Lima tahun lalu waktu backpacking ke Nusa Tenggara, saya cuma bisa berandai-andai tentang kota ini. Cuma gara-gara satu bangunan di kota Ruteng yang Eropa sekali dan pemandangan genteng-genteng rumah di kejauhan, saya jadi berimajinasi terlalu jauh.

Namun namanya berandai-andai, bebas saja kan? :)

Berkat sedikit sisa tabungan yang disisihkan, tiket promo, dan izin semesta,  akhirnya saya bisa menginjakan kaki di negara yang dulu sempat jadi andalan saya di game Winning Eleven. Ceko!

Saya sampai di kota Praha menggunakan Bus dari kota Berlin. Saya memakai jasa flixbus selama berkeliling kota Eropa. Murah dan cukup nyaman menurut saya.

Saya sampai sore hari disana. Atau malam hari ya? Soalnya waktu itu matahari terbenam sekitar jam 9 malam. Jadi saya kadang suka bingung masih cerah kok saya sudah ngantuk, hehe.

Old Town Prague

Kesan pertama saat sampai di Praha adalah: rame banget!

Terutama daerah Old Town-nya. Hilang sudah imajinasi saya tentang kota dengan kastil dan benteng tua yang sepi dan tenang.

Untungnya, bangunan-bangunan yang sudah ada sejak abad kesepuluh ini memang cantik betul. Peduli amat dengan turis-turis lainnya.

Hal unik yang saya temukan pertama kali, banyak sekali orang Korea disini. Bahkan salah satu convinience store di sebelah hostel saya juga kasirnya orang Korea!

View dari Clock Tower

Waktu naik ke atas clock tower di tengah kota tua Praha, sebagian besar pengunjung adalah Ahjuma-Ahjusi korea yang ditemani oleh tour guide yang mengibar-ngibar bendera.

Saat itu, saya lebih terasa sedang di Myoengdong sedang mencari masker buat jasa titip daripada di kota tempat sastrawan Franz Kafka ini lahir.

Anw, hari itu cerah sekali jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan untuk memotret Praha dari atas. Ada beberapa titik untuk melihat penatapan cantik Praha. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Old Town Hall Tower
  2. Powder Tower
  3. Metronome on the Hill
  4. Castle Hill
  5. Petrin Hill and Tower
  6. Charles Bridge Tower

Saya hanya mencoba nomor 1 dan nomor 3. Ada yang gratis ada yang harus membayar tiket masuk. Untuk si Old Town Hall tower ini tentunya harus membayar. Harganya CZK 250, sekitar 10 euro, atau sekitar IDR 150.000. Untuk nomor 3 karena di atas bukit, ya bebas-bebas saja karena memang sebuah taman publik.

Dari atas bukit terlihat kawasan Old Town dan Charles Bridge

Tapi kalau kamu cuma bisa naik ke satu buah tower saja, pilihlah Old Town Hall Tower, atau juga terkenal dengan nama Clock Tower. Karena letaknya betul-betul di jantungnya Praha.

Percaya saya, walaupun yang kamu lihat sama-sama genteng berwarna oranye seperti yang bisa kamu lihat dari atas Monas, atmosfirnya sungguh berbeda.

Beruntung saya naik ke atas hari itu, karena tiga hari berikutnya matahari sama sekali tidak muncul. Bahkan hujan!

Waktu itu bulan April 2017, seharusnya sudah musim semi. Namun suhu tak pernah lebih dari 10 derajat celcius. Membuat darah tropis saya ini membeku.

Hal aneh lainnya yang saya temui di Praha adalah : KOK BANYAK BANGET THAI MASSAGE DISINI? :)))

Di beberapa sudut Old Town, pasti kamu akan melihat tempat thai massage. Kalau cuma satu-dua sih wajar yah. Ini mah tiap pengkolan bisa ada dongg haha!

Selain thai massage, yang juga ada dimana-mana adalah penjual Trdelnik. Roti yang dipanggang dengan cara digulung di stik dan ditaburi gula. Bisa pakai eskrim juga. Tapi hati-hati kamu kena tourist rip-off, harganya dimahalin parah.

Rasanya biasa aja dan bisa ditemukan di mal-mal sekitar Jakarta dan Tangerang. Jadi saya nggak rekomen untuk beli ini. Harganya yang overpriced pun membuat saya bisa bilang ini adalah salah satu tourist scam.

Anyway, hati-hati kalau memakai Euro disini. Kamu bakal dapet kembalian mata uang Koruna (CZK) tapi dengan konversi yang seenaknya. Jadi lebih baik ambil CZK di atm secukupnya saja.

Untuk berjalan-jalan di Praha, kamu bisa naik Tram atau MRT. Saya lebih suka tram, karena jalannya sangat lambat dan bentuknya sangat retro. Ada dua jenis tram disini, yang biasa dan sudah modern dan yang retro. Yang retro lebih instagram-able, jadi saya selalu menunggu yang versi jadul ini ketimbang yang modern.

Trem versi jadul

Tapi bagian kota tua dan sekitarnya tak terlalu besar. Jadi saya lebih banyak berjalan kaki. Melintasi jalan-jalan mungil kota ini yang tak terlalu banyak turis sangat menyenangkan. Rasanya ingin berfoto terus.

Melintasi Charles Bridge yang dibangun pada tahun 1357 juga jadi pengalaman tersendiri. Apalagi dari sini terlihat kastil praha yang membuat bangunan-bangunan lainnya nampak seperti kurcaci.

Kastil praha dari Charles Bridge

Tak banyak yang saya lakukan selama 3 hari disini selain berjalan-jalan di pinggir sungai sambil menikmati udara sejuk. Kalau ada yang bilang Praha romantis, saya punya pendapat yang sama. Apalagi kalau pergi kesana bersama kekasih.

Tapi jangan percaya saya, karena saya kesananya cuma bareng om-om kameraman ftv.

Ah, akhirnya kesampaian juga ke Praha!

 

8 COMMENTS

  1. Kayanya seru buat modusin anak orang di sana ya, setuju, nampak romantis. Ditambah lah, cinematic romantic. Hahaha. Jadi ke sana stuting FTV? *wow 😂

  2. kok bisa ya banyak amat orang korea di sana? lagi ada tren apa yang berbau ceko di korea?
    btw gaya kak wira udah semakin mantap nih sebagai instagramer :P

  3. iyaaa nih, mz wira sekarang mejeng terus foto ala-ala Kadek Arini, hahaha.
    jadi penasaran pengen ke Praha juga, gue pikir kota ini bukannya termasuk paling murah di Eropa, ya?

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')