Review : Setahun Memakai Fujifilm X-T2

19

Catatan : Semua foto dibawah adalah asli JPEG dari fuji X-T2, tanpa ada editing apapun sama sekali. Hanya di resize saja untuk upload di web. Setting film simulation standard provia, kecuali disebutkan lain.

Fujifilm terkenal sudah membuat produk-produk untuk kamera sejak 50 tahun silam. Dan sekitar enam tahun lalu mereka memperkenalkan sensor X-trans untuk line up kamera mirrorless barunya yang diklaim bisa sebagus sensor yang lebih besar seperti full frame.

Togean Island

Saat itu saya adalah pengguna full frame DSLR dan kamera micro four third untuk kombinasi foto & video. Saya tak tertarik ketika mencoba kamera generasi awal fuji karena sangat tak responsif. Walaupun saya akui saya sangat suka hasil fotonya. Ketika X-T1 muncul, saya pun membelinya karena sudah cukup memenuhi kriteria saya kecuali satu hal : video.

.

Buat saya video di XT1 itu buat bercanda saja. Bahkan hape saya bisa mengambil video yang lebih bagus!

Sampai akhirnya XT2 muncul, saya pun penasaran dan mencobanya langsung di sesi try out yang diadakan showroom fuji di mall grand Indonesia. Tak perlu berpikir panjang setelah itu,  saya pun membelinya, it is one the best hybrid camera out there!

Buat saya kamera yang saya butuhkan harus memenuhi kriteria ini:

  • Warna foto sesuai selera (wkwk)
  • Autofocus continous di foto dan video bisa diandalkan
  • Banyak tombol custom function
  • Ada viewfinder yang ukurannya besar
  • Bisa video 4K
  • Ada slot mic 3.5 mm
  • LCD yang bisa flip ke depan (sayangnya fuji tak punya ini)

Kualitas bodynya solid seperti X-T1. Tapi terasa lebih enak dipegang. Tombol-tombolnya terasa enak dan tidak ‘mendem’ seperti pendahulunya. Putar putaran iso, shutter speed, dan lainnya juga ada tombol lock-unclocked agar bisa dikunci.  Tak perlu ditahan tombol locknya baru bisa diputar seperti XT1, lebih praktis.

Putar-putaran old school ini masih tetap dipertahankan, walaupun kalau kamu ingin pakai tombol dual dial depan belakang ala DSLR standard juga masih bisa. Tinggal geser putaran shutter speed ke mode T.

low light dan kondisi cahaya mix yang sulit

Movie mode sekarang harus diaktifkan dengan lever bareng mode drive lain seperti CL, CH, bracket, dll. Lebih enak memang, sehingga tombol shutter bisa jadi tombol record.

Namun saya yang sering mengambil video dan foto membuat proses ini jadi lebih merepotkan. Untungnya dial movie mode ada di mode paling ujung sehingga saya tak perlu melihatnya saat mengubah posisi dial ke movie mode.

Seharusnya tetap ada record button sehingga dari mode foto bisa langsung record movie (at least mode automatic) jadinya saya tak perlu repot. Tapi ya itu saya saja, orang lain mungkin tak peduli.

Keberadaan joystick juga memungkinkan kita untuk mengganti mode autofocus dengan mudah dan menyenangkan. Sesuai namanya joystick (batang senang). #eh

LCD fuji X-T2 cukup bagus. Cukup untuk penggunaan outdoor. Walaupun tak seterang lumix GH5. Tapi dibandingkan dengan LCD kamera sony, which is absolute joke, tentunya sangat jauh berbeda. Pada saat merekam 4K pun X-T2 tetap normal. LCD tak meredup dan tak ada overheat!

Sakura

Saya berharap di X-T2 ada touchsreen sih, semoga bisa ada di X-T3 nanti. Joystick sudah sangat cukup untuk foto, tapi untuk video touchscreen tentunya lebih nyaman.

Fuji punya lineup lensa yang fantastis dibandingkan sistem lain. Saya hitung sekitar ada 30-an lensa dengan harga yang cukup reasonable. Sebagian besar punya kualitas optik yang diatas standard.

Saat ini saya memakai 10-24, 35, 16, dan 55-230. Lensa yang ingin saya punya berikutnya adalah 56 1.2 dan 100-400!

X-T2 adalah kamera foto yang luar biasa. Jika kamu punya kamera fuji sebelum ini dan punya dana yang cukup, langsung upgrade saja. Tak perlu berpikir (eh mikir dulu deh, mahal sik). X-T2 memang sedikit evolusi dari X-T1. Tapi dibandingkan mirrorless merk lain seperti Canon, X-T2 sangat revolusioner.

Autofocus sudah sangat cepat. Sudah menyaingi mirrorless yang terkenal cepat seperti olympus dan panasonic di mode AF-S. Namun di mode AF-C, karena ada phase detection autofocus, fuji dan sony memang masih juara. Sorry m4/3, kenapa masih pake contrast detection yang jadul itu sik?

Autofocus dibanding X-T1 dengan lensa yang terkenal lambat seperti 35 1.4 dan 56 1.2 pun saya rasa membaik. Jauh lebih membaik.

Classic Chrome

Untuk videonya sangat luar biasa. 4K dengan bitrate 100 Mbps! Sayangnya ada crop factor sedikit 1.17x di mode 4K. Tak ada crop factor ini di mode 1080.

Di mode 1080 60p, saya rasa ini kamera terbaik yang pernah saya lihat. Alus euy! And that film simulation betul-betul enak dipandang. Empuk dan renyah!

Sayang tak ada mode flat ( bisa mode LOG tapi harus pakai exteral recorder) di kamera ini. Kadang kalau butuh warna flat saya pakai film simulation PRO neg hi dan -2 di shadow dan highlight. Cukup membantu.

Saya sebut sekali lagi : tak ada overheating dan LCD redup waktu merekam video. *ngelirik ke sony.

Untuk high iso pada foto saya masih oke untuk memakai iso 6400. In fact saya pakai iso auto hingga 12,800 pada batas atasnya.

Namun untuk high iso pada video, saya hanya batasi di iso 3200 saja. Karena lebih dari itu sudah sangat grainy. Shadownya jadi crushed. Dan iso pada fuji meterannya agak berbeda dengan kamera lain. Saat saya match dengan kamera saya yang satunya, fuji mengekspos lebih gelap sekitar 1/3 hingga 1/2 stop dari kamera lain. Entah karena xtrans atau apanya, namun ini perlu kamu ketahui.

Pro Neg Hi, highlight -2, shadow -2

Autofocus di foto tak perlu saya review. Sudah sangat lebih dari cukup. Bahkan kita bisa mengcustom sensitivitas dari AF-C dan ada beberapa mode skenario untuk AF-C yang bisa dikondisikan untuk pemotretan kita. Seperti ‘suddenly appearing subject’ atau ‘ignore front obstacle’.

Untuk autofocus di video, karena ada sensor phase detection, this is one of the best! Kalau saya boleh bilang sebelas dua belas lah sama sony. Walaupun masih dibawah dual pixel-nya canon. Sayang kamera micro four third tak ada yang mengaplikasikan teknologi phase detection ini. *ngelirik ke GH5*

Satu lagi yang perlu diketahui adalah metering monitoring audio yang terlalu sensitif. Terlihat sudah clipping namun nyatanya saat saya buka di editing software masih bisa di boost sekitar 10 dB.

Kamera ini memang belum sempurna sesuai kebutuhan saya. Tapi untuk kebutuhan all around, kamera ini adalah salah satu yang terbaik. Masih banyak ruang untuk improvement lebih lanjut. Fuji sangat terkenal dengan firmware update-nya. Jadi saya masi optimis. Walaupun touch screen dan 5 axis stabilizer nggak akan bisa ditambahkan dengan firmware update sih. #eh

X-T2 adalah kamera fuji pertama yang agak serius untuk video. Mungkin kalau ditambahkan mode seperti 1080 120p dan mode log internal, tentunya bisa membuat para videographer beralih. Banyak kawan videographer saya yang sangat terpukau dengan warna fuji. Untuk kamera foto bersensor APS-C, saya rekomen X-T2 dibanding merk manapun. It’s that good.

Untuk traveling ukuran X-T2 juga cukup ringkas sehingga saya masih bisa membawa dua kamera. Saya berharap di XT3 nanti ada fitur yang diupgrade seperti :

  • 4K 60p (atau at least tanpa crop factor, hape aja bisa sekarang)
  • 1080 240p (atau 120p juga gapapa deh asal tajem)
  • LCD full flip bisa ke depan. 
  • AF-C yang lebih reliable.
  • TOUCHSCREEN ( APA SUSAHNYA SIK! WKWK)
  • Kembalikan tombol record movie plisss!

Terima kasih!

Dan terakhir ini contoh videonya, tetap tidak digrading warnanya. Jangan lupa like dan subscribe ya.

Contoh foto lainnya :

19 COMMENTS

  1. Racoooon macam.pas di warkop blang padang dulu, dikau ngeracun haha tp memang hasilnya yaaaa gitu deh. Tapi harganya yg cuma 23jt itu yg bikin awak baper bang

  2. Warna dan ringkas yg akhirnya buat jatuh cinta, dr X-E2 akhirnya pindah ke X-T1dan nambah X-Pro 2. Sempat galau antara X-T2 ama X-Pro 2 tp akhirnya pilihan jatuh ke X-Pro 2. Skrg gk menghabiskan banyak waktu buat retouching….

  3. Duh, postinganmu ini menggoda kak. Masa kudu buru-buru upgrade. Nambah satu lensa lagi juga belum hahahaha … Btw, emang XT-2 udah pake mic 3.5 mm? Soalnya di XT-20 masih 2.5 mm (ini PR banget). Eh iya, malah XT-20 yg udah touch screen yaaa.

  4. minta contekan setting kameranya bang…back light tapi masih bisa menangkap detail.
    saya pengguna xt-1. trimakasih.

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')