Lovely Tanjung Bira
Lovely Tanjung Bira

Dalam perjalanan ke Tanjung Bira sepanjang 447 km dari Rantepao, lagi-lagi tim terios dihadapkan dengan medan yang sulit. Karena tidak melewati makkasar, terpaksa tim harus melewati daerah Sinjai dengan jalan yang cukup berbatu dan pasir. Terios versi matic yang saya kendarai agak kesulitan saat ban hampir selip di tanjakan berpasir, namun kami masih bisa menghadapi tantangan ini dengan aman dan nyaman. Saya bisa bilang terios ini memang cukup tangguh. *lah, ngiklan*

Tenda Kenangan
Tenda Kenangan

Prediksi kami tim sampai di Tanjung bira pukul sepuluh malam. Namun apa daya, tim baru tiba di Tanjung Bira …jam 5 pagi. Rencanaya kami akan berkemah di tepi pantai, sambil membakar api unggun dan cumi bakar, tapi semua itu tinggal kenangan..

Setelah beristirahat sejenak, pagi itu kami langsung menuju desa para pembuat phinisi di Tanaberu Bontobahari. Disana kami bertemu dengan salah satu seniman ‘senior’ dalam hal pembuatan phinisi, Bapak Syarifuddin.

Membuat phinisi, proses merekatkan kayu-kayu.
Membuat phinisi, proses merekatkan kayu-kayu.

Kami diajak ke tepi pantai, tempat bengkel phinisi berada. Ada yang sudah hampir jadi, ada yang masih kerangka dan beberapa perahu kecil juga sedang dibuat.

Setiap kapal yang diproduksi, membutuhkan waktu sekitar 1 sampai 6 tahun. Lamanya pengerjaan, praktis tergantung dari besar atau kecilnya kapal yang dipesan. Syarifudin, saat ini mengaku sedang mengerjakan kapal untuk pengusaha asal Italia.

Life at the Beach
Life at the Beach

“Untuk kapal berukuran sedang, body nya saja bisa seharga 1.5 hingga 3 milyar”, jelas Syariffudin.

Dua tiang tujuh layar, inilah yang menjadi ciri khas phinisi. Tiga di depan, dua di bagian tengah, dan dua bagian belakang. Tujuh layar itu memaknai bahwa Suku Bugis mampu mengarungi tujuh samudera. Perahu tradisional khas masyarakat Bugis ini ternyata tidak memakai teknik engineering yang rumit, namun hanya perhitungan sederhana yang diajarkan turun temurun dari nenek moyang mereka.

Dari atas pinisi
Dari atas pinisi

Buat kita sih, mungkin tetep rumit. Namun, phinisi yang sudah terbukti kehandalannya menerjang ombak ini juga membuktikan bahwa kalkulasi para seniman itu tak perlu diragukan lagi.

Pada tahun 1986, phinisi nusantara berhasil membuktikan ketangguhannya dengan melakukan pelayaran dari Muara baru, Jakarta utara, menuju Vancouver di Kanada. Misi pelayaran ini banyak dicibir banyak orang. Namun, setelah Kapten Gita Ardjakusuma bersama 11 orang awak berhasil mencapai Vancouver 68 hari kemudian pada Vancouver expo 1986, semua orang tercengang dan kemudian bersorak.

Phinisi Nusantara waktu itu langsung menjadi sorotan internasional.

Syarifuddin berharap, tradisi membuat phinisi secara tradisional ini bisa bertahan terus-menerus ke keturunannya. Ini memang salah satu warisan Nusantara yang tak boleh punah sama sekali.

Salam sahabat petualang!

Ninja?
Ninja?
Jadi pengen beli phinisi satu buat jadi vila :)
Jadi pengen beli phinisi satu buat jadi vila :)
Membuat phinisi
Membuat phinisi

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')