
TIGA lapis jaket saya kenakan. Sweater, ditambah lapisan jaket fleece, dengan sebuah jaket windbreaker di luar ; mereka semua tak mampu menahan tusukan kabut pagi Pangalengan.
Bandung saat ini memang sedang dingin-dinginnya, apalagi di daerah tinggi seperti pangelengan ini. Perjalanan sekitar dua jam dari kota Bandung membuat saya ekstra hati-hati. Turunan dan belokan terjal ditemani kabut membuat saya banyak bermanuver macam game rapid roll di hape nokia jadul!
Memasuki pangalengan, motor saya arahkan ke arah kiri terminal bus dan langsung menuju perkebunan teh Malabar. Saya langsung terhipnotis dengan pemandangan pagi hari disini.
Hamparan daun yang luasnya tak terkira seperti permadani hijau diselingi kabut-kabut tipis seakan mengucap selamat pagi. Benar-benar luas, hingga sampai ke atas lereng bukit di kejauhan sana masih saja kebun teh. Pantas saja stok teh botol sos*ro tidak pernah habis. Kebun mereka saja seluas ini.
Cultuurstelsel. Malabar adalah saksi bisu kolonialisme belanda dalam sistemnya yang memaksa dan menyengsarakan rakyat Indonesia waktu itu untuk menanam teh. (edit : menurut sumber ini, di malabar tidak ada tanam paksa, malah petaninya lebih sejahtera daripada daerah lain. Karena hasil tanam mereka jadi primadona dunia saat itu). Beruntung, salah satu belanda yang baik hati mewariskan sumbangsih pengetahuan bagi kota Bandung. Perkebunan teh malabar dan observatorium bintang Boschha adalah salah satu peninggalannya. Graaf Johannes van den Bosch juga mengistirahatkan dirinya untuk yang terakhir kali disini. Namun, saya tidak begitu tertarik untuk berziarah. Boscha, ah, sherina apa kabar ya? #eh

Setelah puas berfoto, saya memutar arah untuk menuju perkebuanan lainnya. Sebetulnya, saya ingin bersantai sedikit menikmati teh segar malabar di salah satu tea corner disana. Untung saya masih ingat hari ini saya berpuasa. Teh hangat segar asli Malabar disimpan dulu untuk lain kesempatan.
Saya berbalik arah, melewati situ cileunca. Jalannya sangat bagus, berbeda dengan jalan yang ada di perkebunan teh malabar. Akhirnya, saya pun bertemu dengan perkebunan teh Cukul. Cukul mempunyai kontur tanah yang curam. Banyak jurang disini. Tetapi itulah yang membuat pemandangan disini lebih kece daripada di malabar.


Ketika mengobrol dengan salah satu pemetik teh, saya tahu bahwa jalur dari cukul ini adalah menuju pantai Rancabuaya! Pantai yang saya sudah cukup sering kunjungi ini ternyata bisa lewat pangalengan. Saya memang sudah mendengar jalur ini dari dulu, tapi katanya jalurnya sangat jelek. Kabar baiknya, kata orang-orang disana jalannya sudah diperbaiki, sudah alus. Wajib dicoba untuk jejalan berikutnya.

Di cukul juga terdapat satu rumah unik dengan arsitektur Eropa jadul. Katanya sih punya orang jerman. Rumahnya kosong dan terkunci saat saya dekati. Tapi, rumah ini cukup untuk membuat saya berfantasi terbang ke eropa sana. Ada yang mau menemani?

Sebetulnya, ada satu lagi kebun yang saya ingin kunjungi, yaitu kebun Kertamanah. Namun saya sudah cukup kelelahan dan agak takut kalau puasanya hanya sampai bedug dzuhur. Ditambah lagi sapi-sapi cantik KPBS pangalengan sudah mengeluarkan susu segarnya yang menggiurkan itu. Lain kali saya akan datang lagi.





~Lagi kangen yang ijo-ijo makanya kesini.
Tabik!
**photo taken by BenQ GH800 kecuali foto terakhir :3




Leave a Reply to Ayu WelirangCancel reply