• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar

Wira Nurmansyah

Inspiring Indonesia to Travel the World

  • Home
  • About
  • Indonesia
  • World
  • Tips
  • Review
You are here: Home / Travel Story / Beyond Indonesia / Jelajah Kota Tua Chantaboon di Timur Thailand

Nov 13 2015

Jelajah Kota Tua Chantaboon di Timur Thailand

Chantaboon Market
Chantaboon Market

“Kamu beneran orang Thailand? Masa makan cabe kecil gini aja nggak sanggup?” tantang saya ke Tey, seorang gadis Thailand yang menemani saya berjalan mengeliligi Chantaboon pagi itu.

“Aku bisa tahan kalau asam, tapi kalo pedas, nggak deh,” jawabnya.

“C’monnn. Satu aja kok. Nih dimasukin ke dalam lumpia-nya nih,” saya memasukan cabe rawit itu ke dalam semacam spring roll basah. Dia pasrah. Setelah itu mukanya memerah dan mulai mengumpat saya.

Dan pagi saya pun dimulai dengan tawa sehabis mengerjai warga lokal di pasar Chantaboon yang katanya sudah berumur seratus tahun lebih ini.

**

Chantaburi, adalah provinsi di timur thailand yang saya kunjungi setelah Rayong. Hanya sekitar dua jam perjalanan menggunakan mobil dari Rayong. Saya menginap di daerah kota tua Chantaboon. Kota kecil yang cukup jarang dikunjungi oleh turis, nyaris sama seperti Rayong yang rasanya hanya kami saja turis mancanegara disana.

Kota ini punya pengaruh kebudayaan Cina, Vietnam dan Prancis, terlihat di arsitektur dan makanannya. Chantaboon punya nuansa kota pinggir sungai yang romantis, kuil-kuil kubah emas yang terhimpit diantara bangunan-bangunan tua Prancis, atau kedai Pho — mie berkuah khas Vietnam — yang berada di samping gereja katolit terbesar di Thailand.

Saya mau cerita dulu tentang penginapan saya. Namanya BAAN LUANG RAJAMAITRI HISTORY INN. Penginapan berumur 150 tahun ini serasa membawa saya ke masa lampau, terasa seperti menginap di museum. Hanya ada 12 ruangan di penginapan ini. Masing-masing ruangan punya nama yang unik dan punya sejarahnya masing-masing.

BAAN LUANG RAJAMAITRI HISTORY INN
Penginapan Baan Luang Rajamaitiri di gang kecil ini.

Lucunya, penginapan ini terletak di gang kecil yang mungkin jika dua mobil lewat bersamaan harus menyembunyikan spionnya saat berpapasan agar tak tabrakan. Di depan penginapan ini ada sebuah hawkers yang menjual makanan semacam pad thai (btw, tunggu postingan berikutnya, saya ikut kelas masak di bangkok hehe) dengan seorang nenek yang sibuk dengan penggorengannya.

“Serius nginep disini nih?” gumam saya.

BBAAN LUANG RAJAMAITRI HISTORY INN
Di depan penginapan
BAAN LUANG RAJAMAITRI HISTORY INN
Kamar saya yang bernama “East Asiatique”
BAAN LUANG RAJAMAITRI HISTORY INN
Kamar rekan saya yang bertingkat
BAAN LUANG RAJAMAITRI HISTORY INN
Baan luang pada malam hari

Kembali ke pasar. Setelah jajan-jajan asik mencoba segala macem street food, tentunya ditutup dengan thai Tea, sayapun melanjutkan keliling Chantoboon.

Tak jauh dari pasar terlihat sebuah Gereja yang cukup besar. Gereja Katolik ini bernama ‘Cathedral of Immaculate conception’. Dibangun pada tahun 1906 oleh para imigran Vietnam yang hijrah ke thailand karena masalah agama di negara mereka.

Katedral terbesar di Thailand ini punya gaya Neo Gothic dan punya tinggi sekitar 20 meter. Dahulu kedua towernya pernah ‘dipotong’ saat perang antara Prancis dan Thailand di tahun 1940-an karena terlalu mencolok.

Selain megahnya gereja ini, yang paling menarik perhatian adalah patung bunda maria yang terletak di kanan altar. Patung ini dibuat dari berkilo-kilo emas dan berbagai macam batu permata berkarat tinggi — sekaligus melambangakan Chantaburi yang terkenal sebagai pusat perdagangan batu mulia.

Cathedral of Immaculate conception chantaburi
Cathedral of Immaculate conception Chantaburi
Cathedral of Immaculate conception chantaburi
Langit-langit katedral berbentuk perahu sebagai pengingat para imigran yang hijrah kemari dengan perahu.

Matahari makin meninggi. Kami masih berjalan di dekat gereja. Arsitektur rumah disini bergaya gingerbread yang biasa ditemukan di thailand tahun 1800-an. Saat kami sibuk memotret sana-sini, tiba-tiba ada seorang kakek, dari dalam pagar rumah berkayu, yang melambai-lambaikan sambil berbicara dengan bahasa thailand kepada kami. Berutung saya sedang bersama penduduk lokal. Ia mengundang kami untuk masuk ke rumahnya.

chantaburi architecture old town
Si kakek dengan rumah berumur 150 tahun

Rumah ini berstruktur kayu besi. Mulai dari lantai, dinding, hingga langit-langit. Terasa sangat kokoh dan rasanya tak akan pernah retak walau gempa sekalipun. Si kakek bercerita dengan bangganya bagaimana rumah ini sudah berdiri sejak 150 tahun yang lalu.

chantaburi architecture old town
Struktur rumahnya kayu besi
chantaburi architecture old town
Tampak depan rumah

Puas melihat rumah kayu si Kakek, kami bergegas kembali ke hotel untuk sarapan. Namun di tengah perjalanan, Tey betemu dengan seorang wanita paruh baya tiba-tiba mengajaknya berbicara. Setelah berbincang, saya tahu bahwa wanita ini adalah pengelola Chantaboon Learning Centre, semacam museum yang menyimpan sejarah masa lalu Chantaboon dari zaman dahulu.

“Hari ini tutup, tapi dia akan membuka museum khusus untuk kita hari ini,” kata Tey. Di museum ini banyak foto-foto yang menceritakan perubahan Chantaboon dari masa ke masa, ada juga beberapa benda dari masa lalu seperti telepon dan mesin tik peninggalan Prancis.

chantaboon community learning centre
Chantaboon community learning centre
chantaboon community learning centre
Banyak foto-foto bersejarah

Malam harinya, secara tak sengaja melihat upacara loi krathong yang dilaksanakan oleh penduduk tiongkok lokal saat berjalan sambil foto-foto. Di kuil dekat pasar juga saya melihat ada festival vegetarian, dimana saya juga melihatnya di Chinatown Bangkok dua hari sebelumnya.

Ratusan orang berbaju putih berdiri di pinggir sungai. Tepat di pinggir kuil bernama Wat Chan Thanaram. Masing-masing dari mereka melepaskan Loi Krathong dengan sebatang lilin di atasnya sambil memejamkan mata dan meminta sesuatu kepada yang diatas. Terlihat sangat magis.

Wat Chan Thanaram loi krathong
Di pinggir sungai dekat Wat Chan Thanaram
Melepas Loi Krathong di pinggir sungai
Melepas Loi Krathong di pinggir sungai
Praying
Praying
Wat Chan Thanaram
Mereka berjalan menuju kuil di dekat pasar, melewati depan penginapan kami
Chantaboon old town chantaburi bangkok alternative
Cantik rumah kayunya ya.
Chantaboon old town chantaburi bangkok alternative
Sungai yang membelah Chantaboon
Chantaboon old town chantaburi bangkok alternative
Wah hati-hati bu!
chantaburi old town
With my beautiful local guide.
Chantaboon old town chantaburi bangkok alternative
Hati-hati jangan sampai ketemu makhluk ini

 

chantaburi chantaboon old town
Lagi vegetarian festival
chantaburi chantaboon old town
Suasana penginapan malam hari
chantaburi chantaboon old town
Suasana jalan chantaboon yang tak riuh
chantaburi chantaboon old town
Beberapa tempok dihiasi lukisan seperti ini
Baan historical inn
Thanks to Tourism Authoritiy thailand yang udah undang saya kemari!

Chantaboon adalah salah satu tempat yang bisa dibilang off beaten path-nya thailand. Memang agak jauh dari Bangkok sekitar 3-4 jam perjalanan dengan bis. Namun atmosfer kota tua-nya, perpaduan budaya Vietnam-Prancis-Thailand, makanannya, dan tentu saja senyum Tey membuat saya ingin kembali kesini suatu saat.

Written by wira · Categorized: Beyond Indonesia, South East Asia, Thailand · Tagged: bangkok alternative, Chantaboon old town, tbex asia 2015

Reader Interactions

Comments

  1. Akarui Cha says

    13 Nov ’15 at 15:45

    Asik banget perjalanannya. Seruuuuu. Bisa ga ya kapan kapan aku ikutan?

    Reply
    • wira says

      13 Nov ’15 at 16:50

      Bisa aja kalau ada kesempatan kok hehehe

      Reply
  2. rasainbandung says

    13 Nov ’15 at 16:38

    local guide-nya leh uga mas :P

    Reply
    • wira says

      13 Nov ’15 at 16:46

      leh nget nget nget dong :p

      Reply
  3. Evi says

    13 Nov ’15 at 18:24

    Ini fotografernya yg keren atau tempatnya yg mempesona. Kayaknya keduanya ya.Posnya jadi sedap dipandang :)

    Reply
    • wira says

      13 Nov ’15 at 19:36

      Kayaknya fotografernya yang ganteng kakkk :))

      Reply
  4. fanny fristhika nila says

    13 Nov ’15 at 20:11

    thailand juga tempat fav ku kalo lg pgn liburan murah meriah ;) Itu rumah kayu besinya gilaakk keren bgttt.. kalo aku punya rumah bgitu mah, ga bakal aku jual brppun harganya… berharga bgt :D jauh lbh bgs drpd rumah modern jaman skr…

    Reply
    • wira says

      14 Nov ’15 at 05:40

      Iya si kakek ini bangga banget punya ini rumah, sampe kita diajak tour gratis haha

      Reply
  5. rauhanda says

    13 Nov ’15 at 21:39

    Gang gang di thailand bisa bersih bnget yah.. coba kalo di jakarta bgitu juga hehehe

    Reply
  6. Parahita Satiti says

    14 Nov ’15 at 00:19

    Katedral-nya cantik banget! Masukin wish-list, ah!

    Reply
    • wira says

      14 Nov ’15 at 05:41

      Cantik kakak kayak kamu yaaa :D

      Reply
  7. iyoskusuma says

    14 Nov ’15 at 14:18

    Seru juga ya kalo jalan di tempat yang sangat asing ditemenin warga lokal… ?

    Reply
  8. mysukmana says

    15 Nov ’15 at 06:27

    guidenya yang pake baju merah cantik :D, mirip banget sama di Indonesia ya..ada suzuki soghun modifan itu ya kak wira

    Reply
  9. Anita Dwi Mulyati says

    16 Nov ’15 at 07:55

    Keren tempatnya kota kecil yang banyak peninggalan berusia ratusan tahun dan bisa membaur sama masyarakat lokal. Klo ke Chantaburi naik bis umum bisa? Di Bangkok pernah jug sih sewa taxi sampai Damnoen Saduak si pasar apung.

    Reply
    • wira says

      16 Nov ’15 at 11:35

      Iyes kak, ada kok bis langsung dari Bangkok ke Chantaburi.

      Reply
  10. SiGanteng says

    16 Nov ’15 at 10:50

    Cara dapetin guide kaya gitu gimana mas? Ehehe

    Reply
    • wira says

      16 Nov ’15 at 11:29

      Tergantung amal dan perbuatan kak :))

      Reply
  11. Heri Shu @travelographers says

    16 Dec ’15 at 09:18

    suasana kota tuanya terasa tenteram. mantab dapat referensi kota tua baru untuk dikunjungi kalo balik lagi ke thailand :D

    Reply
  12. lienda says

    6 Sep ’16 at 15:40

    seru juga baca pengalamannya disana. Bnyk spot buat jepret jepret ya, jadi pengen visit euuuy

    Reply

Bagaimana menurutmu? Silakan tinggalkan komentar dibawah ini ya! :')Cancel reply

Primary Sidebar

Follow Us

  • YouTube
  • Instagram
  • TikTok

Popular Post

  • 5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm
  • 5 Tips (lagi) untuk Fotografi Landscape!
  • Review Backpack : Deuter ACT Lite 40
  • Tips Berpakaian di Gunung : Layering System!
  • Fujifilm X-T100 Review : Mirrorless Seri X-T Termurah!

Categories

  • Bali & Nusa Tenggara
  • Beyond Indonesia
  • Camera Review
  • Culinary
  • Europe
  • Flight report
  • Foto Favorit
  • Giveaway
  • Guest Post
  • Hiking & Trekking
  • Hong Kong
  • Hotel & Resort
  • Indonesia
  • Japan
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Malaysia
  • Maluku & Papua
  • Media Trip
  • Photo Tips
  • Photoessay
  • Review
  • Saudi Arabia
  • Singapore
  • South East Asia
  • South Korea
  • Sponsored (adv)
  • Sulawesi
  • Sumatera
  • Taiwan
  • Tearsheet
  • Thailand
  • Thought
  • Tips
  • Travel Story
  • Travel Tips
  • Travel Video
  • Workshop

Copyright © 2026 · Altitude Pro on Genesis Framework · WordPress · Log in

 

Loading Comments...