
Ketika menyaksikan puluhan kepiting berlarian tergesa-gesa menuju daratan layaknya tentara yang siap berperang, saya tahu saya sedang tidak berlibur di tempat yang salah.
Berdiri di celah-celah karang yang berair jernih sambil memandang biota-biota laut kecil yang sedang bersantai, saya merasa sedang snorkeling tanpa menceburkan diri ke laut.
Di sebelah kanan saya, sebuah batu karang berbentuk kerucut gemuk, dengan tinggi sekitar bangunan empat lantai berdiri dengan angkuhnya. Batu layar, landmark-nya desa Sawarna.
Batu pahatan alam yang dibentuk ombak ribuan tahun ini memang membuat takjub orang yang memandangnya. Tak heran banyak turis yang berfoto dengan latar batu ini.
“Kita dirikan tenda disini,” kata saya kepada seorang sahabat. Setelah tenda berdiri, saya yang juga sebagai turis pun tak mau kalah berfoto dengan batu raksasa tersebut.


Agak jauh di depan saya, terdengar suara gemuruh memecah keheningan. Tempat saya berpijak memang berair tenang. Namun, di seberang sana ganasnya ombak samudera Hindia memang terdengar mengerikan.
Beruntung, pantai-pantai disini mempunyai ‘benteng’ karang yang menahan ombak disana, sehingga terciptalah sebuah Laguna yang tenang di dibaliknya, Laguna Pari.
***
Dari pantai Ciantir, pantai yang pertama kali kita temui sesaat setelah masuk desa Sawarna, saya perlu menimurkan diri sekitar dua kilometer untuk mencapai pantai tanjung layar dan laguna pari.
Tak seperti tetangganya Tanjung Layar, Ciantir tidak berkarang, tapi berpasir putih. Daripada berjalan di hutan menuju tanjung layar, saya memilih melewati tepian Ciantir. Saya melepas alas kaki dan mulai berjalan. Sesekali mata kaki saya terbenam di pasirnya yang lembut.

Di Ciantir, saya melihat beberapa warga asing berkeliaran memegang papan surfing.
“Orang ostrali memang senang kesini mas, ombaknya bagus buat surfing,” kata seorang warga yang sedang memancing ketika saya bertanya.
Tak heran, selain pantainya yang sepi, ombaknya yang bergulung-gulung juga sangat cocok untuk surfing. Mungkin pantai ini serasa private island bagi para turis asing itu.
Tapi, untuk surfing, kita mesti berhati-hati. Karena dekat pantai ada banyak sekali karang. Saya melihat para peselancar asing memilih ombak yang agak jauh dari pantai. Dan ketika ombak sudah peceh mendekati pantai, mereka berenang memutar arah kembali ke tengah. Sangat beresiko jika salah perhitungan.
Kata orang disana, ada beberapa peselancar asing yang cidera disana, bahkan sampai patah tulang.
***

“Masih jauh, kang?” tanya saya.
“Sedikit lagi, tinggal melewati jembatan gantung itu kita sudah sampai,” kata kang Wawan, pemandu kami saat menuju sebuah goa.
Saya perhatikan sekeliling, sejak tadi berjalan melewati desa, sawah, hingga hutan, tak ada satupun tanda yang menunjukan jalan ke goa Lalay. Tanpa pemandu, rasanya, saya pasti tersesat.
Tak lama kami sampai di mulut gua. Beberapa anak kecil mencoba menawarkan sewa senter, karena di goa lalay tak ada matahari yang bisa masuk. Gua lalay berada di atas sungai yang airnya dibendung di depannya agar tidak membanjiri mulut gua.
Treq. Saya menyalakan senter dan mulai berjalan di atas sungai yang dalamnya sampai ke lutut. Tanpa pengaman sama sekali, saya sebetulnya agak was-was.
“Dasar sungainya berlumpur, sandalnya dilepas saja daripada hilang,” saran kang Wawan.
Stalagtit menghiasi atap gua yang relatif tinggi. Air sungai terkadang sampai ke paha orang dewasa. Permukaannya agak licin, hati-hati terperosok disini. Di atap juga banyak ditemukan sarang kelelawar. Makin jauh masuk ke gua makin menyempit juga rungan gua. Setelah masuk sekitar seratus meter lebih tiba-tiba kang Wawan berhenti.
“Kade aya ular di dieu,” kata kang Wawan berbisik.
“Apa?” kata saya tak paham bahasa sunda.
“Ada ular,” katanya sekali lagi.
“Kang, kita sampai disini saja. Ayo kembali,” ujar saya lemas.
Nampaknya saya tidak ingin kembali kesana walaupun goa lalay memang indah, ketika penduduk desa memberi tahu bahwa memang ada ular kobra yang cukup besar hidup disana.
***
Sebuah kelapa muda segar yang dibeli dari warga menemani saya berbaring di hammock yang berada tepat di depan batu layar. Matahari sudah condong ke barat, semburat kemerahan perlahan berganti menjadi jingga mengakhirkan hari. Ingin sekali rasanya waktu berhenti saat itu.

Pantai-pantai di sawarna adalah surganya para fotografer landscape. Fotografer mana yang ingin melewatkan air deras menerjang karang-karang indah berukuran raksasa, dengan latar semburat oranye mentari terbenam?
Saya sudah beberapa kali mengunjungi sawarna, dan sampai sekarang pun tak bosan. Selalu ada yang berbeda dari landskap sawarna.
Perjalanan menuju sawarna juga tak kalah indah. Rute biasa adalah melewati pelabuhan ratu ke arah Bayah dan berbelok di desa Sawarna.
Saran saya, lanjutkan ke arah bayah untuk memutar lewat Malingping. Jika lewat sana, kita akan melewati pesisir bantai banten selatan yang sangat memanjakan mata. Tak usah heran jika kita akan banyak berhenti untuk sekedar berfoto.
Saya pun menobatkan pantai Sawarna sebagai pantai paling fotogenik di Banten versi saya pribadi. Hands down.
Thanks for reading!
@wiranurmansyah – Sawarna is still the best slow shuttered-able beach.







Travel Tips
- Rute normal ke Sawarna (jalan mulus) adalah Sukabumi – Pelabuhan Ratu – Bayah – Sawarna. Jika menggunakan kendaraan umum, lebih baik sampai di pelabuhan ratu sebelum jam 12. Karena elf ke Sawarna langsung kesana hanya satu buah dan berangkat sekitar jam 12. Jika tidak, maka kita harus naik elf yang ke Bayah untuk menyambung dengan Ojek, yang tentunya lebih mahal.
- Rute lewat Serang – Pandeglang – Malingping – Bayah – Sawarna lebih dekat, tetapi pemandangan pesisir jauh lebih menarik.
- Sawarna sudah banyak sekali homestay yang bermacam-macam dari dengan harga yang cukup terjangkau karena biasanya rumah dari warga sendiri. Harganya rata-rata 100 ribu sudah makan 3x. Pilih yang dekat pantai agar berjalan lebih dekat
- Jika ingin camping dengan tenda di batu layar, ada fasilitas MCK di batu layar sehingga tak perlu ‘gali lubang’.
- Sebaiknya gunakan guide setempat jika ingin menyusuri tempat-tempat menarik di sawarna, karena jalannya agak sulit.
Semua foto adalah koleksi pribadi. ©wiranurmansyah.com
Leave a Reply to Terios 7 Wonders : Sawarna – A (maybe not so) hidden paradiseCancel reply