Saat saya berkunjung ke kantor Grab di bilangan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, saya sempat berbincang dengan beberapa kawan saya yang bekerja di sana. Mereka adalah mas Reka dari bagian 2-Wheels Community Engagement Manager dan mba Shanti dari Corporate Culture & Employee Engagement.

Berhubung saya juga penasaran bagaimana rasanya kerja di perusahaan startup yang sudah menjadi unicorn ini — bahkan saat ini sudah jadi decacorn, yang artinya valuasi sudah 10 kali lipat unicorn — akhirnya saya coba merangkum percakapan singkat dengan mereka di Q&A bawah ini. 

Jadi buat yang berminat kerja di Grab, mungkin ini bisa jadi sedikit gambaran tentang culture kerja di sana. Mungkin saja kan berguna buat interview haha!

Yuk simak di bawah ini!

Apa sih enaknya kerja di Grab mas dan mbaanyaa?

Kamu bakal dapat dengan mudah menyalurkan ide! Ada inovasi apa lagi nih? Apa lagi nih service baru yang kira-kira bisa dibuat? Hal-hal apa yang harus diperbaiki?

Grab bakal mengakomodir itu semua dan malah menantang kamu untuk merealisasikannya. Budaya di sini memang haus dengan pengetahuan dan selalu ingin dichallenge secara positif.

Tak heran juga karena umur rata-rata pegawai di sini mungkin ada di kisaran 20-30an tahun, yang mana ini adalah umur para millenial yang sedang ada di puncak produktifitasnya.

Jam kerja di Grab based on performance. Kamu tidak harus bekerja terus-terus di meja kamu. Bahkan kalau bisa dibilang tidak ada meja kerja yang dedicated. Silakan taruh laptop kamu, meja itu langsung jadi milik kamu. Macam di kafe saja ya?

Mau bekerja secara remote di luar juga gak apa-apa. Jadi kalau kamu mau kerja di kafe sebelah, mau di mall, atau di mana aja bebas! Yang penting koordinasi, masih bisa dihubungi, dan tentunya kerjaan beres yah!

Di sini juga tidak ada absensi, karena Grab percaya kita punya waktu optimal jam kerja masing-masing. Ada yang datang pagi-pagi sekali. Ada yang datangnya agak siang. Yang penting beres kerjaannya! 

salah satu sudut di pantry

Bagiamana suasana kantor yang nyaman menurut Grab? 

Tak ada sekat  di sini. Kantor Grab tidak berbentuk kubikel layaknya kantor tradisional. Open spaces. Rasanya lebih lega dan plong.

Selain sekat secara fisik, sekat-sekat antar karyawan ke atasan juga bisa dibilang tak ada.  Kamu tak perlu canggung untuk menyampaikan ide, pendapat, gagasan, kritik langsung ke atasan.

Para atasan ini (bahkan founder) bakalan biasa saja berjalan ke pantry, mengambil cemilan, duduk di sebelah kamu, dan ya biasa saja tak perlu cengar-cengir membungkuk hormat.

Bahkan di pertemuan bulanan kamu bisa saja bilang seperti ini, “mau dibawa ke mana sih perusahan ini sebenernya pak?!”

Kebanyakan Grabbers (sebutan pegawai Grab) pasti anak muda ya, gen millenial dan gen z. Apa tantangan terbesar yang dihadapi?

Jadi memanage millinial ini agak sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya. Betul-betul tantangan untuk para bagian manajerial.

Millenial itu susah dibilangi! Dalam artian misalkan kita butuh berjalan dari A ke D, mereka tidak akan mau untuk dibimbing lewat C dan D. Mereka akan bilang, “Gue punya cara sendiri kok yang lebih bagus!”

Kalau misalkan terlalu didikte, mereka akan ga suka dan cenderung menurun produktivitasnya. Tidak bisa di micro-management.

Ya hal ini memang ada positif dan negatifnya. Mereka memang punya inisiatif tinggi. Namun kadang ada yang terlalu tinggi sampai nyasar bukannya berakhir di D malah ke Y misalnya. Itulah tantangan besar bagi para manager bagaimana membuat mereka keep on track di tujuan yang sama walaupun lewat jalan yang berbeda-beda.

Apa syarat utama untuk menjadi Grabbers? 

Di sini yang penting adalah performance dan culture. Kami tidak terlalu melihat asal lulusan perguruan tinggi buat para calon Grabbers.

Performance itu yang tentunya skill dan kualifikasi. Kita lihat kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah di bidang masing-masing. Calon Grabbers juga harus punya culture untuk terus belajar. Hunger for knowledge. 

Buat para fresh graduate, Grab juga ada program Management Trainnee. Jadi yang lulus program ini bakal diexpose langsung ke lapangan. Berinteraksi dengan masyarakat dan para driver. Baru nanti setelah itu bakal tahu akan ditempatkan di bagian mana. Orang-orang ini yang nantinya diharapkan bisa jadi pemimpin Grab di masa depan.

Yang unik pada saat proses assesement adalah mereka betul-betul percaya dengan interview. Tak ada test seperti psikotest, test koran, ataupun test lainnya yang bikin pusing. Grab punya metode tersendiri apakah orang ini cocok atau tidak.

Mas Reka di team partnership engagement, yang berinteraksi dengan para driver juga agak kesulitan mencari team yang sesuai kriterianya. Mencari orang yang senang ngobrol, respek ke driver, dan bisa merangkul komunitas.

Karena di Grab ini partner (driver) adalah yang membuat Grab berkembang hingga jadi sekarang. Karena impact Grab lansung ke sosial ekonomi negara, maka hubungan dengan driver ini jadi posisi yang krusial.

Grab x bajaj?

Bagaimana Grab memfasilitasi Grabbers agar bisa terus berkembang secara pekerjaan dan pribadinya?

Di Grab ini bisa dibilang sangat kompetitif dari sisi pendapatan. Perut kenyang (cemilan unlimited di pantry), jiwa sehat, dan raga kuat. Ya tentu saja kamu juga harus sadar diri ya jangan makan kebanyakan dan jangan lupa olahraga di fasilitas yang disediakan haha!

Selain pelatihan yang berkala untuk upgrade skill, ada juga jalan-jalan atau outing tiap 6 bulan sekali biar pada fresh pikirannya. Bisa di dalam negeri dan luar negeri. Setiap tim punya budget sendiri buat menentukan sendiri lokasi dan aktivitas saat outing. Kadang ada yang milih adventure ke jogja, ada yang mau jalan-jalan manja ke singapura, atau bebas deh pokoknya!

Bahkan kemarin mereka nonton bareng avengers dengan menyewa satu studio berkapasitas 500 orang di epicentrum haha!

Selain senang-senang, ada juga lomba internal yang mengasah kemampuan seperti hackathon, lomba memecahkan masalah programming buat para engineer di Grab. Hadiahnya tentu insentif yang cukup menggiurkan.

Seperti apa sih driver/mitra yang Grab harapkan?

Grab sama sekali tidak mempersulit calon mitra untuk mendaftar. Yang penting surat-surat lengkap, kondisi kendaraan oke, dan driver sehat pasti dipermudah. 

Karena kebanyakan dari mitra ini punya cerita hebat masing-masing. Dari mahasiswa yang butuh tambahan biaya kuliahnya, pegawai yang baru di phk atau buat menambah penghasilan sampingan ada di sini.

Jadi mitra Grab memang fleksibel jam kerjanya, jadi bisa menyesuaikan kalau memang jadi sumber penghasilkan tambahan di samping sumber lainnya.

Program apa saja yang sudah dijalankan Grab agar mitra tetap senang dan setia bermitra dengan Grab?

Tentunya di Grab banyak program-program yang selalu bikin semangat dan motivasi. Misalnya ada ‘kompetisi orderan pagi’, jadi yang paling banyak orderan dari jam sekian sampai jam sekian bakal ada hadiahnya.

Biasanya program-program ini hanya mitra Grab saja yang tahu karena muncul di aplikasi driver. Tapi yang sempat viral belum lama ini adalah dua orang driver Grab yang sujud syukur karena mendapatkan umroh gratis. Sebelumnya mereka  dikira akan di suspend karena dipanggil ke kantor Grab. Mereka ini adalah 2 dari 200 top performer yang mendapatkan hadiah umroh gratis!

Buat para driver GrabBike yang kebetulan sedang berada di daerah kebayoran, ada juga yang namanya GrabBike lounge. Di lounge ini terdapat kantin, tempat istirahat, bengkel, shower, toilet, agar mereka bisa beristirahat. Semuanya full AC buat melawan udara Jakarta yang kamu tahu sendiri laaaa haha!

Dari manajemen Grab juga kopdar berkala ke para driver. Bertamu ke basecamp masing-masing komunitas driver untuk selalu berkomunikasi tentang hal-hal yang terjadi di lapangan.

Nah itu dia bincang-bincang singkat saya bersama beberapa kawan Grabbers. Semoga Grab bisa makin memberikan impact yang positif terus ke Indonesia dan dunia. Cheers!

Btw, buat yang mau lihat vacancy di Grab langsung di http://grab.careers ya. Ada ratusan posisi yang bisa dilamar di seluruh Asia Tenggara!

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')