Belajar Membatik bersama Komunitas Batik Rifaiyah Batang

4
Batik Rifaiyah

“Batik ini bukan Batik Pekalongan mas, ini namanya Batik Sambilan. Sambil momong anak, sambil masak,” jawab Ibu Uting ketika kami tanya nama Batik ini.

Padahal kami sedang serius mendengarkan, namun malah dibuat tertawa oleh candaan si Ibu! Batik ini bernama Batik Rifaiyah. Batik yang dibuat oleh sebuah komunitas di Desa Kalipucang, Kabupaten Batang, tak jauh dari kota Pekalongan yang memang sudah sangat terkenal dengan batiknya.

Batik Rifaiyah masuk ke dalam kategori batik pesisir, bukan batik keraton. Batik Rifaiyah punya ciri khas gabungan batik klasik dari Solo dan Jogja, namun dengan percikan bentuk dan warna Batik Pekalongan yang kental. Oleh karena itu, motif Batik asal Batang yang terkenal ini salah satunya adalah Batik “Tiga Negeri”

Ragam motif batik rifaiyah

“Untuk Batik Tiga Negeri yang paling murah itu sekitar 800 ribu rupiah mas, kalau yang mahal bisa mencapai 20 juta rupiah,” ujar Ibu Uting.

Pengerjaan batik disini bisa mencapai empat bulan hingga satu tahun. Tergantung tingkat kesulitan motif. Juga tergantung kesibukan para pembatik di Komunitas Batik Rifaiyah ini, karena tak semuanya memang “full-time” jadi pembatik. Makanya tadi si ibu sambil bercanda bilang ini namanya “Batik Sambilan”.

Ibu Uting

Setiap Batik di daerah punya ciri khas masing-masing. Dari motif, warna, hingga corak bisa bermacam-macam. Biasanya menggambarkan kearifan lokal masing-masing. Untuk Batik Rifaiyah sendiri, motifnya biasanya menggambarkan tumbuhan. Jarang sekali ada motif hewan karena dalam ajaran islam dilarang untuk menggambarkan makhluk hidup kecuali yang berasal dari flora.

Hal ini disebabkan oleh pembatik di Batang ini kebanyakan adalah muslim yang memegang teguh ajaran islam, yang dibawa oleh guru besar Pondok Pesantren setempat yaitu KH. Ahmad Rifai. Ia juga merupakan pejuang kemerdekaan di zaman kolonial dan juga seorang pahlawan nasional. Nama Rifaiyah pun diambil dari nama beliau.

Demo membatik

Si Ibu bercerita bahwa ada seorang pelangganya asal jepang yang membuat kain batik tiga negeri menjadi sebuah dress yang agak ‘terbuka’. Dia pun cukup shock karena seharusnya batik ini hanya dipakai sebagai kain panjang, sarung, atau selendang. Tapi ya, dia tak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah hak sang pembeli.

Ibu Uting sudah mulai belajar membatik dari usia 10 tahun. Dia mengakui, anak-anak muda di Batang sekarang sudah mulai meninggalkan kerajinan warisan budaya nusantara ini.

“Dulu saya anggep mbatik ini yang biasa aja. Wong kebiasaan dari kecil saja. Tapi saya dikasih tahu sama orang-orang kalau banyak penelitian batik ini ya satu-satunya di dunia. Saya baru sadar kalau kita diwarisi budaya yang sangat luhur,” cerita si Ibu.

Jangan di sembur mz..

Ibu Uting pun mulai mengajarkan kami membatik. Masih menggunakan canting halus yang terbuat dari bambu yang sangat tradisional. Ia mulai memanaskan malam (lilin) di atas penggorengan kecil yang menggunakan kompor arang sebagai pemanasnya.

Tangannya cekatan menggambar sebuah bunga. Dengan cekatan ia memasukan lilin ke canting, meniupnya dan langsung menggambar tanpa dicetak dengan pensil terlebih dahulu. Ia menggambar sebuah bunga, lengkap dengan motif-motif garis dan titik yang membuat bunga semakin berdimensi. Cepat sekali, mata saya hampir tak berkedip melihat keterampilan si Ibu.

Serius membatik. It’s so much harder than it looks!

Kemudian tibalah saatnya saya dan kawan-kawan mulai membatik. “Ah, ini mah mudah tinggal menggambar seperti biasa saja,” batin saya.

Namun ternyata saya salah, ini sama sekali bukan mengambar biasa. Tak ada tombol undo jika saya salah menggambar dalam kanvas yang berupa kain katun ini. Entah mengapa lilin selalu kering dalam canting saya sehingga motif saya yang abstrak ini menjadi semakin random.

Setelah lumayan berkonsentrasi membatik, saya akhirnya mendapati hasil saya yang seperti ini. Mohon jangan ditertawakan :))

Lihat batik buatan saya, jangan salah fokus!

Ada 24 motif dasar batik Rifaiyah. Mereka adalah pelo ati, kotak kitir, banji, sigar kupat, lancur, tambal, kawung ndog, kawung jenggot, dlorong, materos satrio, ila ili, gemblong sairis, dapel, nyah pratin, romo gendong, jeruk no’i, keongan, krokotan, liris, klasem, kluwungan, jamblang, gendaghan dan wagean.

Walaupun banyak, motif batik Rifaiyah menyimpan banyak sekali ajaran dan filosofi spiritual. Seperti misalnnya motif pelo ati. Ati (hati) menggambarkan sifat-sifat terpuji, sedangkan pelo (ampela) menggambarkan sebaliknya. Sehingga batik disini tidak hanya tentang keindahan, namun juga terkandung pesan-pesan kehidupan.

Serunya belajar membatik

Setelah mencoba membuat batik sendiri, saya baru sadar sulitnya untuk memproduksi satu kain yang betul-betul handmade dan tradisional. Sangat berkelas, berbeda dengan batik yang dicetak dengan mesin. Mudah-mudahan nanti saya bisa membeli batik asli yang betul-betul dibuat dengan tangan telaten dan banyak mengandung makna kebaikan, seberapa mahalpun harganya.

***

 

4 COMMENTS

  1. Batik kayak gini biasanya diwaris2kan. Di keluargaku ada selembar yang tiap ada bayi lahir buat ngangetin bagian kepala. Udah entah dari simbahnya simbah mungkin

  2. gambar kedua dari bawah buat salah fokus mas,,,…jadi kelihatan bagus batiknya hehehe…pernah dapat pasien anak-anak yang sedang belajar membatik kena malam panas…yang dimasukkan seluruh telapak tangannya bukan cuma cantingnya…hadewh….

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')