1. Udara pegunungan yang bersih membuat paru-paru saya berterima kasih.
  2. Tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi minum langsung di mata air gunung.
  3. Suara alam di tengah kesunyian malam yang sebenarnya.
  4. Perhiasan langit yang selalu nampak jelas di malam hari.
  5. Tidak ada makanan yang lebih nikmat dari makanan yang dimasak di atas gunung.
  6. Bisa mengenal teman jauh lebih dekat. Merajut persaudaraan.
  7. Bertemu orang-orang baru layaknya sahabat yang lama tak jumpa.
  8. Membakar kalori dan menurunkan sedikit berat badan.
  9. Sehat!
  10. Kenikmatan secangkir kopi di tengah dinginnya kabut pagi.
  11. Selalu mendapat mood positif.
  12. Menenangkan hati dan pikiran.
  13. Mengajarkan bahwa kita itu sangatlah kecil dibandingkan alam, apalagi penciptanya.
  14. Melatih mental dan fisik.
  15. Tidak pernah menyesal untuk pergi, dan selalu ingin kembali.
  16. Saya suka berjalan di alam, tanpa destinasi. Life is all about journey, right?
  17. It helps you to make sense of this crazy world we live in.
  18. Melihat hal-hal yang mungkin orang lain tidak pernah melihatnya. Padang savana dengan bunga edelweiss, danau dan air terjun yang belum terjamah, langit yang menggelora, barisan bintang bersama bimasakti dan masih banyak lagi.
  19. It’s a photographers dream! Alam menghasilkan hal-hal yang luar biasa. Dan kita tidak pernah tahu kejutan apa lagi yang akan diberikan kepada kita.
  20. Because it’s there. – George Mallory

Convinced?

Just never forget this when you hike : Never take anything but pictures, never leave anything but footprints, and never kill anything but time.

Bagaimana dengan kalian?

SHARE
Previous articleCendrawasih Merah
Next articleSalam dari pepohonan

37 COMMENTS

  1. Betul banget…. selalu mendapat mood POSITIF. Seakan sudah lupa semua hal buruk di bawah gunung sana ( baca:kota ) saat menikmati pemandangan indah sepanjang jalan :-)

  2. Idem, bikin sehat terutama. Entah bagaimana keseringan hiking bikin alergi dingin saya hilang entah kemana. Moment yang paling disuka ketika bertemu ‘keluarga’ baru, kabut, dan bimasakti ;)

  3. Setuju banget poin nomer 5 kang! hahaha. Kalo udah laper mah sikat aja semuanya. Naik gunung juga bisa merajut persaudaraan nusantara. Terkadang di atas kita ketemu orang2 baru dari luar pulau yang pada akhirnya jadi sahabat. :)

    • bener om…sampai sekarang hubungan saya sama teman di aceh dan sumatera utara tetap terjaga…ya itu, berkat naik gunung…
      #saya dari jawa tengah

  4. momen saat turun dari gunung, merasa pulang dari perang.. jadi bersyukur masih bisa selamat.. tapi besok2nya pingin perang lagi :)

  5. Ketika di puncak sana, ada sesuatu yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Kekaguman akan keindahan ciptaan-Nya, rasa kecil jika dibandingkan dengan alam ini, rasa syukur jika mengingat nyamannya kasur di rumah, dan banyak rasa lainnya.

  6. Hai Mas Wira, minta sarannya dong apa aja sih yang harus di pesiapkan buat naik gunung yang lengkap ya ^^. Terima Kasih

  7. Kapan2 boleh ikud jalan yaaa’..
    aq mw curi ilmunya ms Wira, sekalian hatinya kalo bisa (ups).
    Salam Lestari :D

  8. Saya suka naik gunung karena bisa lebih ngenal karakter diri sendiri & teman seperjalanan, jadi tau juga batas kemampuan untuk terus naik ke puncak atau nyerah di tengah jalan, selain tentunya menikmati keindahan alam semesta.

  9. baca-baca artikel dirimu bang bro,,,bikin saya makin cinte bgt ma keindahan alam di Indonesia

    Pngen nikmati keindahan tuch,,,,pngen bgt naik gunung
    cm msh lum ksampean,,,,,,,

    ajak-ajak dunk tuk pemula :)

  10. Yaaa, ada perasaan rinduuu.. Rindu yang sangat besar tuk kembali ke bawah, pada orang yang qt cintai Dan mencintai qt..

  11. Saya pengidap skizofrenia, dan saya lebih senang kalau main sendiri. Bagi tipsnya mas, bagaimana jika seorang skizofrenia ingin mendaki gunung?

    • Ada juga yang penggiat solo hiker. Tetapi harus benar2 sudah mahir teknik2 pendakian, survival, dan segala macam lainnya. Kalau bisa naik gunung yang jalurnya sudah jelas. Biasanya gunung dengan status taman nasional ( gede, rinjani, semeru) sudah punya jalur yang jelas. Tetapi sangat tidak direkomendasika. Mendaki seharusnya minimal bertiga, jika satu ada yang cedera sampai tak bisa bergerak, maka yang dua bisa membantu. Infrastrukur komunikasi di gunung2 indonesia juga belum bagus dibandingkan gunung2 di negara maju, jadi agak ngeri juga kalau sendiri.

      • Terima kasih atas sarannya mas. Sebenarnya ingin juga mas, mendaki gunung sampai puncak. Tapi sekarang gunung sudah seperti di kota, ramai. Saya tidak pernah sekalipun sampai puncak mas, paling cuma punggung gunungnya aja mas, cari tempat yang sepi dan jauh dari orang-orang. Rasa takut itu ada, tapi mau bagaimana lagi mas, tujuan saya ketenangan, kalau bisa sampai puncak pun, saya anggap itu bonus. Mas, kalau teknik survival itu bagaimana? Jika kepepet, bolehkah melanggar 3 etika mendaki gunung itu?

        • Hehehe coba mendaki di hari senin mas pasti jauh lebih sepi. Kalau mas masih tanya teknik survival seperti apa, lebih baik tidak mendaki sendiri….

  12. Sip mas. Hehehe, eh, kalau ada yang ngambil barang orang waktu di camp itu, termasuk survival gak mas? Kan mempertahankan hidupnya (meski dari segi ekonomi) hehehe. Soalnya di grup fb sama situs sebelah, lagi heboh tuh. Mungkin ada tips gak? Baiknya carrier dan isinya di bawa ke atas, atau ditinggal di tenda camp? Antisipasi aja mas. Ada juga yang dirampas mas.

    • hahah itu mah maling yaaa :)) Duh sulit juga sih. Kalau aku sih tas keril selalu dibawa ke atas (tapi kosong, paling air, snack, dan barang2 berharga). Terus tendanya dikunci…ya kalo niat maling sih tetep aja bisa dirobek…

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')