Makan malam bersama host family

Sore itu masih terik sekali. Tipikal musim panas di Jepang, yang rasanya lebih panas dari Jakarta! Baru saja tiba di rumah Michan, saya dan kawan-kawan langsung diminta untuk ke kebun di samping rumahnya.

“Ayo petik sayuran untuk bahan-bahan makanan nanti malam!” ujarnya penuh semangat.

Kira-kira seperti itu terjemahannya. Karena Michan sama sekali tak bisa bahasa Inggris.

Michan adalah pemilik homestay di kota Kibichou, Prefektur Okayama. Jika kita ibaratkan Tokyo adalah Jakarta, Kibichou ini boleh kita bilang seperti kota Garut deh, haha! Untuk ke Kibichou, kita bisa naik bus sekitar satu jam dari Stasiun Okayama.

Rumah Michan terletak di pinggir jalan. Namun jarang sekali mobil melintas, sehingga suasana tetap tenang, tipikal daerah pedesaan.

Rumahnya dikelilingi sawah dan perbukitan. Kebunnya tak besar, tapi jika kamu mau membuat tempura, rasanya sudah cukup bisa membuat set menu tempura lengkap dari hasil kebunnya!

Ada terong, timun jepang, yuri, blueberry, pare, tomat, kabocha, daun bawang, okra dan beberapa tanaman lainnya.

Bluberry di depan rumah micchan
Sayuran yang kami petik

Michan pun menyuruh kami mandi sebelum makan malam. Rasanya seperti sedang tinggal di rumah nenek yang cerewet tapi sayang sekali dengan cucunya, haha!

“Kalian boleh mandi berkali-kali, karena Jepang panas sekali kalau summer,” katanya sambil membawakan sepotong semangka segar untuk kami.

Membantu michan di dapur

Rumahnya ada dua lantai. Lantai pertama ada dapur, ruang makan dengan meja makan lesehan, dan ruang keluarga yang disulap jadi kamar tidur untuk kami berempat.

Tempat tidurnya tentu menggunakan futon. Kasur lipat jepang yang sangat praktis. Tinggal di simpan di dalam lemari jika tidak digunakan.

Walaupun ini rumah terlihat tua, tetapi teknologi di dalamnya sangat canggih. Kamar mandinya ada bathub (btw, bathub ini semacam standar kok di Jepang walaupun rumahnya sekecil apapun) yang bisa diatur temperaturnya secara digital. Air untuk kita berendam pun digunakan untuk mencuci baju. Karena sebelum berendam, kita diharuskan mandi dulu dengan shower.

Lantainya menggunakan tatami yang terbuat dari jerami kering yang dibentuk sebagai karpet. Tatami berfungsi sebagai insulasi agar kita tidak kedinginan saat duduk maupun tidur.

Ruang tengah yang akan disulap jadi tempat tidur

Homestay michan ini sangat ramah muslim. Ia menyediakan makanan halal. Dari bahan makanan seperti kecap asin pun ia membeli yang berlogo halal. Bahkan, ia sudah membeli peralatan masak dan alat makan khusus untuk muslim!

Rate menginap di sini juga sangat murah! Cuma sekitar 8000 yen permalam. Termasuk makan malam dan sarapan! Bandingkan dengan menginap di Ryokan yang harganya bisa 20,000 yen atau lebih. Ini betulan rumah orang Jepang loh, bukan hotel yang dibangun bergaya Jepang. Otentik. Makanya saya bisa bilang ini murah!

Saya menggunakan apps google translate untuk berkomunikasi dengan michan. Saya pun bertanya apa yang bisa saya bantu saat ia memasak. Ia meminta saya untuk membuat semacam lumpia basah yang kulitnya terbuat dari tepung beras, kemudian diisi dengan salad.

Michan juga sangat senang berbicara dengan kami. Tak mau kalah, ia pun menggunakan google translate untuk bercanda dengan kami.

Menu makan malam

Makan malam pun tiba. Menunya ada nasi blueberry yang rasanya agak asam mirip nasi untuk sushi, tempura sayur-sayuran, lumpia sayur, dan kroket daging. Sederhana, tapi sangat rumahan.

Setelah makan, kami diajak bermain kembang api oleh Yuki-chan, suami dari Michan. Yuki-chan sudah cukup berumur dan tidak selincah michan, tapi ia tetap menemani kami bermain hanabi. (kembang api)

Meski sederhana, tapi hal-hal kecil seperti ini yang membuat kami merasa sangat hangat dan diterima. Karena biasanya, orang Jepang agak konservatif dan sulit menerima orang asing. Apalagi orang Jepang di generasi seperti michan ini.

Sayang, kami hanya bisa semalam menginap di sini. Karena michan memang hanya menyediakan paket untuk semalam saja.

Matahari mulai tinggi pagi itu. Kami mulai mengemas barang, sarapan, dan pamit kepada michan. Tak sampai 24 jam kami di berada di rumah michan, tapi pengalaman yang kami rasakan sungguh berkesan.

I’m sure i will back here with my loved ones.

Sayonara, Michan!

homestay MICHAN

Alamat : 535-2 Yoshikawa, Kibichou Town, Kaga-kun, Okayama.

Reservasi ke Kibichou Town Hall ( +81-866-54-1301)

9 COMMENTS

  1. Seru amat. Homestay-nya beneran homestay ya. Teh Micchan (anggap saja Garut beneran) ngajak tamunya partisipatif hidup seperti orang lokal di sana. Suasana rumahnya nampak enak, lebih dari 24 jam dan males-malesan di sana seru tuh 😁

    • Kalau beneran teteh-teteh mungkin aku gak balik-balik mz wkwkwk. Ini sih, nini-nini :))

      Iya memang betulan homestay. Asik banget walopun cuma sehari :D

  2. kyaknya baru ini nemu blog/vlog tentang homestay di jepang (di rumah warga)…hehe menarik banget..hehe
    .
    bang Wir mau banyak nanya…wkwk
    aku bingung sama kalimat ini “Air, untuk kita berendam pun digunakan untuk mencuci baju”, air bekas berendam atau air biasa?
    .
    btw ini private trip bang?..terus emang sengaja nyari homestay berempat?.
    terus itu 8000 yen itu per orang atau dibagi berempat?
    .
    maaf banyak nanya..kepo soalnya haha..🤣

    • Jadi air bathub yang sudah digunakan untuk berendam gak dibuang, tapi dimasukin ke mesin cuci. Jadi gak mubazir gitu..Karena kan udah mandi dulu sebelum berendam, jadi air dianggap bersih.

      8000 yen per orang. Ini private trip iya, tapi diundang juga sama tourism okayama sini hehe.

  3. Wah ini sih paket komplit. Dapet tempat buat istirahat, dapet sosialisasi sama orang jepang, dapet pengalaman berkebun, plus masak ala jepang meskipun cuma bantu-bantu.. Hehe.. Btw itu mereka udah tua tapi berdua aja tinggal nya? Atau mungkin ada ehm anaknya yg kawaii gitu? Hahaha

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')