“Tak jauh dari sini, tapi resort U sathorn memang agak tricky untuk ditemukan,” kata seorang petugas hotel Grand Eastin selepas saya check out dari sana.

Resort di tengah kota? Saya tak pernah membayangkan seperti apa jadinya. Setahu saya, resort biasanya berada di pantai yang terisolasi, di kaki gunung, ataupun di tengah hutan. Resort pun biasanya digunakan untuk staycation, bukan hanya tempat untuk menaruh barang dan tidur pada malam hari.

Tapi, nampaknya urban resort di tengah kota adalah ide yang unik, bukan?

resort u sathorn bangkok
Resort di tengah kota yang unik

Tak berapa lama taksi saya datang. Petugas hotel yang tadi pun berbicara kepada supir taksi dengan bahasa Thailand, memberi instruksi harus kemana dan lewat mana, serta  juga memberikan print peta kepada supir taksi.

Ia pun memberikan saya secarik kartu yang berisi destinasi, nomor taksi, peta hotel, dan kartu nama hotel. “For your safety, sir!” ujarnya. Ia pun menutup pintu taksi, dan saya siap menuju ke resort U-Sathorn.

Melihat peta, sebetulnya bisa saja jika saya menaiki BTS skytrain dari Surasak menuju Sala Daeng, kemudian menyambung MRT bawah tanah ke tujuan Lumphini. Tapi memang harus masuk lagi ke ‘gang’ sekitar 800 meter. Bisa dengan naik taksi, ojek, ataupun berjalan kaki. Namun karena saya dan rekan saya membawa barang cukup banyak, jadilah kami naik taksi dari stasiun Surasak.

resort u sathorn bangkok
PIntu depan U sathorn

Sebetulnya tak sulit menemukan resort ini, hanya saja memang butuh sekitar 2 kali berbelok ke gang kecil dari jalan utama Sathorn. “This is my first time driving here,” kata supir taksi yang saya tumpangi. Wajar saja karena resort ini baru beroperasi pada Desember 2014 lalu.

Dari gang yang sempit, saya disambut oleh parkiran yang luas. Bangunan putih megah bernuansa prancis dengan atap panjang seperti gunung tangkuban perahu terlihat cantik disinari mentari pagi.

Desain dari urban resort ini mengingatkan saya pada arsitektur kolonial Prancis kontemporer, yang banyak dibuat oleh  Geoffrey Bawa, seorang arsitek asal Sri langka yang cukup terkenal di abad 20. Letak bangunan di tengah tanah lapang dan terlihat jelas interior dari luar seaakan memisahkan batas antara landskap bagian luar dan bagian dalam. Memberikan kesan lapang dan tanpa batas pagar.

resort u sathorn bangkok
Santai dulu…
resort u sathorn bangkok
Lobbynya di dalam ‘terowongan’ antara luar dan dalam resrot

Beranjak dari taksi, saya didatangi oleh seorang wanita petugas hotel. Dengan ramah ia mempersilakan saya duduk dan meminta paspor saya. Kemudian kami diberikan segelas welcome drink berupa lemongrass juice dingin yang sangat niscaya di terik matahari bangkok yang hampir-hampir menembus angka 40 derajat celcius.

Setelah mengkonfirmasi booking-an hotel kami, wanita petugas hotel tersebut — sebut saja namanya Ning — mengajak saya untuk mengikutinya masuk ke kamar kami. Walaupun di tengah kota, suasananya sangat hening. Padahal hanya terpisah hampir satu kilometer dari jalan raya besar sathorn main road. Mungkin karena di sekitar U-sathorn memang adalah daerah residence yang tak terlalu padat, pepohonan pun banyak terdapat disini, sekaligus menjadi pagar alami yang mengelilingi U-Sathorn.

resort u sathorn bangkok
warna-warna pastel mirip kamar anaknnya barbie
ada balkon ke arah kolam renang
ada balkon ke arah kolam renang
warna-warna pastel mirip kamar anaknnya barbie
Dari atas balkon kamar

Kamar kami di lantai 3. Ning membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk terlebih dahulu. Ia tak bergegas pergi, namun ia mengantarkan kami ke dalam kamar dan kami diberi sedikit ‘tour’ keliling kamar kami. Ia menjelaskan semua fungsi dan fasilitas yang ada di dalam kamar dengan bahasa inggris yang bercampur logat thailand. Beberapa kali saya tak mengerti ucapannya, namun dengan ramah ia selalu berusaha keras untuk mengulang pengucapannya.

u sathorn bangkok
Nama saya ada di TV! Nice personal touch.

Ning juga menawarkan untuk meng-customize jenis amenities seperti sabun, handuk, hingga bantal yang sesuai dengan keinginan kita. Ini adalah salah satu kelebihan dari U-Sathorn. Selain beberapa detail dapat dipilih sesuai keinginan kita, resort ini juga punya fitur stay time 24 jam. Maka jika kita check in jam 3 sore, check out pun jam 3 pula keesokan harinya. Harusnay semua hotel/resort seperti ini ya? hehe. Hingga saat terakhir Ning selesai menjelaskan semua fitur kamar kami, ia pun berkata, “Free two additional welcome drink on referigerator,” katanya sambil tersenyum manis.

Saya pun menikmati Bangkok yang tenang sore itu di kamar yang mirip kamar barbie ini.

Tour hotel dulu.
Tour hotel dulu.
Kolam renang di tengah-tengah.
Kolam renang di tengah-tengah.

Sarapan pagi keesokan harinya ada di restoran J’AIME yang terletak di lantai dua gedung utama. Restorannya masih bernuansa putih-ungu berkilau seperti kamar saya. Nuansa Wonderland. Dengan sofa-sofa besar yang sangat nyaman. Sayang tak ada putri salju yang sedang sarapan disini.

Selain makan buffet, tersedia juga menu ala-carte di menu yang tersedia (juga gratis!). Restoran yang punya chef bernama Jean-Michael Lorain (entah siapa, nampaknya orang prancis yang cukup terkenal) punya variasi makanan Asia dan Eropa.

usathorn-bangkok-resort-in-city-19
Interior restorannya kayak di istana ya?
usathorn-bangkok-resort-in-city-18
Dari dimsum hingga french toast ada.
usathorn-bangkok-resort-in-city-22
Meja makan bundar dan sofa
usathorn-bangkok-resort-in-city-23
Pagi dengan sup ayam yang sangat menyegarkan ini.
usathorn-bangkok-resort-in-city-38
Sawadeee krap! Sampai bertemu lagi!

Jadi, resort di tengah kota ini memang menawarkan kenyamanan untuk beristirahat total. Tanpa perlu harus jauh-jauh keluar dari Bangkok, ke chiang mai misalnya. Saya pikir untuk orang yang ingin istirahat tapi tak mau jauh-jauh dari kota, U-sathorn adalah pilihan yang sangat tepat.

U Sathorn Bangkok

105, 105/1 Soi Ngam Duphli

Thung Maha Mek Sub-district Sathorn District, Bangkok 10120

www.usathornbangkok.com

5 COMMENTS

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')