jejak Mbah Marijan saat merapi mengeluarkan isi perutnya, ia tak akan bisa tampil sebagai penari Jathilan saat acara penanaman 10.000 pohon oleh Daihatsu Indonesia.

Sumijo adalah warga asli Kinahrejo . Di desa yang sama tempat seorang abdi dalem keraton Jogjakarta mengabdikan dirinya – juga mengakhiri hidupnya –  sebagai ‘juru kunci’ gunung merapi.

“Rumah saya hancur lebur, mas. Ternak juga semuanya mati. Alhamdullilah,  saja dan keluarga masih diberikan hidup oleh gusti Allah,” kata mas Sumijo.

Motor yang terkena wedhus gembel (awan panas) merapi.
Motor yang terkena wedhus gembel (awan panas) merapi.

Saat ini, desa tempat mas Sumijo dan Mbah Marijan tinggal sudah tak boleh lagi menjadi tempat pemukiman, karena dianggap terlalu berbahaya. Oleh karena itu, ia bersama seluruh warga desa melakukan bedol desa, pindahan satu kampung ke daerah karangkendal – sekitar tiga kilometer dari Kinahrejo.

Bukan hal mudah untuk mereka yang berpindah dari desa tempat mereka biasa mencari nafkah. Apalagi, mereka Semua harta yang mereka miliki sudah lenyap termakan isi perut merapi. Tapi, mereka tak punya pilihan lain.

Semua kembali ke titik nol. 

***

Matahari tepat di atas kepala, debu-debu berterbangan. Saya memasuki lintasan lava yang berupa pasir dengan terios, untuk menguji performa mobil hybrid ini pada kondisi offroad. Sebetulnya sempat underestimate apa SUV ini bisa melewati tanjakan dan tikungan pasir Kinahrejo. Namun ternyata sama sekali bukan masalah.

Bekas Desa yang terkena letusan
Bekas Desa yang terkena letusan

Dua tahun lepas erupsi, kondisi alam dan masyarakat kinaharjo pun ikut berubah. Desa-desa yang dahulu tempat bermukim, sekarang tinggal pasir dan bebatuan hasil muntahan merapi. Pasir-pasir dan bebatuan  disini berkualitas tinggi, sehingga saat ini kawasan tersebut sudah penuh para penambang  yang mencari rezeki.

Tari Jathilan di kaki merapi
Tari Jathilan di kaki merapi

Merapi adalah salah satu gunung teraktif di Indonesia – bahkan dunia. Pola letusannya yang unik, sulit diprediksi, menjadi salah satu penelitian penting dalam vulkanologi. Letusannya pada tahun 1872 hampir-hampir memusnahkan semua yang ada disekitarnya, karena ia melakukan erupsi lima hari tanpa henti. Juga tahun 1961, dan tahun 1994, dimana puluhan warga tewas.

Puing-puing yang dijadikan 'museum'
Puing-puing yang dijadikan ‘museum’

Tahun 2006 merapi sempat ingin memuntahkan perutnya kembali. Namun, ternyata ia hanya bercanda memberi peringatan. Baru pada tahun 2010, masih segar dalam ingatan kita, merapi kembali mengeluarkan wedhus gembelnya ke penjuru Jogjakarta. Puluhan warga kembali tewas. Mbah Maridjan, adalah salah satu dari korban tersebut.

Mbah Maridjan tak ingin dievakuasi saat letusan merapi. Mungkin kita berpikir bahwa ia sangat bodoh. Namun, kita harus menghargainya karena itu adalah bentuk kesetiaan dia terhadap amanah. Keberadaan merapi  merupakan sebuah simbol sosial-budaya yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat Jogjakarta.

***

Dalam museum "Sisa Hartaku"
Dalam museum “Sisa Hartaku”

Desa Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan dan Sumijo tinggal adalah wilayah garis terluar yang berbatasan langsung dengan Merapi. Bertahun-tahun, warga percaya merapi tak akan pernah menyakiti mereka. Kepercayaan ini membuat mereka enggan mengungsi saat Merapi memulai letusannya. Namun, pada 2010 lalu, Merapi kembali menunjukan sifatnya yang tak bisa diprediksi. Awan panas menuju langsung ke lereng selatan tempat banyak penduduk bermukim.

Desa Kinahrejo yang menjadi lokasi tambah pasir
Desa Kinahrejo yang menjadi lokasi tambah pasir

Bagaimanapun, saat ini kinaharjo sudah bangkit. Sumijo mungkin sekarang tak lagi jadi petani atau peternak, ia masih bisa hidup dengan menjadi supir jeep lava tour. Ya, lava tour, literally. Desa yang luluh lantah oleh abu merapi sudah disulap menjadi objek wisata. Puing-puing tak dibunag, mereka ditata rapi – mejadi museum – dimana pengunjung bisa menyaksikan sisa-sisa keganasan salah satu puncak abadi pulau Jawa ini.

Supaya kita menolak lupa untuk selalu bersyukur, dan terus memperbaiki diri, sebelum dijemput oleh yang kuasa.

Terima kasih :)

Tim #terios7wonders melakukan CSR dengan menanam seribu buah pohon di kinahrejo
Tim #terios7wonders melakukan CSR dengan menanam seribu buah pohon di kinahrejo
Tim blogger #terios7wonders berfoto dan bersiap di daihatsu jogja sebelum berangkat ke kinahrejo
Tim blogger #terios7wonders berfoto dan bersiap di daihatsu jogja sebelum berangkat ke kinahrejo

10 COMMENTS

  1. Suka ama quote nya “Bersyukur terhindar dari bencana” tapi apapun itu mau bencana atau tidak, kita mmg harus selalu bersyukur akan hidup kita. Tuhan sungguh baik memberi kita kesempatan hidup melihat beranekaragam ciptaan Nya.

  2. bagus sekali sebuah kejadian (bencana dari letusan gunung) dijadikan sebuah museum, ya untuk menolak lupa bagi kita yg masih dalam zona lingkungan yang aman utk tersu mensyukuri hidup ini. :)

    salam.

  3. Pengen mengunjungi tempat ini. Tapi aku kurang setuju dengan “Ia berkali-kali memberikan bencana, sebagai peringatan kepada yang lain, agar senantiasa mengingat diriNya” seolah-olah bencana itu mainan Tuhan untuk ‘sekedar’ ingat sama diriNya… itu bukan Tuhan-‘ku’

  4. “Supaya kita menolak lupa untuk selalu bersyukur, dan terus memperbaiki diri, sebelum dijemput oleh yang kuasa.”
    Ngutip ya Mas :)

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')