• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar

Wira Nurmansyah

Inspiring Indonesia to Travel the World

  • Home
  • About
  • Indonesia
  • World
  • Tips
  • Review
You are here: Home / Travel Story / Indonesia / Sota

Jun 13 2016

Sota

Fiol Bevek bersepeda dua hari untuk mencapai Indonesia.

Ia menggunakan sepeda ontel tua dengan batang berkarat dan rantai yang kering tanpa pelumas. Fiol menggunakan sepatu boot yang dengan bercak lumpur hingga celananya. Perjalanan dari kampungnya di Papua Nugini membelah hutan hingga Sota, Merauke ini nampaknya tak mudah.

Fiol membawa dua dus mie instan rasa ayam bawang. Tak hanya mie, kardus itu juga berisi beras, gula, dan beberapa selongsong kembang api untuk anaknya.

perbatasan sota indonesia papua nugini
Berbelanja

“It’s much cheaper here,” katanya.

Harga barang di Sota memang jauh lebih murah daripada di Papua Nugini. Meski dibandingkan dengan harga di Jawa masih jauh lebih mahal.

Dua kardus itu ia kaitkan di bagian belakang sepedanya. Mereka bersiap untuk pulang.

“ Is it a hard life?” seorang kawan saya bertanya kepada orang yang sedang membetulkan rantai sepedanya yang copot.

“ Yes it is”. Dia menjawab sambil tersenyum menunjukkan giginya yang kekuningan. “ But this is life.” ujarnya

Melintas perbatasan tak sulit. Tak ada pagar atau gerbang yang harus dilewati. Mereka hanya melapor pada tentara, kemudian pergi ke pasar yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari perbatasan.

Fiol Bevek
Fiol Bevek

 

***

Dari Merauke, saya menumpang mobil double cabin yang punya kemampuan offroad milik tentara perbatasan. Jalan sempit namun mulus. Mobil melaju tak kurang dari 100 km/jam sepanjang satu setengah jam perjalanan melewati Taman Nasional Wasur.

Sepanjang perjalanan, hampir tak ada yang berpapasan dengan mobil kami hingga sampai di Sota. Saya disambut dengan senyum seorang Polisi yang berjaga disini.

Pak Ma’ruf, polisi yang menyambut kami ini sudah bertugas di pebatasan Sota sejak tahun 1993. Ia adalah salah satu orang yang menggerakan masyarakat sekitar untuk merubah semak belukar di perbatasan menjadi sebuah taman. Rumahnya tak jauh dari sana, tepat di depan markas batalion 142. Ia juga menjual oleh-oleh khas perbatasan sini.

Melintasi Taman Nasional Wasur
Melintasi Taman Nasional Wasur

Setelah berbincang dan meminta izin ke tentara, saya berjalan kaki menuju Taman Sota. Disanalah saya bertemu Fiol Bevek dan kawan-kawannya yang sedang beristirahat.

Kontras dengan perbatasan di Jayapura yang ramai cukup ketat, perbatasan di Merauke hampir tak ada penjagaan. Hanya ada sebuah monumen kecil yang jadi pertanda garis batas antara Indonesia dan Papua Nugini. Saya bahkan bisa berdiri di dua negara sekaligus.

Perbatasan.
Perbatasan.

Yang unik di Sota ini adalah banyak sekali terdapat Masamus, sarang semut (atau rayap?) yang tingginya bisa melebihi langit-langit rumah. Warnanya coklat dengan tekstur seperti batu kapur. Saya kira dia bakal rapuh kalau dipegang, namun ternyata sangat kokoh seperti batu kali. Saya tak melihat semut yang melintas. Tapi, melihat ukuran sarangnya yang sebesar ini, niat saya untuk memancing semut ini keluar saya urungkan. Entah kenapa mereka tak keluar dengan sendirinya, padahal kan, saya sudah semanis ini? *abaikan*

Menjaga perbatasan tak mudah. Apalagi untuk melawan kebosanan. Sinyal seluler hanya cukup untuk sms dan telepon seadanya. Banyak tentara yang belum pulang berbulan-bulan.

Pak Ma'ruf
Pak Ma’ruf
sota-perbatasan-RI-papua-nugini-14
Musamu dari dekat
sota-perbatasan-RI-papua-nugini-15
Jadi inget Gaara di serial Naruto
sota-perbatasan-RI-papua-nugini-17
Penjaga perbatasan
sota-perbatasan-RI-papua-nugini-18
Rumah pak Ma’ruf.
Hutan sekitar Sota
Hutan sekitar Sota
Katanya ini batas yang asli secara geografis
Katanya ini batas yang asli secara geografis
Ini orang Papua (indonesia) atau Papua Nugini hayo? :D
Ini orang Papua (indonesia) atau Papua Nugini?

Fiol dan kawan-kawannya mulai bergerak menjauhi perbatasan Sota. Pulang kembali ke kampungnya yang berjarak dua hari dan membawa dus-dus mie instan. Mereka melambaikan tangannya sambil tertawa bahagia ke saya. Fiol dan kawan-kawannya tak nampak seperti seorang ayah yang tengah berjuang untuk keluarganya, melainkan seperti seperti saya waktu kecil yang bermain sepeda sambil mencari ikan di kali komplek sebelah.

 

 

Written by wira · Categorized: Indonesia, Maluku & Papua, Travel Story

Reader Interactions

Comments

  1. Nasirullah Sitam says

    13 Jun ’16 at 13:11

    Saya sendiri membayangkan jika menaiki sepeda tanpa membawa beban saja rasanya sudah lutut ini seakan-akan protes. Di sini saya bias melihat bagaimana keseharian para orang-orang di Timur benar-benar berjuang.

    Reply
  2. teronggemuk says

    13 Jun ’16 at 17:37

    Wira, aku pun mau menjelajah Indonesia ke tempat yang seperti ini. Ke tempat di mana kehidupan orang-orangnya jauh berbeda dengan kita yang di kota. Kapan ya Wir aku sehits kamu. Ajarin motret dong! #tetep

    Reply
    • wira says

      14 Jun ’16 at 14:37

      yokkk mba kapannnn? Eh gua jual lensa olympus nih mau gak? Baru ganti pacar nih wkwkwk.

      Reply
      • teronggemuk says

        15 Jun ’16 at 13:57

        Duh ini punya lensa 2 juga makenya aja belum bisaaa. Hahaha… Jadi lo bukan #TeamOlympus lagiih?

        Reply
        • wira says

          15 Jun ’16 at 17:44

          Gue sekrang #GoFujifilm #TerFujilah #TeamFujifilm :)))

  3. Defi Laila Fazr says

    14 Jun ’16 at 11:00

    tulisan yang sangat manis kak Wira, semanis yang barusan baca :D

    Reply
    • wira says

      14 Jun ’16 at 14:36

      Makasih kak Defi aku emang manis #ehgimana

      Reply
  4. tyas duatiket says

    14 Jun ’16 at 13:46

    Banyak sarang semut disana? Pantes temanku yg kerja di Papua, tiap pulang ke Jawa slalu bawain aku oleh2 sarang semut :'(

    Reply
    • wira says

      14 Jun ’16 at 14:35

      Kalau di merauke memang banyak kak, bahkan di bandaranya ada patung sarang semut raksasa.

      Reply
  5. Anthony says

    14 Jun ’16 at 15:48

    sarang semutnya bisa diapain yah? jadi makanan kali?

    Reply
  6. Dieng says

    14 Jun ’16 at 21:17

    Jadi ingin travelling seperti Kak Wira ke perbatasan, wisata anti mainstream judulnya. kalau menyimak cerita kak Wira kali ini kita pasti akan mensyukuri nikmat Tuhan. Ditunggu cerita kecenya ya Kak wira maniez :)

    Reply
  7. lindaleenk says

    17 Jun ’16 at 10:38

    Kamu ngapain sampai perbatasan situ :|
    wajib militer?

    Reply
    • wira says

      17 Jun ’16 at 13:53

      Iseng jalan-jalan aja kak hihi.

      Reply
  8. hilmi says

    20 Jun ’16 at 09:49

    Wah asik bisa main ke perbatasan, jadi inget baca-baca ceritanya mas Agustinus tentang kehidupan perbatasan di Paupa Nugini, hehe..

    Reply
  9. Rifqy Faiza Rahman says

    23 Jun ’16 at 05:14

    Saya jadi ingat tulisan salah satu artikel Agustinus Wibowo di blognya, tentang mengapa harus ada tapal batas yang membatasi dan memberikan perbedaan begitu jauh, sementara di balik setiap perbatasan ada kemudahan yang lebih dibutuhkan oleh masing-masing dari mereka :)

    Reply
    • wira says

      23 Jun ’16 at 10:08

      Ah iya, kayaknya mas Agus lagi buat buku tentang PNG ya.

      Reply
  10. winnymarlina says

    23 Jun ’16 at 16:45

    ih kak photonya cakep

    Reply
  11. Ceritaeka says

    24 Jun ’16 at 14:56

    Tulisanmu bikin madredeg :(

    Reply
  12. sasha says

    29 Jun ’16 at 11:09

    lihat ini tulisan jadi pengen kesana, hehehe

    Reply
  13. eri says

    29 Jun ’16 at 11:10

    wow, keren banget tuh foto, dengan panorama yang aslinya terutama hehehe

    Reply
  14. mesin es krim says

    30 Jun ’16 at 11:54

    Tempatnya bagus kalau dijadikan wisata alam

    Reply
  15. fanny fristhika nila says

    1 Jul ’16 at 22:13

    Waaah sarang semut.. itu obat banyak penyakit :).. dulu pas papa msih kerja di papua, dia selalu bawa sarang semut utk dijadiin obat.. cukup direbus, lalu airnya diminum.. rasanya kyk teh tawar aja.. :)

    ngeliat para tentara yg bekerja di perbatasan gini, kadang kasian.. jauh dari mana, sinyal ya begitu itu, gaji mungkin ga seberapa.. But like Fiol said, It’s life :)

    Reply
  16. febridwicahya says

    5 Jul ’16 at 00:55

    Kereeeeeeeeeen :3 aku baru pertama kali mampir kayaknya :D
    Sukaaak :D

    Pak Fiol itu setrong banget sih, suwer ._.

    Eh, aku kok kagum sama Musamunya ya ._. bisa gedeeee begitu ._.

    Reply
  17. Yudi says

    5 Jul ’16 at 12:19

    “ Yes it is”. Dia menjawab sambil tersenyum menunjukkan giginya yang kekuningan. “ But this is life.” ujarnya >>> ini kalimat yang paling aku sukai ketika ketemu orang2 dalam sebuah perjalanan kak.. dari mereka, kita bisa mengerti betapa beruntungnya kita yang masih bisa jalan2 keliling negeri :D

    #efekPuasa

    Reply
  18. insanwisata.com (@InsanWisata) says

    14 Jul ’16 at 15:18

    salut sama orang2 yg tugasnya di perbatasan. jauh dari keluarga, menjaga keutuhan NKRI.
    Wah. selama ke papua blm pernah motret sarang semut sebesar itu mas

    Reply
  19. Wawa Yasaruna says

    16 Jul ’16 at 15:02

    Sedih banget bacanya :(((

    Reply
  20. BaRT says

    21 Jul ’16 at 16:10

    Gak kebayang, buat beli mie dan bahan-bahan pokok yang lebih murah aja mereka sampai belanjanya berhari-hari ,,, kalah deh ibu-ibu di sini yang pindah ke warung lain karena harga beda 500 rupiah :-D

    Btw itu bukan sarang semut yang ramai dijadikan obat itu khan Wir?

    Reply
    • wira says

      22 Jul ’16 at 09:21

      Wah, kurang tahu kalo sarang semut yang jadi obat itu deh..

      Reply
  21. agus listiyaningsih says

    30 Jul ’16 at 05:45

    Ah saya telat mengikuti anda mas wira. Dari sampean saya bisa melihat keindahan Indonesia yang belum saya lihat sebelumnya, ternyata Indonesia jauhhh lebih bagus yaa mas, hem salam kenal

    Reply
  22. ABDUL AZIS AMRULLAH says

    5 Sep ’16 at 10:11

    dari cerita tersebut dapat menginspirasi para anak-anak muda, dari sekian banyak kata yang dituliskannya, dan semoga ku bisa mengelilingi indonesia mulai dari yg plosok sampai ke kota-kota.

    Reply
  23. ABDUL AZIS AMRULLAH says

    5 Sep ’16 at 10:19

    dari sekian cerita yang saya baca di atas tadi sangat menginspirasi bagi kaum muda,tidaK seperti ku bayangkan, perjalanan yg begitu jauhnya dia memakai sepeda dan banyak hal-hal ia lakukan. dengan begitu sabar keteguhan hatinya. itu semua untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

    Reply
  24. Indonesia Timur says

    17 Sep ’16 at 05:13

    Pembangunan di perbatasan tidak dilakukan oleh seorang saja tapi semua components yg bertugas si perbatasan. Bedanya components yg lain tulus Tanpa pamrih popularitas. Dlm sisi lain ada orang yg memanfaatkan utk nama besar pribadi nya seolah2 dia sendiri yg berjuang. Masyarakat Sota lebih tahu itu…..Salam ikhlas.
    Thanks

    Reply

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')Cancel reply

Primary Sidebar

Follow Us

  • YouTube
  • Instagram
  • TikTok

Popular Post

  • 5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm
  • 5 Tips (lagi) untuk Fotografi Landscape!
  • Review Backpack : Deuter ACT Lite 40
  • Tips Berpakaian di Gunung : Layering System!
  • Fujifilm X-T100 Review : Mirrorless Seri X-T Termurah!

Categories

  • Bali & Nusa Tenggara
  • Beyond Indonesia
  • Camera Review
  • Culinary
  • Europe
  • Flight report
  • Foto Favorit
  • Giveaway
  • Guest Post
  • Hiking & Trekking
  • Hong Kong
  • Hotel & Resort
  • Indonesia
  • Japan
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Malaysia
  • Maluku & Papua
  • Media Trip
  • Photo Tips
  • Photoessay
  • Review
  • Saudi Arabia
  • Singapore
  • South East Asia
  • South Korea
  • Sponsored (adv)
  • Sulawesi
  • Sumatera
  • Taiwan
  • Tearsheet
  • Thailand
  • Thought
  • Tips
  • Travel Story
  • Travel Tips
  • Travel Video
  • Workshop

Copyright © 2026 · Altitude Pro on Genesis Framework · WordPress · Log in

 

Loading Comments...