WN282920

Di bawah kaki gunung tertinggi Jawa, Ranupane, 5 Oct 2013 [19.00]

Hari sudah gelap ketika kami memasuki area taman nasional bromo tengger semeru. Jalur tumpang yang seharusnya kami lewati dari malang sedang diperbaiki, sehingga kami harus memutar lewat Lumajang.

Bertambahlah waktu tempuh kami hingga dua jam lamanya untuk mencapai ranupane – desa terakhir yang bisa ditempuh oleh roda empat sebelum mendaki gunung tertinggi di pulau jawa, Semeru!

Di dalam pawon
Di dalam pawon

Seperti biasa, saya melihat beberapa orang dengan ransel seukuran ‘kulkas’ terlihat sedang beristirahat menunggu pagi sebelum pergi melanjutkan perjalanan.

Sesaat setelah saya membuka pintu mobil, semilir angin gunung sudah menusuk kulit. Tak heran, selain tepat di bawah lembah, Ranupane berada di ketinggian 2200 meter diatas permukaan laut.

Kalau lagi musim kemarau, jangan kaget kalau  pagi hari menemukan butiran es!

Hotel berbintang sejuta
Hotel berbintang sejuta sahabat petualang

Kami disambut seseorang yang hanya mengenakan sarung tipis – seperti orang tengger pada umumnya – sebagai jaket untuk melindungi dari terpaan dingin.

“Silakan masuk ke dalam, mas,” ujarnya sambil tersenyum.

Rumah ini punya ruang tengah yang terbilang luas dibandingkan kamar-kamar sekitarnya. Dua puluh empat orang rombongan kami bisa masuk ke dalamnya walaupun agak berdesakan.

Di tengah-tengah ruangan terdapat tungku yang digunakan untuk memasak dan menghangangatkan badan. Di depan tungku, terdapat kursi yang disusun berhadapan seperti angkutan umum dalam kota. Langit-langit di atasnya nampak hitam karena terus menerus diasapi oleh tungku.

Unforgetable morning
Unforgetable morning

“Disini tempat orang tengger berkumpul, mencari hangat, dan bermusyawarah, dan menyambut tamu,” kata Lutfi, warga tengger yang menyambut kami sambil tersenyum.

Ia mempersilakan kami duduk di pawon untuk menikmati sajian khas tengger; jagung putih penggati nasi, sepotong ayam utuh, sayuran bunga kol yang masih muda, serta sambal plecing tengger. Sambal yang rasanya membuat dingin hampir-hampir menjadi hilang saking pedasnya.

Dingin menusuk di ranupane
Dingin menusuk di ranupane

Saya selalu terkesan dengan keramah-tamahan orang Tengger. Bukan kali ini saya merasakan mereka sangat menghormati tamu.

Setahun yang lalu, saat saya baru saja turun dari Mahameru – dengan keadaan yang sangat lemah dan sudah terlalu malam untuk mengejar truk sayur kembali ke Tumpang – saya dipersilakan seorang warga Tengger untuk menginap di rumahnya.

Bahkan kami juga disajikan makanan, tanpa harus membayar sepeserpun karena waktu itu uang kami hanya untuk ongkos pulang.

Tengger, selain berasal dari suffix nama pendahulunya Roro An(teng) dan Joko Se(ger), secara etimologis berarti tanpa gerakan. Dalam artian yang menunjuk kepada perilaku yang berbudi luhur, sederhana dan bersahaja, serta tak ingin macam-macam.

Mereka hanya ingin hidup harmonis dengan alam.

Tipikal pemukiman warga tengger
Tipikal pemukiman warga tengger

Orang tengger selalu memberikan penghargaan tertinggi terhadap alam. Hidup mereka tak bisa lepas dari alam pegunungan tengger. Mereka sadar, alamlah yang akan mencukupkannya – jika mereka tetap berlaku sahaja dan tidak serakah.

Keselarasan antara keseimbangan alam dan kesederhanaan hidup membuat orang Tengger sudah menjadi substansi kehidupan dari mereka.

***

Pagi yang dimulai dengan cara yang sangat indah
Pagi yang dimulai dengan cara yang sangat indah

Pagi itu mungkin tak akan bisa lepas dari ingatan kami. Dingin menusuk , kabut bergulung diatas danau, seakan menyambut kami bersama para sahabat petualang yang sedang duduk bersama mencari hangat dari tenda-tenda yang membeku.

Sesaat kemudian, sang surya mulai muncul dari balik bukit. Memancarakan serpihan kehidupan ke sekeliling lembahan yang ditanami ladang kentang dan kembang kol. Merah muda, bak pipi seorang gadis jelita yang sedang tersipu.

Fotografer menyebutnya golden moment. Kalau sudah begini, siapa bilang ladang hanya menghasilkan sayuran?

Merekam pagi.
Merekam pagi.

Di kejauhan, Gunung semeru masih saja dengan angkuhnya melihat kami yang tak lebih besar dari batuan yang ia muntahkan. Semeru, puncak abadi para dewa, adalah bagian dari kehidupan warga Tengger.

Ia memberikan kehidupan bagi setiap warga tengger, tapi juga sebagai pengingat – bahwa maut bisa datang kapan saja.

CSR daihatsu memberikan beberapa buah tong sampah untuk daerah ranupane
CSR daihatsu memberikan beberapa buah tong sampah untuk daerah ranupane
Gunung semeru terlihat di kejauhan
Gunung semeru terlihat di kejauhan
Ranupane, rumah orang tengger di pagi hari. Dingin!
Ranupane, rumah orang tengger di pagi hari. Dingin!

Kapan nanjak semeru lagi, nih?

Terima kasih!

2 COMMENTS

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')