WACANA

0

SAYA terlambat sampai di kubikel. Peluh sudah tak karuan sehabis menerjang Jalan Rasuna Said tadi pagi. Buat pengendara sepeda motor seperti saya, pagi hari di Jakarta adalah medan perang.

Entah mengapa, para pengendara motor ibukota ini berlaku seperti jalan ini milik mbah-nya sendiri. Mungkin mereka memang cucunya Daendles.

Namun inilah yang harus saya lalui setiap hari. Demi sesuap nasi dan tiket penerbangan untuk liburan selanjutnya. Biar instagram story tetap terisi dan feed tidak berisi foto throwback melulu. Betul betul problem jaman now.

Belum sempat menghidupkan laptop, tiba-tiba telepon berdering mencari kawan kantor saya yang lain. Sebuah suara dengan nada keras meluncur di telinga saya.

“Halo? Gimana nih mas Jek? Jadi di issued nggak tiketnya?!”

“Halo, Mas Jek belum datang nih,” ujar saya di balik telepon.

Peresmian Desa Ekowisata tersebut merupakan implementasi dari program Langgeng EcoTourism yang digerakan bersama oleh PT Langgeng Kreasi Jayaprima (LKJ), British Council, dan Yayasan Wisnu. Jadi, rombongan saya mungkin saja 'turis' resmi pertama disana yang menikmati alam dan budaya desa Nyambu, karena tak ada rombongan lain yang singgah di desa ini selain kami! Salah satu atraksi yang menjadi andalan nyambu adalah tur keliling sawah. Mungkin bagi kita sudah biasa. Tapi di tur ini kita akan dijelaskan oleh pemandu yang menjelaskan sistem persawahan di Bali dengan sangat baik.
Salah satu alasan yang bikin kangen bali : Sate Lilit

Jek adalah pemuda paling kekinian diantara rekan kantor saya. Walaupun wajahnya seperti tukang jagal, pengikut instagram-nya sudah lebih dari 20 ribu orang.

Ia juga sudah pernah traveling ke Machu Pichu dan sudah pernah putus cinta lebih dari sepuluh kali. Selain itu juga, dia jago menulis. Terutama untuk menulis surat izin bolos kantor dengan berbagai macam alasan. Sungguh prestasi yang amat membanggakan

“Lu mau kemana lagi, Jek? Ada orang travel agent telepon tuh,”

“Oh itu masalah tiket buat work holiday visa gue ke Aussie. Eh tapi jalan ke Bali dulu yuk? Kangen gue. Ajak juga yang lain lah. Ada long weekend bulan depan. Capek kerja terus. Nggak kaya-kaya pula,” ujar Jek.

“Serius lo?”

Ciyuss,”

“Berangkat!”

Padahal kemungkinan paling besarnya adalah: Jek habis putus lagi dengan pacarnya

Singkat cerita, lima orang followers Jek yang tergabung dalam geng micin termasuk saya berhasil dihasut si Jek untuk ke Bali ke Bali. Kami berlima cukup dekat karena memiliki kesukaan yang sama. Selain sama-sama suka makan micin, kami juga sangat suka dengan Bali.

traveloka price alert
Bahkan kami memasang price alert traveloka app untuk harga tiket ke Bali, jadi sewaktu ada yang murah kami bisa langsung beli

Entah mengapa, Bali itu rasanya selalu seperti hari libur. Bahkan di senin pagi pun rasanya seperti hari minggu. Everyday is sunday. Apalagi, tak ada yang protes jika saya ke mall pakai celana pendek, kaos oblong, dan sendal jepit.

Waktu ke Bali sebelum ini, saya dan Jek berlagak jadi turis asing. Jadi kemana-mana ngomongnya pakai bahasa Inggris.

“Latihan buat work holiday visa gue tahun depan di Aussie,” kata Jek.

Namun, baru saja menawar sebuah kaos bertuliskan ‘ i love bali’ di sekitar Pantai Kuta, yang keluar malah umpatan dari bahasa Jawa timuran.

Jjuannc**k. Maneh mo nipu aing ya Bli? Kaos kok harganya kayak baju penganten?”

“Lah saya kira situ tadi bule, tau lokal mah dikasi murah. Nih saya turunin harganya,”

Bhay!”

Hari makin berlalu. Kami semua bekerja dengan giat dan selalu melaksanakan perintah bos dengan baik. Agar diberi kemudahan untuk cuti tentunya.

Tetapi..

Gaes sorry nih gue sama Tom nggak bisa ikut. Si bos nggak ngasih cuti kalo kita berdua pergi bareng,” kata Nina, satu-satunya perempuan di geng micin ini.

“Yah, nggak asik nih,”

“Tetep jadi ke Bali, kan? Titip oleh-oleh ya,”

Apa? Kok malah jadi menyebalkan?

Saya tak bisa baca pikiran orang, tapi menurut tebakan sok tahu saya, orang yang gemar minta oleh-oleh itu berpikir kalau kita liburan itu pasti pulangnya normal membawa koper besar yang penuh dengan sebut saja : magnet kulkas, berkotak cokelat, masker wajah, dan barang titipan orang yang tak bayar jasa titip. Mereka jadi merasa wajar untuk meminta barang kepada orang yang akan jalan-jalan.

“Jasa titip 100ribu per item,” kata saya pendek.

“Pelit!”

gunung agung sunrise
Puncak Gunung Agung, Bali. Semoga kondisi segera membaik sehingga saya bisa mendaki lagi ke puncak tertinggi pulau dewata ini.

Kemudian muncul satu masalah lagi. Joko, satu lagi anggota dari geng micin ternyata di tanggal keberangkatan kami bentrok dengan jadwal untuk menyunat kucingnya.

“Bro diundur sehari aja ya ke Balinya? Plis banget nih si Bedul kucing gue udah kebanyakan ngehamilin kucing tetangga,” ujar Joko.

“Tapi kan kita udah beli tiketnya Jek? Gimana dong?”

Easy lah. Sini gue reschedule sekarang,”

Saya membuka aplikasi tempat saya membeli tiket di traveloka. Di halaman tiket yang sudah dibeli, ada pilihan untuk reschedule.

Caranya super gampang, tak sampai lima menit saya sudah mendapatkan tiket dengan jadwal baru. Cukup begini saja:

  • Pilih menu ‘refund‘ di halaman tiket. Kemudian pilih penerbangan baru.
  • Bayar selisihnya jika harga tiket baru lebih mahal. Atau dapatkan cashback jika harga tiket lebih murah.
  • Selesai.
Easy reschedule dari traveloka, saya perlu membayar tambahan untuk selisih harga tiket baru. Hanya butuh beberapa tap di mobile app traveloka

Terima kasih kepada teknologi easy reschedule traveloka ini, saya tak perlu menghabiskan pulsa untuk menelepon mba-mba customer service dari airline.

Joko pun senang bukan kepalang karena liburannya tetap jadi bisa lanjut bareng geng micin tercinta.

Jadi kami bertiga langsung membuat jadwal kegiatan selama kita di Bali. Beach club hopping, main ke Nusa Penida, ikut kelas yoga, sarapan smoothie bowl, dan hal-hal hipster lainnya tentu sudah masuk agenda kami.

“Bro bosen ah kalau gitu-gitu aja. Since kita di bali, sekali-kali lah ngerasain yang lokal gitu. Pengen banget gue makan lawar, sate lilit, plus sambal matah yang buatan rumahan gitu. Yang otentik,” kata Joko bijak.

Joko ada benarnya. Walaupun Bali tetap mempertahankan budaya asli, tetap saja ia akan terganggu dengan banyak budaya asing masuk. Turis-turis berpesta pora di sepanjang jalan legian. Bali-nya sudah tak terasa lagi jika keadaan sudah seperti itu.

Kamipun memasukan beberapa restoran rumahan dan desa adat di Bali ke dalam agenda jalan-jalan kami. Kami jadi makin bersemangat!

desa nyambu tabanan bali

..

Kamu pasti pernah merasakan hal ini. Ketika mengajak trip bersama kawan-kawanmu. H-6 minggu semua bersemangat. H-3 minggu tinggal setengahnya. H-1 minggu tinggal kamu dan dua kawanmu. Kalau beruntung, kamu akan trip bertiga dengan kawanmu. Kalau kurang beruntung, kamu akhirnya akan pergi sendiri.

“Jok, Wir, gue kayaknya jadi ga bisa ke Bali nih,”

“Ah lo gitu kan Jek? Kan lo yang ngajak kita? Sekarang lo tiba-tiba gak jadi? Wacana doang lo bisanya!” kata saya kesal.

“Gue….mau tunangan bro,” kata Jek sambil memerah pipinya.

Seketika langit runtuh. Saya dan Joko terperanjat. Jek yang kisah cintanya bisa menyaingi serial Game of Thrones saking peliknya ini akhirnya akan segera memasuki babak akhir. 

“Oke Jek. Kita paham. Ini kabar bahagia. Kita akan tunda dulu liburan kita buat dateng ke tunangan lo,” ujar saya sambil menepuk pundak Jek.

“Thank you bro. Maaf ya padahal kita udah beli tiket mahal-mahal,”

No worries. Bisa di refund kok,”

“Eh gimana caranya? Lo punya kenalan orang dalem?”

“Orang dalem dari Hongkong! Tinggal klik sekali nih di traveloka. Tuh lihat tiket kita ada tulisannya bisa refund,”

“Wih canggih juga lu!”

Proses refund tiket pesawat di traveloka

Beberapa hari kemudian, tiket kami sudah direfund dan uangnya bisa kami belikan hadiah untuk hari bahagia si Jek.

Jadi, kapan kamu akan ke Bali? Semoga bukan hanya wacana seperti kami.

:)

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')