Ketika Hiu Tak Lagi Menakutkan

hiu_wayag
Apakah kau sedang menunggu untuk menyantapku? Atau sebaliknya?

Ternyata hiu tidak perlu kita takutkan. Justru hiu yang harusnya takut dengan kita – manusia yang selalu memburunya. Padahal, hiu selalu membantu manusia agar panen ikan di laut menjadi optimal. Masih ingin makan sup sirip hiu ?

SAYA akan selalu ingat dengan sebuah adegan dalam film Jaws yang saya tonton waktu kecil.

Seekor hiu purba megalodon menyerang pantai yang berisi banyak sekali orang. Dan, tanpa berdosa si hiu berukuran 20 meter lebih itu menyantap manusia dengan lahapnya.

Semenjak saat itu saya menjadi agak was-was jika berada di laut.

Saya juga pernah berkunjung ke sebuah akuarium raksasa di Jakarta, Seaworld. Melihat hiu dari balik kaca, saya bergidik. Dalam hati saya berkata, mereka ini sangat gagah bak penguasa dalam air. Tapi entah mengapa, tatap mata mereka mengingatkan saya peran antagonis dalam film yang dibuat Steven Spielberg tersebut.

Bertahun-tahun berlalu sejak saat itu, saya berjumpa kembali dengan sang penguasa laut, di tempat mereka yang sebenarnya – Lautan.

***

Pagi itu, kapal yang saya tumpangi merapat di dermaga Wayag, Raja ampat. Saya terdiam di atas dermaga. Belum selesai terbius oleh air yang bening layaknya kaca hingga pasir putihnya nampak jelas, seekor hiu lewat begitu saja tanpa permisi!

Saya terperanjat. Sungguh, ini kali pertama saya menyaksikan makhluk tersebut begitu dekat dengan saya. Saya bertanya dalam hati, “Apakah ia sedang menunggu untuk memakan saya?”

“Mereka itu jinak kok, mas,” kata seseorang yang membuyarkan lamunan saya.

“Yang benar mas?” ujar saya.

“Ya, mau snorkling juga boleh, asal jangan diganggu saja. Di Wayag sini memang rumahnya mereka,” kata orang tersebut sambil tersenyum.

Sesaat kemudian saya sudah berenang di perairan dangkal tersebut. Mengayuhkan kaki katak saya pelan-pelan. Saya tidak ingin mengganggu ‘tuan rumah’ yang sepertinya sedang bersantai di hari yang cerah itu.

Biru laut yang hening membuat saya terdiam menikmatinya. Para makhluk kecil berinsang hilar mudik di dekat saya. Begitu indah, begitu dekat, dan begitu acuh tak acuh. Seakan kami adalah satu dari mereka.

Begitu juga si hiu sang penguasa lautan. Ia nampak tak peduli dengan kehadiran saya. Ia hanya berlenggok kesana kemari dengan siripnya yang menjulang. Mulai saat itu persepsi saya tentang hiu berubah. Ia adalah sahabat saya.

Tahukah bahwa jumlah manusia yang diserang hiu pertahun di seluruh dunia pertahun masih bisa dihitung dengan jari? Namun, hiu yang dibantai oleh manusia-manusia rakus mencapai ribuan per tahun

Sekarang, saya harus mengutuk orang yang membuat film Jaws dan ‘merusak’ masa kecil saya.

Good guy sharks.
Good guy sharks.

***

“Kami disini selalu memantau hiu, mas” kata orang yang tadi menegur saya di dermaga. Tak lama kemudian, saya tahu bahwa ia adalah petugas lembaga Conservation International (CI). CI adalah sebuah lembaga konservasi internasional yang selalu ingin menjaga kelestarian alam dan ekosistem di seluruh dunia. Raja ampat adalah salah satunya.

Selain menjaga kelestarian terumbu karang, CI dan masyarakat lokal Raja Ampat juga selalu peduli dengan kelestarian hiu. Bahkan, pemerintah daerah di Raja Ampat telah meresmikan peraturan daerah yang memberikan sanksi pidana bagi siapapun yang melakukan penangkapan hiu. Salut!

Mengapa kita harus menjaga kelestarian hiu?

Mudahnya seperti ini. Jika jumlah hiu berkurang, maka makhluk laut kecil yang biasa kita sebut sebagai seafood juga akan berkurang.

Lho? Kenapa bisa?

Begini, di lautan sana juga ada sistem predasi dimana ikan ‘kecil’ memakan plankton. Ikan ‘sedang’ memakan ikan kecil, dan ikan ‘besar’ seperti hiu memakan ikan ‘sedang’. Jika hiu terus berkurang, maka posisinya sebagai predator atas akan bergeser. Jumlah ikan ‘sedang’ akan terlalu banyak dan keseimbangan rantai makanan akan terancam.

Ikan ‘kecil’ yang biasa menjadi santapan kita tentu akan berkurang karena dimakan ikan ‘sedang’ yang terlalu banyak. Kalau sudah begini, siapa yang dirugikan?

Jangan sampai keuntungan untuk segelintir orang menyebabkan kerugian bagi generasi berikutnya.

Hiu juga menjadi salah satu atraksi diving yang menarik di Raja Ampat. Membunuh hiu, otomatis membunuh pariwisata Raja Ampat, juga Indonesia.

Hiu ditangkap karena ada demand. Santapan seperti sup sirip hiu ditemukan di kota besar seperti Jakarta . Jadi, lebih baik mulai saat ini, jangan sekali-kali mencoba kuliner yang dibuat dari hiu. Dan cobalah saling mengingatkan rekan kita jika ada yang menggemarinya.

Sirip hiu, yang kandungan merkurinya puluhan kali lipat dari ambang batas normal konsumsi, akan menyebabkan kanker dan rusaknya syaraf. Mari menjadi konsumen yang sedikit pintar. Beri tahu mereka!

***

Negeri gugusan atol. Surga di atas, maupun bawah laut. Akankah terus menjadi 'surga' ?
Negeri gugusan atol. Surga di atas, maupun bawah laut. Akankah terus menjadi ‘surga’ ?

Ada aura kedamaian yang dipancarkan oleh kepulauan Wayag. Gugusan atol pahatan yang maha kuasa ini adalah salah satu hadiah Tuhan untuk negeri kita tercinta, juga amanah besar yang harus dijaga.

Di puncak Wayag, saya menghela nafas dalam-dalam. Sembari berharap anak cucu kita nanti masih bisa berenang bersama si penguasa laut dan menyantap hidangan seafood yang lezat.

Mungkin saya hanya seorang turis yang sedikit (sok) peduli dengan kampanye #savesharks ini. Tapi saya percaya, perbuatan yang kecil seperti membuat tulisan ini, jika dilakukan banyak orang, sedikit banyak akan membantu kelestarian alam.

Kita masih belum terlambat.

Papan ini saya temukan di pulau Gam Raja Ampat. Ingatlah masih ada anak cucu kita!
Papan ini saya temukan di pulau Gam Raja Ampat. Ingatlah masih ada anak cucu kita!

**Hiu memang tidak berbahaya. Selama kita tidak memancingnya dengan sesuatu yang disukainya seperti darah & bau amis. Safety first! :D


Posted

in

, ,

by

Comments

18 responses to “Ketika Hiu Tak Lagi Menakutkan”

  1. Nugrahanto Margo Raharjo Avatar

    jinak sih jinak gan, tapi hati2 kalo lagi ada luka di kaki, bisa2 mereka bisa ganas tiba2, apalagi kalo lagi lapar,,,,,,,

    1. wira Avatar

      haha iya emang gan. Semua hewan emang kayak gitu hihi :D

  2. backpacker alone Avatar

    Bener,.. hiu ga akan ganas tanpa ada pemicunya (bau darah).
    Dan susunan atol di kepulauan wayag ngebuat aku semakin bersyukur akan keindahan ciptaan tuhan dan telah dilahirkan di negeri yang indah ini.

    1. wira Avatar

      Betul mas. Leave it alone and it will leave us alone :)

  3. armanmulyadin Avatar

    Serem Bang, kalo tiba-tiba menyerang.

  4. Rio praditia Avatar

    Yaaa… Memang dilm JAW itu membuat banyak orang phobia laut karena hiu.. Yang saya baca lebih banyak kasus orang terluka digigit barakuda daripada hiu hehhehhee

  5. Kuz9 Avatar

    mantap foto2ny bang.

    1. wira Avatar

      Thanks ya bro :)

  6. Fahmi Avatar

    Tapi kalau hiunya segede yang di film jaws, ya tetep serem mas :| pikir pikir nyemplun bareng hiu segede paus mah :P

    1. wira Avatar

      loh kan whale shark (hiu paus) adalah ikan terbesar di dunia dan species hiu paling jinak *loh* hehehe

  7. tomfreakz Avatar

    dan sialnya ada lagi film tentang hiu yang ditampilkan memburu manusia “BAIT”. :(

  8. roombucket Avatar

    Tetep saja sob, sy gak mau pelihara hiu dirumah…hehehe
    Nice info
    Happy Blogging.. salam kenal :)

  9. ankgie Avatar
    ankgie

    wow…. beautiful

  10. Cumi MzToro Avatar

    seru juga kalo bisa berenang bareng hiu, kayak di karimun jawa :)

    1. wiranurmansyah Avatar

      yup, lebih seru disini soalnya open water bukan di penangkaran :D

  11. Joogja Circles Avatar

    HIU – Hatiku Ini Untukmu…

  12. […] saya, sebuah tulisan tentang kampanye penyelamatan hiu untuk divemag Indonesia membawa saya kembali ke laut. Bukan […]

  13. […] tak berbahaya, dan juga hiu-hiu lainnya pun demikian. Asalkan kita tak mengganggu kenyamanan si raja laut. Setelah beberapa jepretan kami ambil, si […]

Leave a Reply to Kuz9Cancel reply