Potret Adat Dayak Kenyah di Desa Pampang, Samarinda

18

Saya pikir, untuk melihat suku dayak asli, saya harus trekking masuk ke pedalaman Borneo. Namun, ternyata tak perlu, desa dayak bernama Pampang ini tak jauh dari pusat kota Samarinda. Jaraknya pun dekat, hanya sekitar 20 km.

Dayak yang tinggal di Desa Pampang ini adalah komunitas Dayak dari sub-etnis Dayak Kenyah. Sebelumnya, kawasan ini adalah hutan. Namun, kemudian warga Dayak Kenyah yang tinggal di Apo Kayan, hulu Sungai Mahakam dekat perbatasan Serawak, Malaysia pindah ke kawasan ini. Mereka pindah karena alasan di desa asalnya kesulitan mengakses segala sesuatu.

Panas terik. Keringat seperti biji jagung berjatuhan di bawah leher saya. Waktu menunjukan pukul sebelas siang ketika tim terios 7 wonders tiba di Desa Pampang. Sepanjang jalan utama desa terlihat beberapa gerai yang menawarkan berbagai barang kerajinan dan cendera mata khas Dayak Kenyah. Terlihat juga gadis-gadis Dayak yang bening itu. Duh, aku takut kecantol tuips.

dayak kenyah desa wisata pampang
Beberapa cindera mata yang bisa dibeli seperti topi, dompet, kain dan sebagainya.

Kami disambut Simsong Imang, salah satu tetua adat, sekaligus seorang penari di Desa Pampang ini. Ia menggunakan pakaian ada khas dayak. Terlihat ia memakai anting khas dayak yang ukurannya besar sekali sehingga telinganya menjadi tertarik ke bawah.

“Sudah jarang yang pakai anting seperti ini. Generasi muda kami sekarang malu memakainya,” kata Simsong lirih.

dayak kenya desa pampang
Simson Imang

Atraksi utama di desa ini adalah tari-tarian. Setiap hari Minggu, jam 2 siang waktu setempat, masyarakat Dayak di desa ini selalu mengadakan pagelaran tari di rumah adat Lamin. Lamin adalah rumah panggung yang merupakan rumah tradisional suku Dayak. Lamin ini sudah ada pada tahun 1990-an. Dinding rumah Lamin dipenuhi ukiran warna-warni kuning-hitam khas Kalimantan. Ukiran ini melambangkan jiwa gotong royong dan kebersamaan suku dayak. Oh iya, kalau mau foto-foto ada tarif khususnya yaitu 25 ribu rupiah per orang.

Dayak pampang kalimatan
Muda dan Tua

Kami dipersilakan masuk ke dalam Lamin. Gadis-gadis muda berpakaian khas dayak nampak malu-malu menyapa kami. Laing Along, membuka acara dengan bercerita singkat tentang Desa Pampang ini. Tak lama kemudian, ia mengambil sebuah alat musik mirip gitar yang lebih bulat dan pipih, bersenar empat, terbuat dari kayu yang diukir dengan sentuhan dayak.

Ia memainkan nada-nada merdu bernuansa tribe bertempo lambat yang membawa kita seperti ke dunia lain. Suaranya seperti gitar banjo, namun dengan pitch yang lebih tinggi. Irama musik mirip campuran antara Tiongkok dengan India.

Tak lama kemudian, Simson masuk ke dalam panggung, lengkap dengan pakaian yang dia kenakan tadi, ditambah sebuah pedang dan tameng. Ia menari lambat, tatapan matanya tajam namun rileks, kami terbuai dibuatnya. Ia menarikan tari Kanjet Lamadalasan. Tari yang digunakan untuk menyambut dan membuka acara. Tari ini harus dilakukan oleh laki-laki.

.
Tari Kanjet Lasan

Berikut sedikit video yang saya rekam saat itu:

Alunan musik kian cepat, namun Simson malah keluar dari panggung. Setelah itu, masuklah seorang gadis cantik dengan seorang bocah perempuan kecil yang amat lucu. Ia menarikan tarian Kanjet Lasan, tarian yang melambangkan persahabatan. Gerakannya lemah gemulai. Iramanya lebih riang dan cepat, dibandingkan tarian sebelumnya. Tak sadar, senyum kami selalu mengembang menyaksikan atraksi ini.

Desa Pampang ini memang desa wisata di Samarinda. Bukan desa-desa dayak pedalaman yang banyak mitosnya itu. Di hari minggu, pengunjung yang datang bisa ratusan. Namun, memang saat kami datang di hari biasa, hanya rombongan kami yang ada disana saat itu.

Kamipun hampir mendekati akhir perjalanan liar ini. Perhentian berikutnya akan kembali lagi ke dalam hutan. Taman Nasional Kutai!

dayak kenya desa pampang samarinda
….
dayak kenya desa pampang samarinda
,….
dayak kenya desa pampang samarinda
….
dayak kenya desa pampang samarinda
….

Ekspedisi Terios 7 Wonders ini adalah perjalanan media bersama Daihatsu. Semua opini adalah milik pribadi. Lihat tulisan lainnya dibawah ini.

  1. Menerobos Kabut Asap Kalimantan — Terios 7 Wonders
  2. Bertemu Orang Utan Liar di Taman Nasional Sebangau
  3. Monitor, Mari Makan Lontong Orari, Ganti! 
  4. 8 Blogger Kece yang Ikut Berpetualang Bersama di Borneo Wild Adventure 
  5. Bertemu Bekantan di Pulau Kaget, Monyet Ganteng Tapi Pemalu 
  6. 14 Tips Untuk Konvoi Perjalanan Darat Jarak Jauh dengan Mobil 
  7. Anggrek liar di Kalimantan, Masihkah Ada?
  8. PALIAT, Kuliner Nikmat Khas Tabalong!
  9. Kerbau Amuntai yang Punya Hobi Aneh : Berenang!
  10. Mengintip Penangkaran Buaya Teritip Balikpapan
  11. Potret Adat Dayak Kenyah di Desa Pampang, Samarinda -> you are here!
  12. Pohon Ulin Terbesar di Dunia Ada di Taman Nasional Kutai!
  13. Tak usah Ragu, Inilah 7 Alasan Mengapa Derawan Harus Jadi Destinasi Liburanmu Selanjutnya!
  14. 7 Pengalaman Menakjubkan Yang Kami Temui Selama Perjalanan ‘Terios 7 Wonders Borneo Wild Adventure’! (plus video perjalanan!)

18 COMMENTS

  1. Aku ketemu penduduk asli Dayak dulu tapi nggak pake bayar sih Mz, dibawain rokok aja katanya. Tapi keren ya masih ada Rumah Laminnya :D
    Gara-gara komentar Om Cum, aku penasaran kamu beli apa Mz. Hahahhaa…

  2. Bang, segini banyak foto apa tetep dikali 25 rb? :D
    itu per orang yang di foto atau per orang yang moto ?
    tapi semuanya di bayarin ama bang cumi kan?

  3. Motifnya bisa dibawa ke kancah internasional tuh, pengenala salah satu budaya, keunikan, etnis, suku, adat yang bisa menjadi dijual…
    maksudnya punya daya saing yang tak akan kalah. kecelaah, ada oleh-olehnya ga ka hehhe :)

  4. halo mas Wira mau nanya dong untuk kerajinan tangan disana bisa custom nggak ya? hehehe
    misalnya mau ada tambahan namaku gitu hehehe

    terimakasih :)

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')