“Saya nggak punya lisensi menyelam kak, ngapain ke Wakatobi?”
“Yaudah, menyelami hati aku aja gimana?” *tsaaah*
Ehm. Mendengar kata Wakatobi, yang terlintas di benak kita mungkin hanya menyelam, menyelam, dan menyelam.
Saya juga akui atraksi utama di Wakatobi memang menyelam. Selain bawah laut disana memang sangat bervariasi, arusnya yang tak terlalu kencang dan visibility yang luar biasa memang menjadi incaran para divers dari seluruh dunia. Buat yang suka angka, Wakatobi punya 3.000 spesies ikan dan 600 jenis koral dunia. Itu setara dengan 75 persen terumbu karang di dunia. Kalau kamu ingin tau tentang hal yang bisa kamu lakukan di Wakatobi bisa liat refrensi lainnya klik disini.
Jadi, apa saja yang bisa kita lakukan disana selain menikmati penyu dan sotong berenang di terumbu karang yang berwarna seperti permen candy crush?
1. Snorkeling

Waktu saya snorkeling tak jauh dari dermaga pulau Tomia (Wakatobi adalah singkatan dari Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko), saya sangat terkejut melihat coral yang sangat sehat disini. Well, seharusnya sih saya biasa saja. Namanya juga Wakatobi, hehe.
Tempat snorkeling juga banyak tersebar dimana-dimana. Tanya saja abang-abang kapal yang mengantarkan kita. Sejauh ini yang saya rekomendasikan adalah di sekitar Pulau Tomia dan Pulau Hoga, pulau kecil di dekat kaledupa.
Jangan lupa bawa kamera underwater-mu. Kalau nggak punya pinjem. Jangan seperti si saya yang cuma bengong menikmati taman laut wakatobi. *nangis di pojokan*


2. Santai di Pantai
Buat sebagian besar orang, Indonesia adalah pantai-pantai cantik. Tak terkecuali pula Wakatobi.


3. Menelusuri Sejarah

Wakatobi Pulau Tomia ada situs Benteng Patua, benteng pertahanan terluar Kerajaan Buton. Di pulau Binongko pun dikatakan banyak sekali peninggalan Kapiten Pattimura saat zaman Belanda. Saya tak terlalu tertarik dengan sejarah, tapi saya yakin penyuka sejarah — apalagi tentang kerajaan Buton — pasti senang sekali kemari.
4. Berkunjung ke Desa suku Bajo

Mereka mendirikan rumah di di atas laut. Tengah laut. Bukan di atas pulau. Mereka yang biasa hidup nomaden dengan perahu sekarang sudah menetap.
Berkunjung ke desa Bajo sampela di Kaledupa ataupun di Pulau Tomia mungkin adalah salah satu agenda yang bisa kita coba jika berkunjung ke Wakatobi. Karena Sulawesi merupakan pulau dengan jumlah suku bajo terbanyak, tak heran Kepulauan Wakatobi adalah rumah mereka.
Jangan kaget melihat anak-anak bermain ‘futsal’ di atas air hehe.




5. Mencicipi Kuliner Wakatobi

Masyarakat wakatobi biasa memakan Kasuami sebagai makanan pokok. Kasuami dibuat dari ubi kayu atau singkong yang diparut dan dimasak menggunakan cetakan kerucut. Adonan kasuami harus benar-benar kering sehingga kasuami bisa awet hingga 14 hari. Biasanya ini untuk bekal melaut para nelayan.
Kasuami biasa disajikan dengan ikan parende, ikan bakar yang dibumbui dengan saus belimbing. Ikan parende juga ada versi sup nya loh, sangat menyegarkan!
Ada juga Luluta nasi bambu yang dibakar bersama santan dan berbagai macam kerang-kerangan.
6. Melihat kesenian tari suku Buton

Ada tari eja-eja, tarian perang suku buton yang biasa diperagakan oleh anak-anak sekolah dasar. Ada juga tarian Mborira, tarian yang menceritakan seorang pria yang pulang dari perantauan dan memilih seorang istri. (enak bener)



7. Menikmati Wakatobi dari Bukit Tomia
Puncak bukit tomia ini mungkin dulunya adalah dasar laut. Karena banyak ditemukan karang-karang besar di bagian tanahnya.
Tapi yang perlu saya beritahu disini adalah : You got one of breathtaking landscape view of Tomia.
Jadi, kapan kamu ke Wakatobi?




—
Tips bepergian ke Wakatobi
- Pastikan punya dive license. Nanti menyesal dan akhirnya bikin artikel kayak diatas.
- Pesawat yang kesini sementara hanya wings air (lion air versi pesawat kecil ATR), selain itu bisa jalur laut dari Kendari — Bau-bau — Wakatobi. Tapi siap-siap aja sehari semalam di kapal.
- Di pulau selain Wangi-wangi listrik hanya mulai dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi.
- Masyarakat buton dan bajo rata-rata muslim, jadi jangan telanjang di pantai ya.
Leave a Reply to Kursus Di SamarindaCancel reply