Tyto bertugas menjaga kebun. Bersama anaknya yang baru berumur beberapa bulan, ia menjaga sekitar 25 hektar kebun dari serangan hama, terutama hama tikus.

Sebelum Tyto bertugas, hama-hama ini dibasmi menggunakan racun tikus. Penggunaan bahan kimia yang ini cukup berbahaya karena tidak hanya hama yang akan mati, tapi bisa saja merusak ekosistem dan habitat lainnya.

Walaupun umurnya baru tiga tahun, dalam sehari ia bisa memburu 3 hingga 5 ekor tikus! Ya, Tyto adalah seekor Burung Hantu yang punya rumah di salah satu kebun Kelapa Sawit di kota Pangkalan Kerinci, Provinsi Riau.

Penggunaan cara natural untuk memburu hama ini memang seharusnya dilakukan untuk pertanian yang berkelanjutan. Kandang Burung Hantu diletakkan di setiap 25 hektar karena mereka adalah jenis burung yang otoriter. Kalau diletakkan terlalu dekat, bisa jadi malah terjadi perkelahian. Maka dari itu rumah Burung Hantu dibuat dalam rasio 1 rumah banding 25 hektar lahan.

Tak hanya Burung Hantu, berbagai macam hama juga ditangani dengan cara natural yang berbeda sesuai dengan karakteristik masing-masing.

Sebut saja ulat daun yang sering mengganggu pohon-pohon kelapa sawit yang masih muda. Daripada menggunakan pestisida, Asian Agri menanam Bunga Air Mata Pengantin (yes, kalian nggak salah baca, itu nama bunga!) agar ulat-ulat tersebut pindah ke bunga itu, bukan ke kebun kelapa sawit.

Serangga seperti Sycanus yang jadi predator alami hama ulat api juga dikembangbiakkan serta diberi rumah. Hama ini sering memakan daun sawit. Rumahnya berupa bunga seperti Cassia cobanesis dan Turnera subulata.

Maka dari itu jangan heran kalau banyak bunga-bunga cantik di sekitar perkebunan. Tidak hanya untuk mempercantik, tapi juga bisa membasmi hama!

Kebun-kebun di Pangkalan Kerinci ini tentu tidak sepenuhnya milik perusahaan. Ada yang milik warga asli, ada juga yang milik pemerintah yang diberikan ke warga transmigran dari pulau lainnya seperti Jawa.

Permasalahan yang dihadapi para petani ini adalah pengetahuan tentang pertanian yang masih minim. Dari cara membuka lahan, pemilihan bibit, cara panen, hingga cara memasarkan yang masih sangat bisa dioptimalkan.

Maka dari itu, semenjak tahun 1980-an, para petani terutama yang transmigran dari pulau Jawa mulai menjalin kemitraan yang saling menguntungkan. Kemitraan ini memadukan kebun milik rakyat dan milik perusahaan dalam satu kesatuan produksi. Kebun perusahaan disebut kebun inti sedangkan kebun rakyat yang menjalin mitra dari awal disebut kebun plasma.

Saat ini, Asian Agri mengelola lahan plasma seluas 60 ribu hektar.  Bantuan yang diberikan perusahaan ada dalam berbagai macam bentuk. Selain memberikan pengetahuan tentang pengelolaan kebun secara lestari, cara konservasi, pemakaian pupuk organik, pemakaian bibit yang terstandarisasi, membantu mendapat bantuan dari bank, petani juga mendapat bantuan untuk mendapatkan sertifikasi seperti RSPO.

Namun yang paling penting adalah petani bisa langsung menjual hasil buminya ke perusahaan dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Setelah itu perusahaan dengan pabrik pengolahan bisa membuat berbagai macam produk dari kelapa sawit ini.

Salah satu petani plasma yang saya temui adalah Antonius Tulus. Sebelum jadi petani, ia sudah bekerja sebagai karyawan Asian Agri selama 10 tahun.

“Saya pernah jadi tukang hitung minyak, tukang taksir buah, divisi produksi petani, hingga ke divisi pabrik,” ujarnya.

Namun selama sepuluh tahun bekerja, ia masih belum merasa punya apa-apa. Walaupun fasilitas rumah dan sebagainya disediakan oleh perusahaan.

“10 tahun kerja saya cuma punya kulkas dan tv saja, Mas,” katanya merendah.

Akhirnya di tahun 2003, Tulus memberanikan diri untuk keluar dari perusahaan, meminjam uang dari bank, lalu membeli 1 kavling tanah kelapa sawit plasma. 1 kavling berukuran dua hektar, dan waktu itu berharga sekitar 75 juta.

Tulus merasa sangat beruntung bisa bermitra dengan perusahaan yang selama ini jadi tempatnya berkarya. Saat ini, ia sedang mengurusi beberapa lahannya yang sudah harus di replanting (tanam ulang). Karena jika sawit dibiarkan menua lebih dari 20-25 tahun, maka produksinya tidak akan optimal lagi.

Selain bekerja sama dengan petani plasma selama kurang lebih 30 tahun, perusahaan juga memperluas kerjasama serta pembinaan dengan petani swadaya, petani yang betul-betul mengelola sendiri dari awal pembibitan hingga penjualan hasil panen. Diharapkan dengan dibukanya pintu kerjasama ini, para petani swadaya bisa meningkatkan hasil produksi dan kualitas buah yang mereka hasilkan.

AMANAH adalah salah satu kelompok petani swadaya yang dibentuk tahun 2012. Ada sekitar 10 kelompok tani dengan 349 kavling yang sudah bermitra dengan Asian Agri. Keuntungan yang mereka dapatkan dari bermitra ini hampir sama dengan petani plasma. Mereka mendapat pendampingan yang rutin dari perusahaan, mengikuti berbagai pelatihan dan studi banding ke perkebunan petani lainnya.

“Yang paling penting sih sekarang kalau jual sudah tidak ke tengkulak lagi, tapi langsung ke perusahaan. Jadi penghasilan kami bisa lebih pasti,” kata Suparjo, salah satu petani swadaya.

Tyto, Tulus, dan para petani swadaya serta petani plasma adalah bagian penting dari perkebunan sawit. Dengan dilakukannya pelatihan dan bimbingan, produktivitas dan keuntungan petani dan perusahaan akan sama-sama meningkat.

Dan yang paling penting perusahaan maupun petani bisa punya kebijakan berkelanjutan yang ketat. Apalagi yang berkaitan dengan area-area yang tidak seharusnya menjadi kebun seperti di Taman Nasional.

2 COMMENTS

  1. Tyto Alba. Kusuka burung hantu ini. Bagus banget perkebunannya menggunakan konsep predator alami sehingga tidak banyak pakai peptisida ya. Keren lah si pak Tulus ini.

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')