PENERBANGAN empat jam dari Kupang cukup melelahkan. Setelah berkejaran dengan pesawat yang hampir lepas landas dengan kondisi sedang puasa, saya sangat bersyukur masih bisa ikut terbang. Mungkin telat lima menit saja saya tidak bisa kembali ke Jakarta. Semua gara-gara pesawat saya dari Ende, Flores, yang delay tiga jam. Tak apalah, mungkin sedikit cobaan di awal puasa ini.
Sesampainya di Soekarno-Hatta, saya langsung mencari Taksi agar langsung menuju rumah. Saya mendapatkan sebuah taksi biru dengan cepat. Seperti biasa, saya senang sekali mengobrol dengan rekan perjalanan saya. Basi-basi dibuka dengan menanyakan asal, tempat tinggal, dan sejenisnya.
“Wah baru buka mas jam segini?” tanya pak supir.
“Iya, pak. Tadi terbang pakai lion air gak dikasih makanan sama sekali. Padahal penerbangan empat jam,” ujar saya.
“Wah memang gitu pak kalo lion, pelit, udah gitu delay terus katanya ya?” tanya pak supir.
Memang, entah mengapa setiap saya naik lion untuk selalu delay. Mungkin memang saya yang selalu tidak beruntung kalo terbang dengan mereka. Tapi, ini kan bulan puasa, masa air segelas aja tidak dikasih? Sebaiknya maskapai ini banyak berbenah, karena mereka sudah terkenal sekali dengan plesetan LION (Late is our name).
“Saya agak males kalo penumpang di Bandara, mas,” pak supir tiba-tiba berkata. “Loh, kenapa pak?” tanya saya.
“Iya, tadi itu banyak sekali yang pakaiannya, aduh, gimana ya kayak kurang bahan gitu. Bapak jadi cenat-cenut, padahal kan lagi puasa,” keluh pak supir.
Saya tergelak mendengar cerita pak supir. Dengan logat Jawa-nya cerita tersebut terdengar sangat lucu. Mobil terus memacu di kecepatan 120 km/jam di minggu malam. Tol Bandara menuju tangerang sangat lengang. Perbincangan kami terus berlanjut hingga dari topik puasa hingga keluarga.
“Tadi dari kupang, mas? Abis jalan-jalan atau apa?” tanya pak supir.
“iya pak, mumpung libur kuliah. Abis jalan-jalan ke Flores,” jawab saya.
“Ohhh masih kuliah toh si mas-nya ya. Masih muda, masih bisa bebas. Gak kayak Bapak sekarang, yang penting keluarga bisa kenyang aja bapak sudah senang,” ujar si pak supir.
“Begitu ya pak? hehe memang harusnya begitu pak. Bapak punya anak berapa?” tanya saya penasaran.
“Bapak sudah punya empat mas, yang kecil baru masuk SD, yang paling besar sudah SMA kelas 3. Tadi yang kecil juga udah puasa. Kalo puasanya pull sehari bapak kasih sepuluh ribu,” ujarnya sambil tertawa.
“Wah banyak sekali anaknya pak? memangnya bapak nikah umur berapa dulu?” saya lanjut bertanya.
“Dulu bapak nikah umur 25 mas. Nikah muda supaya lancar rezekinya. Alhamdullilah, sebelum umur 30 bapak sudah punya rumah sendiri. Ini memang tujuan bapak, pokoknya harus punya rumah dulu. Moso punya istri gak punya rumah, mau taro dimana nanti? hahaha, ” kata pak supir masih sambil terkekeh.
“Tapi yo mas. Abis nikah jangan lupa berbakti pada orang tua. Banyak orang yang abis menikah mereka seakan lupa pada orang tuanya. Bisa ngasih makan anak orang, tapi orang tua sendiri tidak diurus. Lupa siapa yang ngasih makan mereka dulu,” pak supir melanjutkan.
Deg. Walapun saya belum menikah, rasa-rasanya saya masih sangat kurang berbakti kepada orang tua hingga saat ini.
“Yang pentin orang tua dulu mas. Dahulukan mereka. Walaupun kalau kita mau balas jasa tentu tidak akan pernah terbalas. Kemudian mengurus istri dengan baik. Insya Allah rezeki gak kemana mas. Saya saja cuma supir taksi begini tapi masi dicukupkan buat istri dan empat anak saya,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak terasa taksi sudah berhenti di depan rumah saya. Ibu sudah menunggu tepat di depan rumah. Saya merasa bahagia sekali melihat wajah Ibu.
Terima kasih bapak supir taksi atas perbincangan hangatnya. You really made my day.
Manusia Paling baik adalah orang yang dermawan dan bersyukur dalam kelapangan, yang mendahulukan orang lain, bersabar dalam kesulitan. – pepatah
Leave a Reply to indobradCancel reply