Belum pernah kudengar suaramu, apalagi berjumpa. Tak ada yang bisa kuingat darimu, hanya beberapa lembar gambar-gambar masa mudamu yang tersenyum dengan gagah dengan seragam biru. Engkau yang nampaknya sangat suka suka berdendang. Baru tahulah aku darimana asal beberapa gitar dan piano di dalam rumah.

Aku tidak tahu banyak tentang dirimu. Yang aku tahu, sebelum kau pergi, engkau tidak mengindahkan perkataan ibu. Pelajaran yang kudapat dengan harga yang sangat mahal. Biarlah engkau menjadi sosok panutanku, dengan tidak mengulangi perbuatan yang sama.

Terkadang, aku iri dengan teman-temanku. Mereka yang masih memiliki orang-orang sepertimu. Tapi, aku kesal dengan mereka yang sering tidak berdamai dengannya. Bukannya masih memiliki mereka itu merupakan sebuah anugerah? Mungkin orang-orang itu tidak sadar betapa pedihnya jika orang-orang itu tidak ada lagi. Mereka tidak sadar betapa berharganya anugerah tersebut di mataku. Tanpa sadar, terkadang air mata mulai menetes, seperti saat ini.

Semenjak kau pergi, aku dan ibu mengalami waktu-waktu yang sulit. Ah, mungkin aku tidak terlalu merasakan. Ibu, wanita terhebat dalam hidupku, ialah yang paling tersakiti atas kepergianmu. Tapi, menjadi kuat adalah pilihan, kami masih tetap hidup hingga saat ini.

Suatu hari nanti, aku berjanji akan menjadi ayah yang baik dan hebat bagi anak-anaku. Walaupun aku tidak pernah merasakan kasih sayangmu. Semoga Allah memberikan tempat yang layak bagimu. Semoga kita bisa dipertemukan Allah di surganya.

“Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”

3 COMMENTS

  1. Wiraaaaa
    gue mewek bacanya :(
    gue salah satu orang yang gak terlalu deket sama ayah karena takut sama sayangnya dia ke gue
    gue takut buat menyakiti hatinya :(

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')